Benarkah Autoimun Tidak Bisa Disembuhkan? Simak Fakta dan Cara Mengontrolnya!

Self

RachelKaloh・in 6 hours

detail-thumb

Kalau benar autoimun tidak bisa disembuhkan secara total, lalu penanganan seperti apa yang bisa dilakukan? Simak penjelasan berikut ini!

Menurut data di seluruh dunia, penyakit autoimun kian menunjukan peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, semakin banyak terjadi di usia muda. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahkan di Indonesia sendiri, penderita penyakit ini diperkirakan lebih dari 2,5 juta orang. Apa, sih, sebenarnya yang terjadi pada tubuh saat mengalami autoimun, dan penanganan seperti apa yang bisa dilakukan?

Perempuan Lebih Rentan Alami Autoimun

Penyakit autoimun paling banyak ditemukan pada perempuan usia 15-44 tahun. Data dari Global Autoimmune Institute, 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78% dari individu yang mengidap autoimun adalah perempuan. Selain karena perbedaaan biologis antar gender, kecenderungan ini juga terkait keberadaan kromosom X tambahan, fluktuasi hormonal (khususnya estrogen), fungsi reproduksi, dan respons imun yang berbeda pada perempuan dibanding laki-laki.

Tentang Autoimun

Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi, justru menyerang sel dan jaringan sehat. Hingga kini, ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang telah teridentifikasi. Sebagian di antaranya menyerang organ tertentu, sementara sebagian lainnya bersifat sistemik dan mempengaruhi berbagai organ tubuh sekaligus, termasuk kulit, sendi, paru-paru, usus, saraf, dan kelenjar tiroid. Jika tidak dikendalikan, dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan organ permanen (misalnya ginjal pada lupus atau saraf pada multiple sclerosis), peningkatan risiko penyakit jantung, hingga gangguan kehamilan seperti keguguran. Dampak psikologis juga kerap terjadi; banyak pasien menghadapi kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup.

Faktor Penyebab Autoimun

Penyakit ini tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Penyebabnya sangat beragam dan seringkali merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, serta kondisi tubuh seseorang. Risiko autoimun diketahui lebih tinggi pada perempuan usia produktif, terutama bila terdapat riwayat keluarga dengan autoimun. Beberapa faktor lain juga ikut berperan, seperti:

  • Infeksi dan stress yang berkepanjangan
  • Ketidakseimbangan hormon, serta paparan polusi atau zat kimia tertentu termasuk asap rokok
  • Pola makan yang kurang seimbang dan gaya hidup yang tidak sehat, yang dapat memperburuk respons sistem imun dan memicu peradangan dalam tubuh.

Tanda dan Gejala Autoimun

Tanda-tandanya juga bisa sangat berbeda pada setiap orang, karena penyakit ini menyerang organ tubuh yang berbeda. Namun, beberapa keluhan yang paling sering muncul, antara lain:

  • Kelelahan berat yang tidak kunjung pulih
  • Nyeri atau bengkak pada sendi
  • Ruam kulit atau sensitivitas berlebihan terhadap sinar matahari
  • Gangguan pencernaan yang berulang
  • Demam berulang tanpa penyebab yang jelas

Sering kali, gejala-gejala tersebut kerap dianggap keluhan kesehatan biasa sehingga banyak pasien yang datang ketika kondisinya sudah kronis. Maka, bila keluhan tersebut mulai dialami, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter. 

Penananganan yang dilakukan pada penyakit autoimun

Setelah mendapatkan diagnosis, dokter akan menentukan penanganan sesuai dengan jenis autoimun, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Penanganan yang dilakukan mencakup:

  • Pola makan
  • Obat untuk mengendalikan peradangan
  • Imunoterapi
  • Terapi plasma exchange (pada kondisi tertentu)

Tujuan penanganan ini bukan sekadar meredakan gejala, tetapi menstabilkan sistem imun agar pasien dapat kembali menjalani aktivitas dengan nyaman.

Perubahan pola hidup punya peran besar pada pasien autoimun

Selain penanganan secara medis, perubahan gaya hidup juga sangat perlu dilakukan pada pasien autoimun. Dari istirahat cukup, olahraga teratur, manajemen stres, dan kepatuhan dalam menjalani terapi telah terbukti membantu menjaga stabilitas jangka panjang. Selain itu, pendampingan psikologis dan edukasi keluarga juga berkontribusi besar, mengingat perjalanan penyakit autoimun ini bersifat kronis dan membutuhkan dukungan emosional. 

Dapatkah pasien autoimun sembuh total?

Pada dasarnya, penyakit autoimun memiliki sifat flare-up, yaitu bisa kambuh saat pasien dipicu stres, infeksi dan kelelahan, tetapi pasien juga bisa mengalami remisi atau keadaan membaik; peradangan mereda, gejala tidak lagi dirasakan, dan hasil laboratorium menunjukkan aktivitas penyakit yang sangat rendah atau nonaktif. Jadi, meski belum bisa disembuhkan secara total hingga saat ini, namun autoimun sangat bisa dikontrol dan dikelola dengan baik sehingga pengidap penyakit ini tetap dapat hidup normal, aktif, dan bebas gejala. 

Jadi Mommies, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama kita yang saat ini masih berada di usia produktif. Jika mengalami gejala yang berkepanjangan, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih awal, ya!

Baca juga: Bangun Tidur Tetap Capek? Ini 10 Penyebab yang Sering Tidak Disadari