
Kenali 7 kesalahan skincare remaja yang bisa bikin jerawat makin parah, mulai dari over-skincare, terlalu sering cuci muka, hingga memencet jerawat.
Punya skincare lebih banyak belum tentu bikin kulit remaja lebih sehat. Justru kalau terlalu banyak mencoba produk dan bahan aktif, terutama tanpa memperhatikan kebutuhan kulit, jerawat bisa semakin rewel.
Mommies mungkin pernah melihat si remaja mulai tertarik dengan skincare karena jerawat. Awalnya cuma facial wash, lalu tambah toner, serum, exfoliating serum, acne spot treatment, masker, sampai produk viral yang katanya bisa bikin jerawat kempes dalam semalam.
Masalahnya, kulit bukannya semakin membaik, malah jadi merah, kering, perih, atau breakout di mana-mana. Akhirnya, bingung mana produk yang sebenarnya cocok dan mana yang justru bikin masalah baru.
Jerawat memang umum terjadi pada masa remaja. Saat memasuki masa pubertas, perubahan hormon dapat membuat kulit menjadi lebih berminyak dan memicu munculnya jerawat. American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut sekitar 85% orang mengalami acne pada masa remaja.
Jadi, kalau si Kecil sedang berjuang dengan jerawat, bukan berarti dia harus menggunakan skincare sebanyak mungkin. Yang lebih penting justru membangun rutinitas yang sederhana, lembut, dan konsisten.
Kalau Mommies sedang mencari produk yang bisa digunakan untuk kulit remaja berjerawat, bisa baca juga 7 Rekomendasi Skincare untuk Remaja Acne-Prone, Bantu Kurangi Jerawat Secara Bertahap.

Skincare memang bisa membantu merawat kulit acne-prone. Namun, cara penggunaan dan pemilihan produknya juga sama pentingnya.
Berikut beberapa kesalahan skincare remaja yang sebaiknya Mommies bantu ingatkan kepada anak.
Ini salah satu kesalahan yang cukup mudah terjadi ketika remaja mulai mengenal skincare.
Hari ini memakai salicylic acid, besok mencoba exfoliating serum, malamnya memakai acne treatment, lalu ditambah produk lain karena melihat rekomendasi di media sosial.
Harapannya jerawat cepat hilang. Kenyataannya, kulit malah bisa terasa kering, perih, mengelupas, atau semakin merah.
Dermatolog dari American Academy of Dermatology (AAD) menyarankan agar orang dengan acne tidak terlalu sering mencoba pengobatan atau produk baru. Mengganti produk terlalu cepat dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan breakout.
Tips untuk Mommies: tidak perlu mengejar semua bahan aktif sekaligus. Mulai dari rutinitas basic skincare yang sederhana dan tambahkan produk treatment secara bertahap bila memang dibutuhkan.
“Wajahku berminyak banget, berarti harus sering dicuci, dong?”
Belum tentu.
Karena takut wajah semakin berminyak, sebagian remaja bisa mencuci muka berkali-kali dalam sehari. Padahal, terlalu sering mencuci wajah atau menggunakan produk pembersih yang terlalu keras justru dapat membuat kulit teriritasi.
AAD merekomendasikan mencuci wajah dengan lembut hingga dua kali sehari dan setelah berkeringat, menggunakan pembersih yang lembut dan tidak abrasif.
Jadi, wajah berminyak bukan berarti harus “dikesatkan” terus-menerus, ya, Mommies.
Kulit yang sedang berjerawat justru membutuhkan perawatan yang gentle agar tidak semakin teriritasi.
Ini juga masih sering terjadi.
Ada yang berpikir kalau wajah terasa “kesat” setelah scrub berarti kotoran dan minyak sudah terangkat maksimal. Padahal, jerawat bukan sesuatu yang bisa dihilangkan hanya dengan menggosok wajah lebih keras.
AAD secara khusus mengingatkan bahwa scrubbing dapat mengiritasi kulit dan membuat acne menjadi lebih buruk. Bahkan, blackhead bukan sekadar kotoran yang bisa dihilangkan dengan menggosok wajah.
Jadi, kalau si Kecil masih suka menggunakan scrub dengan tekanan yang cukup kuat, coba ingatkan untuk lebih gentle saat membersihkan wajah.
Tidak perlu sampai wajah terasa “kesat banget” untuk merasa bersih.
