banner-detik
PARENTING & KIDS

Picky Eater dan Selective Eater, Ini Bedanya yang Perlu Orang Tua Tahu

author

Katharina Mengein 6 hours

Picky Eater dan Selective Eater, Ini Bedanya yang Perlu Orang Tua Tahu

Picky eater dan selective eater berbeda. Kenali ciri, perbedaan, dan kapan anak perlu diperiksa ke dokter langsung dari ahlinya berikut ini!

Mommies, pernah gak merasa sudah masak berbagai macam makanan untuk anak, tapi ujung-ujungnya yang dimakan cuma itu-itu lagi?

Hari ini mau nasi dengan telur. Besok telur lagi. Begitu ditawari sayur, langsung geleng-geleng kepala. Atau baru melihat makanan dengan warna, rasa, atau tekstur yang berbeda saja, anak sudah bilang, “Gak mau!”

Sebagai orang tua, situasi seperti ini tentu bisa bikin bingung. Apalagi kalau melihat anak lain yang kelihatannya bisa makan apa saja, sementara daftar makanan yang boleh masuk ke mulut anak sendiri rasanya semakin lama semakin pendek. 😅

Perilaku pilih-pilih makanan pada anak sebenarnya cukup umum. Dalam pembahasan tumbuh kembang dan nutrisi anak, Mommies mungkin pernah mendengar istilah food neophobia, picky eating,sampai food selectivity.

Namun, istilah-istilah tersebut gak selalu memiliki arti yang sama.

Menurut dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik, Dr. dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A, Subsp. NMP(K), atau yang akrab disapa Dokter Meta, perilaku pilih-pilih makanan memang memiliki spektrum yang cukup luas.

Ada yang masih termasuk bagian dari fase normal tumbuh kembang anak, tetapi ada pula kondisi yang perlu dicari tahu lebih lanjut karena bisa berkaitan dengan kondisi atau gangguan tertentu.

Jadi, sebelum buru-buru menyebut anak sebagai picky eater dan selective eater, yuk kenali dulu perbedaannya.

BACA JUGA: Hati-hati! Ternyata Ini Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Jadi Picky Eater

Mengenal Food Neophobia pada Anak

Foto: Pexels

Sebelum membahas picky eater dan selective eater, ada satu istilah yang perlu Mommies kenali terlebih dahulu, yaitu food neophobia.

Food neophobia adalah kecenderungan anak untuk takut, enggan, atau menolak mencoba makanan baru yang belum dikenalnya. Kondisi ini cukup umum pada masa kanak-kanak dan dapat menjadi bagian dari perkembangan normal.

“Fase neophobia ini adalah fase anak takut untuk mencoba makanan-makanan yang baru. Biasanya terjadi di usia 1 tahun ke atas.”

Menurut Dokter Meta, fase ini juga berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri anak. “Food neophobia merupakan mekanisme pertahanan diri atau survival supaya anak-anak tidak makan sesuatu yang bukan makanan,” jelasnya.

Jadi, ketika anak mulai menolak makanan baru setelah sebelumnya terlihat lebih terbuka mencoba berbagai makanan, Mommies gak perlu langsung berpikir ada sesuatu yang salah.

Yang lebih penting adalah melihat pola makan anak secara keseluruhan: makanan apa yang masih mau ia makan, seberapa beragam pilihannya, serta apakah ada kesulitan lain yang menyertai.

Penelitian sistematis yang terbit pada akhir 2024 juga menunjukkan bahwa food neophobia dan picky eating pada anak dipengaruhi berbagai faktor, termasuk faktor biologis, sosial, lingkungan, serta pengalaman dan pola pengasuhan dalam keluarga.

Apa Itu Picky Eater?

Nah, masuk ke istilah yang paling sering kita dengar: picky eater.

Menurut Dokter Meta, picky eater masih dapat termasuk dalam fase normal pertumbuhan dan perkembangan anak.

Anak mungkin hanya makan dalam jumlah terbatas atau menolak makanan tertentu. Namun, ia masih mau mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan dari kelompok makanan yang berbeda.

Dalam wawancara khusus dengan Mommies Daily, Dokter Meta memberikan gambaran yang cukup sederhana. “Kalau picky eater ini adalah fase yang sangat normal pada pertumbuhan dan perkembangan anak.”

Misalnya, anak gak mau makan ayam, tetapi masih mau telur atau ikan sebagai sumber protein.

Atau ia menolak satu jenis sayuran, tetapi masih mau makan sayuran atau buah lainnya.

Begitu juga dengan karbohidrat. Anak mungkin gak mau nasi, tetapi masih mau kentang atau sumber karbohidrat lainnya.

Artinya, pilihan makanan anak memang bisa terbatas, tetapi masih terdapat variasi dari kelompok makanan yang berbeda.

Ini yang menjadi salah satu poin penting ketika Mommies mencoba memahami picky eater. Anak bukan berarti menolak semua makanan, melainkan cenderung memilih makanan tertentu dan tetap memiliki makanan lain yang bisa diterima.

Lalu, Apa Itu Selective Eater?

Kalau picky eater dan selective eatersering dianggap sama, justru di sinilah letak perbedaan pentingnya.

Menurut Dokter Meta, selective eater memiliki pola penolakan makanan yang lebih luas. “Kalau selective eater, dia bahkan menolak semua jenis makanan dari satu sumber makanan tersebut.”

Contohnya, anak menolak semua sumber protein. Bukan cuma ayam yang gak mau dimakan, tetapi telur, ikan, daging, dan sumber protein lainnya juga ditolak.

Atau anak sama sekali menolak berbagai sumber karbohidrat.

