
Kalau benar autoimun tidak bisa disembuhkan secara total, lalu penanganan seperti apa yang bisa dilakukan? Simak penjelasan berikut ini!
Menurut data di seluruh dunia, penyakit autoimun kian menunjukan peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, semakin banyak terjadi di usia muda. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahkan di Indonesia sendiri, penderita penyakit ini diperkirakan lebih dari 2,5 juta orang. Apa, sih, sebenarnya yang terjadi pada tubuh saat mengalami autoimun, dan penanganan seperti apa yang bisa dilakukan?
Penyakit autoimun paling banyak ditemukan pada perempuan usia 15-44 tahun. Data dari Global Autoimmune Institute, 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78% dari individu yang mengidap autoimun adalah perempuan. Selain karena perbedaaan biologis antar gender, kecenderungan ini juga terkait keberadaan kromosom X tambahan, fluktuasi hormonal (khususnya estrogen), fungsi reproduksi, dan respons imun yang berbeda pada perempuan dibanding laki-laki.
Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari infeksi, justru menyerang sel dan jaringan sehat. Hingga kini, ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang telah teridentifikasi. Sebagian di antaranya menyerang organ tertentu, sementara sebagian lainnya bersifat sistemik dan mempengaruhi berbagai organ tubuh sekaligus, termasuk kulit, sendi, paru-paru, usus, saraf, dan kelenjar tiroid. Jika tidak dikendalikan, dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan organ permanen (misalnya ginjal pada lupus atau saraf pada multiple sclerosis), peningkatan risiko penyakit jantung, hingga gangguan kehamilan seperti keguguran. Dampak psikologis juga kerap terjadi; banyak pasien menghadapi kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup.
Penyakit ini tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Penyebabnya sangat beragam dan seringkali merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, serta kondisi tubuh seseorang. Risiko autoimun diketahui lebih tinggi pada perempuan usia produktif, terutama bila terdapat riwayat keluarga dengan autoimun. Beberapa faktor lain juga ikut berperan, seperti:
Tanda-tandanya juga bisa sangat berbeda pada setiap orang, karena penyakit ini menyerang organ tubuh yang berbeda. Namun, beberapa keluhan yang paling sering muncul, antara lain:
Sering kali, gejala-gejala tersebut kerap dianggap keluhan kesehatan biasa sehingga banyak pasien yang datang ketika kondisinya sudah kronis. Maka, bila keluhan tersebut mulai dialami, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter.
Setelah mendapatkan diagnosis, dokter akan menentukan penanganan sesuai dengan jenis autoimun, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Penanganan yang dilakukan mencakup:
Tujuan penanganan ini bukan sekadar meredakan gejala, tetapi menstabilkan sistem imun agar pasien dapat kembali menjalani aktivitas dengan nyaman.
Selain penanganan secara medis, perubahan gaya hidup juga sangat perlu dilakukan pada pasien autoimun. Dari istirahat cukup, olahraga teratur, manajemen stres, dan kepatuhan dalam menjalani terapi telah terbukti membantu menjaga stabilitas jangka panjang. Selain itu, pendampingan psikologis dan edukasi keluarga juga berkontribusi besar, mengingat perjalanan penyakit autoimun ini bersifat kronis dan membutuhkan dukungan emosional.
Pada dasarnya, penyakit autoimun memiliki sifat flare-up, yaitu bisa kambuh saat pasien dipicu stres, infeksi dan kelelahan, tetapi pasien juga bisa mengalami remisi atau keadaan membaik; peradangan mereda, gejala tidak lagi dirasakan, dan hasil laboratorium menunjukkan aktivitas penyakit yang sangat rendah atau nonaktif. Jadi, meski belum bisa disembuhkan secara total hingga saat ini, namun autoimun sangat bisa dikontrol dan dikelola dengan baik sehingga pengidap penyakit ini tetap dapat hidup normal, aktif, dan bebas gejala.
Jadi Mommies, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama kita yang saat ini masih berada di usia produktif. Jika mengalami gejala yang berkepanjangan, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih awal, ya!
Baca juga: Bangun Tidur Tetap Capek? Ini 10 Penyebab yang Sering Tidak Disadari