
Toxic friendship pada remaja bisa memengaruhi kepercayaan diri anak. Kenali 7 tanda pertemanan toxic dan cara Mommies membantu anak menghadapinya.
Ada masa ketika teman terasa seperti segalanya bagi anak kita. Cerita soal sekolah, gebetan, tren terbaru, sampai drama kecil dengan guru atau teman sekelas sering kali lebih mudah dibagikan kepada sahabat dibandingkan dengan orang tua.
Dan memang, punya teman dekat adalah bagian penting dari tumbuh kembang remaja. Dari pertemanan, anak belajar berkomunikasi, bernegosiasi, memahami perasaan orang lain, menyelesaikan konflik, bahkan mengenal dirinya sendiri.
Tapi bagaimana kalau pertemanan itu justru membuat anak semakin tidak percaya diri, sering merasa bersalah, takut ditinggalkan, atau bahkan berubah menjadi pribadi yang tidak kita kenal?
Nah, Mommies, bisa jadi anak sedang berada dalam toxic friendship atau pertemanan yang tidak sehat.
Masalahnya, toxic friendship pada remaja tidak selalu terlihat jelas. Tidak seperti bullying yang mungkin lebih mudah dikenali, hubungan pertemanan yang toksik bisa berlangsung dalam bentuk komentar bercanda, sikap posesif, manipulasi, atau tekanan dari teman sebaya yang pelan-pelan membuat anak merasa tidak nyaman.
Karena itu, penting bagi Mommies dan Daddies untuk mengenali tanda-tandanya.
BACA JUGA: 7 Tanda Anak Mengalami Masalah Pertemanan di Sekolah yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Secara sederhana, toxic friendship adalah hubungan pertemanan yang secara konsisten memberikan dampak negatif terhadap salah satu atau kedua belah pihak.
Namanya juga berteman, tentu sesekali ada konflik. Teman bisa berbeda pendapat, saling kesal, atau bahkan bertengkar. Itu belum tentu berarti hubungan tersebut toksik.
Yang perlu diperhatikan adalah pola yang terus berulang.
Misalnya, anak selalu merasa harus mengikuti keinginan temannya agar tetap diterima. Atau setiap kali selesai bertemu dengan kelompok pertemanannya, anak justru terlihat stres, sedih, atau mempertanyakan harga dirinya sendiri.
Pada masa remaja, hal ini bisa terasa semakin berat karena penerimaan dari teman sebaya memang punya peran besar dalam kehidupan sosial anak.

Mungkin Mommies pernah merasa, “Kok anak saya belakangan berubah, ya?”
Jangan langsung berasumsi bahwa penyebabnya adalah teman. Namun, beberapa perubahan berikut bisa menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan sosial anak.
Salah satu tanda yang cukup umum adalah ketika anak merasa tidak bebas mengatakan “tidak”.
Misalnya, ia sebenarnya tidak ingin ikut pergi, tetapi takut kalau menolak nanti tidak diajak lagi. Atau ia mengikuti keputusan kelompok meski sebenarnya tidak nyaman.
“Kalau aku nggak ikut, nanti mereka marah.”
“Kalau aku bilang nggak mau, nanti mereka ninggalin aku.”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa menunjukkan bahwa anak merasa penerimaan dari temannya bergantung pada seberapa jauh ia mau mengikuti keinginan kelompok.
Bercanda memang bagian dari pertemanan. Namun, bercanda dan merendahkan adalah dua hal yang berbeda.
Perhatikan apakah anak sering menjadi sasaran komentar mengenai penampilan, kemampuan akademik, keluarga, kondisi ekonomi, atau hal personal lainnya.
Yang juga perlu diperhatikan adalah respons teman ketika anak mengatakan bahwa dirinya tersinggung.
Teman yang sehat mungkin akan meminta maaf dan belajar menghargai batasan. Sebaliknya, dalam hubungan yang tidak sehat, anak malah bisa dianggap terlalu sensitif.
“Ah, gitu aja baper.”
“Kan cuma bercanda.”
Kalimat seperti ini, kalau terus-menerus digunakan untuk membenarkan perilaku yang menyakiti, patut menjadi perhatian.
BACA JUGA: 7 Pertemanan Anak SD Tidak Sehat yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
“Kenapa kamu main sama dia?”
“Kamu harus pilih, mau berteman sama aku atau dia.”
“Kok kamu nggak balas chat aku?”