“Cuma satu kok jerawatnya. Pencet sedikit aja.”
Dan biasanya… besoknya malah jadi lebih merah.
Kebiasaan memencet jerawat memang sulit dihindari, apalagi ketika ada jerawat yang terlihat jelas di wajah. Namun, memencet atau mengorek jerawat dapat memperparah peradangan dan meningkatkan risiko munculnya bekas jerawat.
AAD menyebutkan bahwa memencet atau meremas jerawat dapat mendorong isi jerawat lebih dalam ke kulit, meningkatkan peradangan, serta meningkatkan risiko terbentuknya bekas luka.
Jadi, daripada sibuk mencari cara memencet jerawat tanpa meninggalkan bekas, lebih baik bantu anak membangun kebiasaan hands off.
Kalau jerawat terasa dalam, besar, dan sakit, jangan dipaksa keluar sendiri. Kondisi seperti ini sebaiknya diperiksa oleh dokter kulit.
Hari ini ada tren skin cycling. Besok ada produk viral lain. Minggu depan muncul lagi “hack” baru untuk membuat jerawat cepat kering.
Tidak ada salahnya mengikuti perkembangan skincare, tetapi bukan berarti semua tren harus dicoba.
AAD mengingatkan bahwa terlalu sering mencoba produk atau treatment baru dapat mengiritasi kulit dan membuat acne terlihat semakin buruk. Penggunaan produk eksfoliasi secara berlebihan juga dapat menjadi masalah, terutama jika kulit belum terbiasa.
Apalagi kulit setiap orang berbeda.
Produk yang terlihat cocok di wajah seorang influencer belum tentu memberikan hasil yang sama pada kulit remaja Mommies.
Kalau anak tertarik mencoba produk viral, biasakan untuk mengecek kandungannya terlebih dahulu dan tidak langsung menambahkan banyak produk baru dalam waktu bersamaan.
BACA JUGA: Sunscreen Untuk Remaja Rentan Berjerawat atau Acne-Prone
“Kan kulitku oily dan jerawatan, kenapa harus pakai moisturizer?”
Nah, ini juga perlu diluruskan.
Kulit acne-prone tetap membutuhkan kelembapan. Bahkan, penggunaan beberapa produk untuk mengatasi jerawat dapat membuat kulit terasa kering atau teriritasi.
AAD menjelaskan bahwa moisturizer dapat membantu kulit yang terasa kering dan merekomendasikan produk dengan label seperti oil-free, non-comedogenic, atau won’t clog pores untuk membantu mengurangi kemungkinan menyumbat pori.
Jadi, moisturizer bukan musuh kulit berminyak.
Yang penting adalah memilih produk dengan formula yang sesuai dengan kondisi kulit.
Ini mungkin salah satu kesalahan skincare remaja yang paling bikin gemas.
Baru tiga hari menggunakan produk, jerawat belum hilang.
“Hmmm, kayaknya nggak cocok.”
Akhirnya ganti produk.
Padahal, perawatan jerawat memang membutuhkan waktu. AAD menyebutkan bahwa seseorang perlu memberikan waktu sekitar 6–8 minggu untuk melihat adanya perbaikan dari perawatan acne tertentu, sedangkan kulit yang lebih bersih secara keseluruhan bisa membutuhkan waktu beberapa bulan.
Bukan berarti setiap produk harus terus digunakan meski kulit mengalami reaksi yang tidak wajar, ya. Kalau muncul iritasi berat atau keluhan yang mengkhawatirkan, hentikan penggunaan dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Namun, kalau hanya karena jerawat belum langsung hilang dalam beberapa hari, jangan buru-buru menyimpulkan produk tersebut gagal.

Kalau Mommies merasa rutinitas skincare anak sudah mulai seperti rak skincare di toko kosmetik, mungkin ini saatnya kembali ke basic.
Untuk banyak remaja, rutinitas sederhana bisa menjadi titik awal yang lebih masuk akal, terutama jika kondisi jerawatnya masih ringan dan belum membutuhkan perawatan khusus dari dokter.
Pagi:
Malam:
Tidak semua remaja membutuhkan toner, essence, serum, exfoliator, sleeping mask, dan berbagai produk lainnya sekaligus.
Yang penting adalah menyesuaikan produk dengan kebutuhan kulit dan menggunakannya secara konsisten.
