Wahyu Wiwoho: Saya Amat Hati-Hati dengan Overparenting yang Malah Bisa Membahayakan Anak!

Dad's Corner

Rahmasari Muhammad・in 6 hours

detail-thumb

Wahyu Wiwoho berbagi pandangan soal overparenting, tantangan menjadi ayah, dan cara mendorong anak mandiri tanpa terlalu banyak campur tangan.

Banyak orang mengenal Wahyu Wiwoho melalui kiprah profesionalnya selama puluhan tahun di dunia broadcasting dan komunikasi, dan hingga kini masih aktif sebagai Master of Ceremony (MC), Moderator, Fasilitator, Pembicara di berbagai training dan seminar, juga seorang Entrepreneur.

Namun lebih dari itu, Wahyu yang berusia 44 tahun adalah seorang suami dari Astrid Listuhayu, dan ayah dari tiga orang anak, Chaitra M. Wiwoho (17), Shenoa K. Wiwoho (12), dan Anaqi M. Wiwoho (7). Saat interview dengan Mommies Daily, Wahyu berbagi banyak hal soal pengasuhan, termasuk tantangan, biggest concern, dan kecemasan terbesarnya sebagai seorang ayah dari tiga anak, serta cara mengatasinya. Wahyu juga membagikan tips dalam berkomunikasi ke anak pra-remaja dan remaja yang menarik diketahui, termasuk pandangannya tentang dampak overparenting terhadap kemandirian anak.

BACA JUGA: Kuis Gaya Parenting: Gentle, Strict, atau Chaotic Good?

Apa Issue seputar pengasuhan atau keluarga yang jadi biggest concern?

Gue concern banget soal overparenting. Contohnya, di sekolah anak kedua, ada permintaan dari sejumlah orang tua murid saat anak naik kelas, gurunya juga ikut “naik kelas”. I’m against that idea, rasanya gak perlu campur tangan orang tua sampai ke ruang kelas. Justru anak perlu belajar adaptasi dan agility, jadi terlatih dan punya kemampuan untuk menghadapi kondisi yang berbeda-beda.

Case lain, terjadi sama anak gue yang baru kuliah. Ternyata ada WhatsApp Group orang tua murid, yang obrolannya gak hanya tentang persiapan MABA, tapi juga membahas hal-hal yang harusnya bisa diselesaikan anak secara mandiri, misalnya soal minuman anak atau apakah anak perlu pakai tabir surya untuk acara di kampus. Bahkan ada orang tua yang sampai masuk ruangan kampus, untuk nungguin atau foto-foto kegiatan anak.

Saat mahasiswa mau demo, banyak juga orang tua yang protes dan melarang anaknya ikut, sementara gue justru encourage anak, agar dia belajar caranya handling situasi dan peka dengan kondisi sekitar, dimulai dari demo yang skalanya kecil.

Ada satu buku How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kid for Success by Julie Lythcott-Haims, yang membahas fenomena overparenting. Menariknya, buku ini ditulis oleh mantan Dean of Freshmen Stanford berdasarkan pengalaman pribadinya, karena banyak mahasiswanya yang susah mandiri dan harus selalu dibantu orang tua.

Tentunya ini jadi reminder penting buat gue dan Astrid dalam membesarkan anak, bahwa pengawasan itu perlu, tapi gak perlu juga berlebihan, yang malah bisa membahayakan dan menghambat kemampuan anak.

Overparenting

Apa kekhawatiran terbesar sebagai Ayah, dan bagaimana cara mengatasinya?

Ketinggalan banyak update tentang membesarkan anak, dan dalam menjalankan peran sebagai ayah dan suami, dengan pola yang relevan, dan sesuai dengan kondisi sekarang. Inginnya juga bisa hadir utuh di setiap kesempatan dan aktivitas anak-anak.