Pertemanan yang sehat tetap memberikan ruang bagi masing-masing anak untuk mempunyai teman lain, melakukan aktivitas sendiri, dan kehidupan di luar hubungan tersebut.
Jika seorang teman terus-menerus ingin mengontrol siapa yang boleh diajak berteman, apa yang harus dilakukan, bahkan bagaimana anak harus bersikap, hubungan tersebut bisa menjadi tidak sehat.
Toxic friendship juga bisa melibatkan manipulasi emosional.
Contohnya, ketika seorang teman membuat anak merasa bersalah setiap kali ia memiliki keinginan atau kebutuhan yang berbeda.
“Kalau kamu benar-benar sahabatku, kamu pasti mau melakukan ini.”
“Aku sedih karena kamu lebih memilih dia.”
Anak akhirnya merasa bertanggung jawab atas emosi temannya dan berpikir bahwa menjaga perasaan orang lain selalu menjadi tugasnya.
Padahal, menjadi teman yang baik bukan berarti anak harus selalu mengorbankan dirinya.

Coba perhatikan perubahan cara anak berbicara tentang dirinya sendiri.
Apakah ia mulai sering mengatakan:
“Aku memang nggak sepintar mereka.”
“Aku nggak punya teman selain mereka.”
“Kayaknya nggak ada yang suka sama aku.”
“Kalau aku nggak ikut mereka, aku sendirian.”
Ketika hubungan pertemanan membuat anak terus-menerus merasa tidak cukup baik, tidak diterima, atau tidak berharga, ini merupakan tanda yang perlu diperhatikan dengan lebih serius.
Perubahan emosi juga bisa menjadi petunjuk.
Anak mungkin terlihat sangat cemas sebelum pergi ke sekolah atau bertemu kelompok temannya. Setelah pulang, ia menjadi lebih mudah marah, murung, menarik diri, atau enggan bercerita.
Tentu, perubahan mood pada remaja bisa disebabkan oleh banyak hal. Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa pertemanan adalah penyebabnya.
Namun, jika perubahan tersebut muncul bersamaan dengan masalah tertentu dalam kelompok pertemanannya, ada baiknya Mommies mulai mengajak anak ngobrol.
Tekanan teman sebaya dapat membuat remaja melakukan sesuatu hanya demi mendapatkan penerimaan.
Misalnya, berbohong kepada orang tua, ikut mengejek teman lain, melanggar aturan sekolah, atau melakukan sesuatu yang sebenarnya membuatnya tidak nyaman.
Dalam kondisi seperti ini, yang perlu dibantu bukan hanya perilakunya, tetapi juga kemampuan anak untuk mengatakan tidak ketika tekanan dari kelompok mulai melewati batas.
BACA JUGA: Anak Remaja Lebih Suka Curhat ke Teman daripada Orang Tua? Ini 8 Alasan Psikologisnya
Mungkin Mommies bertanya-tanya, “Kalau memang temannya tidak baik, kenapa anak saya tidak menjauh saja?”
Sayangnya, bagi remaja, jawabannya tidak sesederhana itu.
Pada usia ini, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya memang sedang kuat. Kehilangan teman bisa terasa seperti kehilangan bagian penting dari kehidupan sosialnya.
Anak juga mungkin takut sendirian, takut menjadi bahan pembicaraan, atau khawatir tidak akan menemukan teman baru.
Ada pula anak yang belum menyadari bahwa hubungan yang dijalaninya sebenarnya tidak sehat.
Karena itu, mengatakan, “Sudah, tinggalin saja teman seperti itu!” mungkin terdengar mudah bagi orang dewasa, tetapi belum tentu mudah dilakukan oleh anak.

Ini salah satu hal penting yang perlu diperhatikan, Mommies.
Ketika anak akhirnya bercerita, mungkin insting pertama kita adalah langsung bereaksi.
“Memangnya siapa nama anaknya?”
“Kenapa kamu masih berteman sama dia?”
“Kan Mama sudah bilang dari dulu!”
Sayangnya, respons seperti ini berpotensi membuat anak berhenti bercerita.
Alih-alih langsung mencari solusi, coba dengarkan terlebih dahulu.
Mommies bisa mengatakan:
“Kedengarannya itu pasti bikin kamu nggak nyaman, ya.”
atau,
“Mama senang kamu cerita. Kamu nggak harus menghadapi ini sendirian.”
Validasi bukan berarti Mommies membenarkan semua keputusan anak. Validasi berarti kita menunjukkan bahwa perasaannya didengar dan dianggap penting.
Setelah anak merasa aman, barulah percakapan bisa diarahkan pada apa yang sebenarnya terjadi.
Biarkan anak bercerita dengan versinya sendiri.
Tanyakan pertanyaan terbuka seperti:
Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar memahami situasinya sendiri.
Anak perlu tahu bahwa dalam pertemanan pun mereka berhak memiliki batasan.
Misalnya, berhak mengatakan tidak, berhak memiliki teman lain, berhak merasa tidak nyaman, dan berhak menjauh dari situasi yang membuatnya merasa tidak aman.
Mommies bisa membantu anak berlatih mengatakan:
“Aku nggak nyaman kalau kamu ngomong seperti itu.”
“Aku nggak mau ikut.”
“Aku mau berteman sama kalian, tapi aku juga mau berteman dengan yang lain.”
Latihan sederhana seperti role-play di rumah bisa membantu anak lebih percaya diri ketika harus menghadapinya di dunia nyata.
BACA JUGA: Tanpa Sadar! 8 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membuat Anak Remaja Menjauh
Kadang yang membuat anak sulit meninggalkan pertemanan toksik adalah karena ia merasa tidak punya pilihan lain.
Mommies bisa membantu anak menemukan lingkungan yang sesuai dengan minatnya, misalnya kegiatan olahraga, musik, seni, organisasi sekolah, komunitas, atau aktivitas lainnya.
Tujuannya bukan memaksa anak mencari “teman baru”, tetapi memberikan kesempatan agar ia bertemu dengan lebih banyak orang dan membangun relasi yang lebih sehat.
Kecuali ada situasi yang membahayakan keselamatan anak, Mommies mungkin perlu mempertimbangkan pendekatan yang bertahap.
Anak bisa mulai dengan mengurangi interaksi, menetapkan batasan, atau menghabiskan lebih banyak waktu dengan lingkungan pertemanan yang positif.
Yang penting, anak memahami bahwa ia punya pilihan.
Jika toxic friendship sudah melibatkan bullying, ancaman, penghinaan berulang, pengucilan, penyebaran rumor, atau bentuk perilaku lain yang mengganggu keamanan dan kesejahteraan anak, jangan ragu melibatkan pihak sekolah.
Mommies bisa berdiskusi dengan wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah yang relevan untuk mencari langkah yang paling tepat.
Jangan menunggu sampai situasinya menjadi semakin serius.
Ada perbedaan antara konflik pertemanan biasa dan situasi yang sudah berdampak signifikan terhadap kesejahteraan anak.
Mommies perlu memberikan perhatian lebih jika anak menunjukkan perubahan yang cukup drastis, misalnya terus-menerus menarik diri, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, mengalami gangguan tidur atau makan, menolak sekolah, atau menunjukkan tanda tekanan emosional yang berat.
Dalam kondisi seperti ini, jangan hanya fokus pada “siapa teman yang salah”.
Yang lebih penting adalah memastikan anak mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Jika diperlukan, Mommies dan Daddies dapat berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan mental yang sesuai.

Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa memilihkan teman untuk anak.
Kita juga tidak selalu bisa berada di samping mereka ketika terjadi konflik di sekolah atau dalam grup pertemanannya.
Namun, kita bisa memastikan satu hal: anak tahu bahwa ia selalu punya tempat yang aman untuk bercerita.
Daripada hanya mengajarkan anak bagaimana memilih teman yang baik, mungkin kita juga perlu mengajarkan bahwa dirinya pantas berada dalam hubungan yang membuatnya merasa dihargai, didengar, dan aman.
Pertemanan yang sehat bukan berarti tidak pernah bertengkar.
Ada perbedaan pendapat, ada rasa kesal, bahkan mungkin ada momen saling menyakiti. Tetapi di dalam hubungan yang sehat, anak tetap bisa menjadi dirinya sendiri, menyampaikan batasan, meminta maaf, dan merasa dihargai sebagai individu.
Jadi, ketika suatu hari anak datang dan berkata, “Ma, aku mau cerita…”, sebisa mungkin tahan dulu keinginan untuk langsung memberikan nasihat.
Dengarkan.
Temani.
Dan biarkan anak tahu bahwa apa pun yang terjadi dalam pertemanannya, ia tidak harus menghadapinya sendirian.