AAD juga menekankan pentingnya rutinitas skincare yang gentle untuk kulit acne-prone dan memilih produk yang tidak menyumbat pori.
Jerawat pada remaja bukan hanya soal kulit.
Bagi sebagian anak, jerawat bisa membuat mereka merasa minder, tidak percaya diri saat bertemu teman, bahkan enggan difoto. Penelitian juga mencatat bahwa jerawat dapat memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi emosional seseorang.
Karena itu, ketika melihat skincare anak mulai berlebihan, mungkin pendekatannya bukan dengan mengatakan, “Kamu kebanyakan skincare!”
Coba ajak ngobrol.
Tanyakan apa yang sebenarnya membuat mereka khawatir dengan kulitnya. Bisa jadi mereka bukan sekadar ingin punya kulit “glowing”, tetapi sedang berusaha merasa lebih percaya diri di lingkungan pertemanan.
Dengan begitu, skincare bisa menjadi bagian dari kebiasaan merawat diri, bukan tekanan untuk memiliki kulit sempurna.
BACA JUGA: Jangan Diabaikan! Ini 13 Tanda Tubuh Kebanyakan Gula, Mudah Lelah hingga Kulit Berjerawat
Mommies juga tidak perlu menunggu sampai kondisi jerawat semakin berat untuk mencari bantuan.
Jika jerawat terasa nyeri, muncul benjolan yang dalam, meninggalkan bekas luka, semakin parah, atau tidak kunjung membaik meski sudah menjalani perawatan dengan konsisten, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kulit.
AAP menjelaskan bahwa acne memiliki pilihan terapi yang beragam, termasuk obat topikal maupun terapi lain sesuai tingkat keparahannya. Untuk kondisi tertentu, dokter dapat menentukan kombinasi pengobatan yang paling sesuai.
Penanganan lebih awal juga dapat membantu mengurangi risiko jerawat berkembang menjadi lebih berat dan meninggalkan bekas.
Boleh. Namun, pilih produk yang sesuai dengan kondisi kulit dan tidak perlu menggunakan terlalu banyak produk sekaligus. Basic skincare yang sederhana bisa menjadi awal yang baik.
Tidak. Terlalu sering mencuci wajah atau menggunakan produk yang terlalu keras dapat mengiritasi kulit. AAD menyarankan membersihkan wajah dengan lembut hingga dua kali sehari dan setelah berkeringat.
Perubahan tidak biasanya terjadi dalam hitungan beberapa hari. AAD menyebutkan sekitar 6–8 minggu sebagai waktu untuk melihat adanya perbaikan dari perawatan acne tertentu.
Sebaiknya tidak. Memencet atau mengorek jerawat dapat meningkatkan peradangan dan risiko bekas jerawat.
Ya. Moisturizer dapat membantu menjaga kelembapan kulit, terutama ketika kulit terasa kering akibat perawatan jerawat. Pilih produk dengan label seperti oil-free atau non-comedogenic.
Mommies, kalau anak sedang mengalami jerawat, wajar kalau mereka ingin mencari cara supaya kulit cepat kembali bersih. Apalagi ketika media sosial setiap hari menampilkan produk baru yang menjanjikan kulit mulus dalam waktu singkat.
Namun, skincare bukan perlombaan siapa yang punya produk paling banyak.
Justru, salah satu cara merawat kulit acne-prone adalah menghindari rutinitas yang terlalu agresif. Jangan terlalu sering gonta-ganti produk, jangan menggosok wajah keras-keras, jangan memencet jerawat, dan jangan merasa harus mencoba semua tren skincare yang lewat di media sosial.
Kalau masih bingung, kembali saja ke basic: bersihkan wajah dengan lembut, jaga kelembapan kulit, gunakan sunscreen, dan pilih treatment sesuai kebutuhan.
Dan yang tidak kalah penting, ingatkan si Kecil bahwa punya jerawat bukan berarti kulitnya “jelek”. Jerawat adalah kondisi kulit yang sangat umum pada masa remaja dan bisa ditangani.
Jadi, daripada sibuk mengejar kulit yang sempurna, yuk bantu anak membangun kebiasaan skincare yang sehat dan realistis. Karena tujuan skincare bukan membuat mereka terlihat sempurna, tetapi membantu mereka merasa nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri.
Cover: Magnific