Menurut Dokter Meta, kondisi seperti ini perlu mendapatkan perhatian lebih karena selective eating dapat berkaitan dengan kondisi lain pada anak. “Selective eater ini pasti tidak normal. Karena pasti ada gangguan lain pada anak.”

Dalam konteks ini, yang dimaksud bukan berarti setiap anak yang menunjukkan perilaku selective eating otomatis memiliki autisme atau gangguan perkembangan tertentu.

Dokter Meta menjelaskan bahwa kondisi yang mendasari bisa beragam, misalnya gangguan perkembangan, gangguan keterampilan motorik oral, atau autism spectrum disorder yang dapat membuat anak menolak makanan berdasarkan rasa, tekstur, atau konsistensinya.

Karena itu, ketika pola makan anak sudah sangat terbatas, penting untuk melihat apakah ada kesulitan lain yang menyertainya dan, bila perlu, melakukan evaluasi bersama dokter.

BACA JUGA: Anak Susah Makan? Ini 12 Cara yang Bisa Orang Tua Lakukan

Jadi, Apa Bedanya Picky Eater dan Selective Eater?

Foto: Pexels

Kalau dibuat lebih sederhana, perbedaan picky eater dan selective eater bisa dilihat dari luasnya makanan yang ditolak.

Pada picky eater, anak masih memiliki makanan yang bisa diterima dari kelompok makanan yang berbeda. Ia mungkin menolak ayam, tetapi masih mau telur atau ikan. Bisa juga gak mau satu jenis sayur, tetapi masih mau sayur atau buah lainnya.

Sementara pada selective eater, penolakannya bisa jauh lebih luas. Anak bahkan dapat menolak seluruh jenis makanan dari kelompok tertentu, misalnya semua sumber protein atau semua sumber karbohidrat.

Jadi, bukan hanya soal “anak makan sedikit” atau “anak gak suka sayur”.

Yang perlu diperhatikan adalah seberapa terbatas pilihan makanan anak dan apakah ada kesulitan lain yang menyertainya.

Mommies juga perlu tahu bahwa istilah picky eating, food neophobia, dan food selectivity memang dapat memiliki definisi yang berbeda-beda dalam penelitian. Karena itu, satu perilaku makan saja gak cukup untuk menentukan kondisi anak.

Kapan Anak Perlu Diperiksa ke Dokter?

Nah, ini bagian yang penting supaya Mommies gak hanya terpaku pada label “picky eater”.

Kalau anak hanya menolak beberapa makanan tetapi masih bisa mengonsumsi makanan dari kelompok yang berbeda, kondisinya bisa saja masih termasuk picky eating yang umum terjadi dalam perkembangan.

Namun, Mommies sebaiknya lebih waspada jika pilihan makanan anak semakin terbatas hingga seluruh jenis makanan dari kelompok tertentu ditolak.

Perhatikan juga apakah anak mengalami kesulitan mengunyah atau menelan, sangat sensitif terhadap tekstur atau konsistensi makanan, atau menunjukkan tanda gangguan perkembangan lain.

Pertumbuhan dan asupan nutrisi juga perlu menjadi perhatian. Sebab, penelitian terbaru menunjukkan bahwa food neophobia dan picky eating dapat berkaitan dengan konsumsi kelompok makanan tertentu yang lebih rendah serta kualitas diet yang kurang beragam pada sebagian anak.

Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya Mommies gak berhenti pada kesimpulan, “Anakku memang picky eater.”

Konsultasikan dengan dokter anak untuk melihat pola makan, pertumbuhan, perkembangan, serta kemungkinan penyebab di balik perilaku tersebut.

Jangan Buru-Buru Memberi Label “Anak Susah Makan”

Mommies, mungkin setelah membaca ini kita jadi sadar bahwa anak yang menolak sayur belum tentu punya masalah makan.

Begitu juga anak yang cuma mau makan telur dan nasi belum tentu otomatis mengalami selective eating.

Yang perlu dilihat adalah gambaran besarnya.

Apakah anak masih mau makanan dari kelompok yang berbeda? Apa pilihan makanannya masih cukup beragam? Lalu apakah pertumbuhan dan perkembangannya berjalan sesuai harapan? Atau justru makanan yang ditolak semakin banyak dan ada kesulitan lain yang menyertainya?

Jadi, daripada setiap kali anak menolak makanan kita langsung menghela napas sambil berkata, “Duh, anakku picky banget,” mungkin sekarang waktunya sedikit lebih teliti melihat polanya.

Karena urusan makan anak memang kadang bikin kita gemas, bingung, bahkan frustrasi. Tapi semakin kita memahami istilah dan pola di balik perilakunya, semakin mudah juga menentukan kapan cukup didampingi di rumah dan kapan perlu meminta bantuan dokter.

Picky eater dan selective eater bukan sekadar dua istilah untuk anak yang susah makan. Keduanya bisa terlihat mirip, tetapi pola penolakan makan dan kondisi yang menyertainya perlu dilihat lebih jauh.

Dan yang paling penting, Mommies gak harus langsung panik setiap kali anak menolak makanan. Kenali polanya, perhatikan tumbuh kembangnya, dan kalau ada sesuatu yang terasa gak biasa, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak.

Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan membuat anak mau makan semua makanan.

Yang lebih penting adalah membantu anak mendapatkan asupan yang cukup dan punya hubungan yang sehat dengan makanan, sambil memastikan tumbuh kembangnya tetap berjalan dengan baik.

BACA JUGA: Anak Susah Makan? Konsultasikan ke 18 Dokter Gizi Anak Tepercaya Ini

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan