
Jerawat remaja tak kunjung hilang? Kenali 8 kebiasaan sehari-hari yang bisa memperburuk jerawat dan cara membantu anak merawat kulitnya.
Memasuki usia remaja, ada satu “teman” yang rasanya sering datang tanpa diundang: jerawat. Muncul satu, belum sempat hilang, sudah muncul lagi di sebelahnya. Belum lagi kalau anak mulai merasa kurang percaya diri karena kondisi kulitnya.
Sebagai orang tua, kita mungkin sudah mengingatkan anak untuk rajin mencuci wajah atau tidak memencet jerawat. Tapi, Mommies dan Daddies, ternyata ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari bisa membuat jerawat semakin mudah muncul atau sulit membaik.
Jadi, kalau jerawat remaja tak kunjung hilang, mungkin sudah waktunya melihat rutinitas anak secara keseluruhan. Bukan untuk menyalahkan, ya, tetapi supaya kita bisa membantu mereka menemukan kebiasaan yang lebih ramah untuk kulit.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Skincare untuk Remaja Acne-Prone, Bantu Kurangi Jerawat Secara Bertahap
Berikut beberapa kebiasaan yang perlu diperhatikan karena pada sebagian remaja, hal-hal sederhana ini bisa ikut membuat jerawat lebih mudah muncul, semakin meradang, atau lebih sulit membaik.
Coba perhatikan, apakah anak punya kebiasaan memegang pipi, mengusap dahi, menopang dagu dengan tangan, atau iseng menyentuh jerawat?
Kelihatannya sepele, tetapi tangan kita bersentuhan dengan banyak benda sepanjang hari. Ketika tangan yang belum tentu bersih sering menyentuh wajah, kotoran, minyak, dan berbagai mikroorganisme dapat ikut berpindah ke kulit.
Belum lagi kalau anak sering memainkan atau memencet jerawat. Bukannya cepat hilang, jerawat justru bisa semakin meradang dan berisiko meninggalkan bekas.
Jadi, salah satu kebiasaan sederhana yang bisa mulai dikurangi adalah menyentuh wajah tanpa alasan.

Karena ingin wajah bebas minyak dan jerawat, sebagian remaja mungkin berpikir bahwa semakin sering mencuci wajah, semakin baik.
Padahal, tidak selalu begitu.
Membersihkan wajah memang penting, tetapi mencuci terlalu sering atau menggosok kulit terlalu keras bisa membuat kulit mengalami iritasi dan terasa kering. Kondisi ini justru dapat membuat kulit semakin tidak nyaman. Dermatolog juga menyarankan pembersihan wajah secara lembut dan menghindari kebiasaan menggosok kulit terlalu keras.
Ajak anak menggunakan pembersih wajah yang lembut dan membersihkan wajah secukupnya, terutama setelah beraktivitas atau berkeringat.
Dan satu lagi, tidak perlu menggosok wajah sampai terasa kesat banget. Kulit yang terasa kesat setelah mencuci wajah bukan berarti otomatis lebih bersih.
BACA JUGA: Sunscreen untuk Remaja Rentan Berjerawat atau Acne-Prone
“Sebentar lagi, Ma.”
Kalimat yang mungkin cukup sering kita dengar ketika meminta anak berhenti scrolling atau bermain gadget dan segera tidur.
Padahal, tidur yang cukup bukan cuma penting untuk membuat anak tidak mengantuk di sekolah. Kurang tidur juga dapat memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan, termasuk respons tubuh terhadap stres dan proses pemulihan kulit.
Pada usia remaja, kebutuhan tidur memang cukup tinggi. Karena itu, membangun rutinitas tidur yang lebih teratur tetap penting, termasuk membatasi aktivitas dengan gadget menjelang waktu tidur.
Jadi, kalau anak sering begadang sambil mengeluhkan jerawat yang tidak kunjung membaik, mungkin ini salah satu rutinitas yang bisa dievaluasi bersama.
Ini juga sering luput dari perhatian.
Sarung bantal bersentuhan langsung dengan wajah selama berjam-jam setiap malam. Minyak dari kulit dan rambut, keringat, sisa produk perawatan, serta kotoran bisa menempel di permukaannya.
Bukan berarti sarung bantal adalah penyebab utama jerawat, ya, Mommies. Jerawat sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor. Namun, menjaga kebersihan benda-benda yang sering menyentuh wajah tetap merupakan kebiasaan yang baik.
Jadi, pastikan sarung bantal dan seprai dicuci secara rutin. Kalau anak punya kebiasaan tidur setelah berkeringat atau rambutnya sangat berminyak, kebersihan perlengkapan tidur menjadi semakin penting untuk diperhatikan.
BACA JUGA: Jerawat di Hidung Bisa Berbahaya, Ini Risiko dan Cara Aman Mengatasinya
Anak aktif berolahraga atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler? Bagus banget. Namun, jangan lupa juga mengajarkan kebiasaan merawat kulit setelah berkeringat.
Keringat yang bercampur dengan minyak dan kotoran dapat membuat kulit terasa tidak nyaman. Karena itu, setelah olahraga atau aktivitas yang membuat tubuh banyak berkeringat, anak sebaiknya membersihkan diri dan wajah dengan cara yang lembut. Membersihkan wajah setelah aktivitas yang membuat berkeringat juga termasuk salah satu anjuran perawatan kulit untuk kulit yang berjerawat.
Yang perlu diingat, bukan berarti wajah harus langsung dicuci berkali-kali setiap kali berkeringat. Fokusnya adalah menjaga kebersihan kulit tanpa membuatnya teriritasi.

Di usia remaja, ketertarikan terhadap skincare dan makeup tentu merupakan hal yang wajar. Apalagi, sekarang anak-anak semakin mudah mendapatkan informasi mengenai produk kecantikan dari media sosial.
Tantangannya, tidak semua produk yang cocok untuk orang lain akan cocok juga untuk kulit anak.
Terlalu banyak mencoba produk sekaligus juga bisa membuat kita sulit mengetahui produk mana yang sebenarnya cocok atau justru menyebabkan iritasi. Mengganti-ganti produk perawatan terlalu sering juga dapat mengiritasi kulit dan membuat jerawat semakin sulit dikendalikan.
Untuk remaja yang mulai mengalami jerawat, rutinitas skincare sebaiknya tidak perlu terlalu rumit. Pembersih yang lembut, pelembap yang sesuai dengan kondisi kulit, serta sunscreen pada pagi dan siang hari umumnya menjadi dasar yang lebih masuk akal dibandingkan mengejar banyak produk sekaligus.
Dan jangan lupa, kalau anak menggunakan makeup, pilih produk yang sesuai untuk kulit berjerawat dan pastikan makeup dibersihkan sebelum tidur. Produk dengan keterangan non-comedogenic atau tidak menyumbat pori dapat menjadi pilihan untuk kulit yang mudah berjerawat.
BACA JUGA: 8 Perawatan Wajah untuk Kulit Berjerawat dan Manfaatnya
Nah, bagian ini mungkin sedikit tricky.
Jerawat tidak bisa begitu saja disimpulkan sebagai akibat makan cokelat, gorengan, atau makanan tertentu. Faktor penyebab jerawat cukup kompleks dan berbeda pada setiap orang.
Namun, pola makan secara keseluruhan tetap penting diperhatikan. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara jerawat dan pola makan dengan beban glikemik tinggi pada sebagian orang. Produk susu juga masih menjadi salah satu area yang terus diteliti terkait hubungannya dengan jerawat.
Jadi, daripada langsung melarang anak makan makanan tertentu, lebih baik ajak mereka membangun pola makan yang seimbang: cukup sayur dan buah, sumber protein, karbohidrat yang sesuai kebutuhan, serta membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula secara berlebihan.
Intinya bukan “jerawatan berarti tidak boleh makan ini dan itu”, ya, Mommies.
Remaja juga bisa stres. Bahkan, mungkin ada banyak hal yang bagi kita terlihat sederhana, tetapi terasa cukup berat bagi mereka.
Tugas sekolah, ujian, pertemanan, perubahan tubuh, ekspektasi orang tua, sampai tekanan dari media sosial bisa membuat anak mengalami stres.
Stres bukan penyebab tunggal jerawat, tetapi dapat berhubungan dengan memburuknya kondisi jerawat pada sebagian orang. Karena itu, kesehatan kulit sebaiknya tidak dilihat hanya dari apa yang digunakan di wajah.
Coba sesekali tanyakan, “Belakangan ini kamu lagi kepikiran apa?” tanpa buru-buru menghakimi atau memberikan solusi.
Kadang, anak memang hanya perlu tahu bahwa ada orang tua yang siap mendengarkan.
BACA JUGA: 10 Rekomendasi Produk untuk Hilangkan Jerawat Punggung dan Bekasnya

Mommies dan Daddies tidak perlu panik setiap kali melihat jerawat muncul di wajah anak. Jerawat memang sangat umum terjadi pada masa remaja karena perubahan hormonal dan faktor lain yang menyertainya. Pada masa pubertas, perubahan hormon dapat meningkatkan produksi minyak sehingga pori-pori lebih mudah tersumbat dan jerawat lebih mudah muncul.
Yang penting, bantu anak membangun kebiasaan perawatan kulit yang sederhana dan konsisten. Hindari kebiasaan memencet jerawat, jangan asal mencoba banyak produk, dan tetap perhatikan tidur, kebersihan, aktivitas fisik, pola makan, serta kondisi emosional anak.
Kalau jerawat terlihat semakin parah, terasa sakit, muncul banyak jerawat meradang atau bernanah, meninggalkan bekas luka, atau membuat anak merasa sangat terganggu dan tidak percaya diri, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter kulit. Penanganan lebih awal juga dapat membantu mengurangi risiko jerawat menjadi semakin parah dan meninggalkan bekas.
Karena pada akhirnya, tujuan merawat jerawat bukan sekadar membuat kulit anak mulus. Yang tidak kalah penting adalah membantu mereka merasa nyaman dengan diri mereka sendiri dan memahami bahwa kondisi kulit bukan sesuatu yang menentukan nilai diri mereka.
Dan mungkin ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan satu hal penting kepada anak: merawat diri bukan berarti harus memiliki kulit sempurna. Merawat diri berarti belajar memahami apa yang dibutuhkan tubuh dan memperlakukannya dengan baik.