Untuk menjaga agar tetap update, gue sering bertanya sama Astrid dan guru-guru di sekolah anak-anak, misalnya tentang dinamika anak di sekolah, supaya gak salah ambil tindakan atau kesimpulan.

Siapa support system terbaik yang bikin kamu bisa menjalankan peran sebagai seorang profesional, suami dan ayah dari tiga anak?

Pastinya istri gue, Astrid dan anak-anak, juga orang tua gue, dalam perjalanan “long life learning” sebagai orang tua, yang bakal seumur hidup dijalani.

I always looked up to my parents, mempelajari pola pikir, dan cara mereka, sekaligus observasi apakah applicable atau gak untuk gue terapkan ke anak-anak.

Pola asuh apa dari orang tua yang ingin diteruskan, dan yang gak ingin diteruskan ke anak?

Gue bukan tipe orang yang highlighting kesalahan orang tua, karena gue yakin semua hal ada sisi positif dan negatifnya. Contoh, Bapak gue sibuk seperti kebanyakan ayah di jamannya, jarang ngobrol sama anak. Tapi, di balik perilaku itu, pasti ada alasan dan aspek baiknya, misalnya jadi ada batasan orang tua dan anak, yang membuat anak lebih respect juga.

Jadi, cara pengasuhan orang tua gue, yang sering disebut “gaya VOC” atau colonial gue turunkan ke anak, tapi tentunya dengan modifikasi, agar lebih relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan anak.

Anak zaman sekarang ‘kan sering disebut bermental lemah, atau gak tahan banting, gue berharap anak-anak gue gak seperti itu dan bisa lebih resiliens dengan modifikasi parenting yang gue dan Astrid terapkan.

BACA JUGA: Gentle Parenting atau Strict Parenting? Psikolog Ungkap Kelebihan dan Kekurangannya

Wahyu ingin dilihat anak-anak sebagai sosok ayah dan manusia yang bagaimana?

Bisa hadir sebagai ayah dan ibu, serta di saat yang sama, bisa ngobrol sama anak sebagai teman, yang cukup sulit menjalankan berbagai peran tersebut. Karena anak pertama dan kedua gue perempuan, gue berharap mereka tetap nyaman dan nyambung kalau cerita sama ayahnya, walaupun berbeda gender.

Gue dan istri juga punya kebiasaan menjemput dan mengantar anak sekolah, karena di saat itulah terciptalah momen ngobrol yang berharga dan gak bisa digantikan di rumah. Begitu anak keluar sekolah, masuk mobil anak masih “fresh” untuk diajak ngobrol, gali info, tanya-tanya seputar dirinya, teman-temannya dan update kehidupan mereka.

Apa tantangan terbesar jadi ayah dari tiga orang anak yang usia dan fasenya berbeda, anak-anak, pra-remaja dan remaja?

Emang seru dan menantang banget, sih! Ternyata, fase transisi dari anak-anak ke pra-remaja, remaja, dan dewasa muda itu gak sama buat tiap anak.

Perlu banget liat personality traits dari masing-masing anak, karena mereka itu individu yang berbeda dan itu perlu gue pelajari sebagai seorang ayah. Otomatis, kalau lebih paham karakter tiap anak, akan lebih mudah juga untuk pendekatannya.

Pelajaran atau reminder apa yang paling berharga sejak jadi ayah?

Belajar dan ingat untuk bertanggungjawab, apapun kebutuhan, issue dan tantangan keluarga yang perlu dihadapi dan diselesaikan. Gak bisa egois, cuma ingat diri sendiri, karena apapun yang gue putuskan dan lakukan, perlu mempertimbangkan keluarga, istri dan anak-anak.

Skill dan ilmu penting apa yang perlu dimiliki seorang ayah?

Sebenarnya banyak banget, ya, tapi kalau yang paling penting buat gue adalah being flexible. Bisa menjalankan peran yang berbeda-beda, mampu masuk ke dunia anak, bisa jadi orang tua, jadi kepala keluarga, bisa juga di posisi anak-anak, dan juga paham dunia anak-anak perempuan.

Karena sudut pandang, spektrum, imajinasi, perasaan anak bisa beda banget sama orang dewasa, dan sebagai orang tua, perlu banget kemampuan menempatkan diri di sudut pandang anak.

Punya pesan apa buat para ayah yang juga sibuk atau punya multiperan?

Luangkan waktu. Ini yang gue rasakan sejak punya anak, 18 tahun lalu. Gue ingat waktu anak pertama masih kecil dan lagi sibuk-sibuknya di dunia media dengan jam kerja yang panjang, sampai kunci pintu karena kelelahan dan butuh istirahat, padahal di saat yang sama anak gue lagi butuh banget main dan interaksi sama ayahnya.

Ternyata, makin ke sini makin sadar kalau hal itu gak bisa dilakukan dan secapek-capeknya kita, anak-anak lebih butuh kita sebagai orang tua mereka.

Apa tips mengatur waktu supaya hidup tetap (agak) balance?

Tantangan terbesar seputar mengatur waktu yang gue rasakan adalah bagaimana caranya bisa adil sama ketiga anak, yang beda banget kebutuhannya. Jadi mengusahakan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa memprioritaskan salah satu anak.

Cara gue, interaksi dengan anak yang besar dan kecil durasinya sama, contohnya satu jam, tapi jenis interaksinya yang beda. Misalnya sama anak yang besar bisa nonton bareng atau duduk samping-sampingan main HP untuk jalin bonding, sementara dengan yang kecil bisa main bareng.

Sebagai seorang Communication Specialist, apa tips berkomunikasi ke anak pra-remaja dan remaja versi Wahyu?

1. Banyak mendengar

Orang tua perlu bersabar untuk mendengar cerita dan keluhan anak. Ini juga bisa jadi contoh baik buat anak untuk belajar “active listening”, karena komunikasi itu bukan hanya ilmu berbicara, tapi juga ilmu mendengar.

2. Pelajari cara komunikasi dan “love language” anak

Tiap anak punya kebutuhan dan cara berbeda, jadi perlu menggunakan pendekatan berbeda agar komunikasi ke tiap anak lebih lancar. Contohnya, anak gue ada yang lebih suka cerita naratif, sementara anak lainnya lebih prefer melalui sentuhan atau aksi, tanpa kata-kata.

3. Minimalisasi Generation Gap

Kenalkan dan ngobrol sama anak tentang berbagai kebiasaan yang melekat pada generasi orang tuanya, dan kita juga perlu kenal tren di generasi anak-anak, jadi ada pemahaman bersama yang bisa mencegah anak terjebak pada isu lintas generasi di luar rumah, sekolah dan dunia kerja nantinya.

Anak juga jadi belajar menerima perbedaan, menghargai proses, fleksibel, adaptif dan paham kebiasaan, karakter, kepribadian, kelemahan dan kelebihan yang melekat di setiap generasi, yang bisa mempermudah proses berinteraksi dan berkomunikasi mereka dengan orang lain.

BACA JUGA: 10 Rekomendasi Buku Parenting dan Keluarga yang Bikin Lebih Paham Jadi Orang Tua

Dari cerita Wahyu, menjadi orang tua bukan berarti harus selalu turun tangan menyelesaikan semua hal untuk anak. Justru, salah satu bagian penting dalam pengasuhan adalah memberi ruang agar anak belajar mandiri, beradaptasi, dan menghadapi berbagai situasi dengan kemampuannya sendiri.

Kekhawatiran soal overparenting memang wajar, apalagi sebagai orang tua kita tentu ingin melindungi anak dari kesulitan dan kesalahan. Namun seperti yang diingatkan Wahyu, pengawasan tetap perlu, hanya jangan sampai berlebihan dan overparenting sehingga menghambat anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, fleksibel, dan mampu menghadapi dunia.