5 Red Flag dalam Hubungan yang Bisa Dipelajari dari Our Sticky Love

Sex & Relationship

Katharina Menge・in 5 hours

detail-thumb

Dari Our Sticky Love, ada 5 red flag dalam hubungan yang bisa jadi bahan obrolan Mommies dengan anak remaja soal pacaran sehat.

Mommies yang sedang nonton Our Sticky Love mungkin awalnya datang karena Jung Hae-in. Wajar, kok. Sulit juga menolak drama yang memasangkan Jung Hae-in sebagai Jang Tae-ha dengan Ha Young sebagai Go Eun-sae, apalagi premisnya sudah cukup bikin penasaran: seorang jaksa kehilangan ingatan, lalu seorang pria muncul dan mengaku sebagai pacarnya.

Tapi semakin cerita berjalan, hubungan Tae-ha dan Eun-sae juga bisa jadi bahan obrolan yang menarik soal hubungan sehat. Karena di balik adegan romantis dan chemistry yang bikin senyum-senyum sendiri, ada beberapa situasi yang justru mengajak kita melihat: mana yang romantis, mana yang sebenarnya red flag?

Apalagi kalau Mommies punya anak remaja yang mulai mengenal dunia pacaran. Daripada cuma bilang, “Jangan pacaran dulu!”, mungkin lebih berguna kalau anak juga dibekali kemampuan untuk mengenali perilaku yang sehat dan gak sehat dalam sebuah hubungan.

Our Sticky Love merupakan drama Korea 2026 di Netflix yang mengikuti kisah Go Eun-sae, seorang jaksa yang kehilangan ingatan, dan Jang Tae-ha, pelatih tinju yang mengaku sebagai pacarnya. Serial ini tayang perdana pada 7 Agustus 2026.

Nah, dari cerita para karakternya, ada beberapa red flag dalam hubungan yang bisa Mommies jadikan bahan diskusi bersama anak.

BACA JUGA: Green Flag Jung Hae-in di Our Sticky Love yang Bikin Mommies Ikut Meleleh

1. Berbohong tentang Identitas atau Status Hubungan

Foto: HanCinema

Kita mulai dari yang paling jelas dulu.

Tae-ha datang kepada Eun-sae yang sedang kehilangan ingatan dan mengatakan bahwa dirinya adalah pacar Eun-sae. Masalahnya, tentu saja, hubungan mereka gak sesederhana itu. Netflix sendiri menjadikan situasi tersebut sebagai bagian penting dari premis cerita, ketika Eun-sae yang gak bisa mengingat masa lalunya harus berhadapan dengan pria yang mengaku sebagai pacarnya.

Dalam konteks drama, kebohongan ini menjadi bagian dari konflik dan alasan Tae-ha berusaha melindungi Eun-sae. Tapi kalau dibawa ke kehidupan nyata, berbohong tentang identitas, status hubungan, atau informasi penting kepada pasangan jelas bukan sesuatu yang perlu dianggap romantis.

Ini bisa menjadi kesempatan bagi Mommies untuk bertanya kepada anak, “Kalau seseorang sengaja menyembunyikan hal penting tentang dirinya dari kamu, menurut kamu masih bisa disebut hubungan yang sehat gak?”

Anak mungkin punya jawaban sendiri. Dan gak apa-apa.

Justru dari situ Mommies bisa mengajak anak memahami bahwa kepercayaan dalam hubungan dibangun dari kejujuran, bukan dari seberapa meyakinkan seseorang ketika bercerita.

2. Terlalu Mengatur Hidup Pasangan, Meski Niatnya Melindungi

Foto: HanCinema

Nah, ini justru red flag yang menarik dari Jang Tae-ha.

Sepanjang cerita, Tae-ha memang terlihat sangat peduli dengan Eun-sae. Ia bahkan berusaha mengajak Eun-sae melakukan berbagai aktivitas yang ia sukai dengan harapan ingatannya bisa kembali. Dari luar, gestur ini mungkin terlihat sweet banget.

Masalahnya, perhatian bisa berubah menjadi kontrol ketika seseorang mulai merasa paling tahu apa yang terbaik untuk pasangannya.

Puncaknya adalah ketika Tae-ha berusaha membuat Eun-sae pergi dari Korea demi menjauhkannya dari ancaman kelompok gangster. Secara niat, tentu bisa dipahami karena ia ingin melindungi Eun-sae. Namun, Eun-sae sendiri gak tahu seluruh situasinya dan ketika akhirnya mengetahui rencana tersebut, ia gak mau pergi tetapi tetap dipaksa.

Di sinilah Mommies bisa melihat perbedaannya: melindungi pasangan bukan berarti mengambil alih keputusan pasangan.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan tetap punya hak untuk menentukan pilihan tentang hidupnya sendiri. Love Is Respect juga menjelaskan bahwa hubungan sehat membutuhkan batasan yang dibicarakan dan dihormati, sementara perilaku mengontrol atau memaksa pasangan melakukan sesuatu yang gak mereka inginkan merupakan tanda hubungan yang gak sehat.

Jadi, kalau anak bilang, “Tapi dia kan melakukan itu karena sayang,” Mommies bisa mengajaknya berpikir lagi: apakah niat baik cukup kalau cara yang dilakukan membuat pasangan kehilangan hak untuk memilih?

BACA JUGA: Perempuan Disekap Pacar Selama 3 Tahun hingga Kritis, Kenali 7 Red Flag dalam Hubungan yang Tak Boleh Diabaikan

3. Mengabaikan Batasan Pasangan

Foto: HanCinema

Poin ini sebenarnya masih berhubungan dengan Tae-ha, tetapi berbeda dengan sekadar “terlalu protektif”.

Masalahnya muncul ketika seseorang sudah menyampaikan apa yang ia mau atau gak mau, tetapi pasangannya tetap memaksakan kehendak. Dalam cerita Tae-ha dan Eun-sae, Eun-sae akhirnya mengetahui rencana untuk menjauhkannya dari Korea dan menyatakan bahwa ia gak mau pergi. Namun, keputusan tersebut tetap dipaksakan kepadanya.

Ini penting dibicarakan dengan anak remaja karena punya pasangan bukan berarti kehilangan hak untuk berkata tidak.

Batasan dalam hubungan bisa sesederhana menentukan dengan siapa ingin berteman, kegiatan apa yang ingin dilakukan, kapan membutuhkan waktu sendiri, sampai keputusan besar yang menyangkut hidup masing-masing. Love Is Respect menegaskan bahwa memaksa atau menekan pasangan untuk mengubah batasan yang sudah ia tetapkan bukan bagian dari hubungan yang sehat.

Mommies juga bisa memberi contoh sederhana kepada anak.

“Kalau pacarmu bilang dia gak nyaman kamu membaca chat pribadinya, apakah kamu boleh memaksa karena merasa sebagai pacarnya?”

Atau sebaliknya, “Kalau kamu sudah bilang gak mau melakukan sesuatu, apakah pasanganmu boleh terus memaksa?”

Dari pertanyaan-pertanyaan seperti ini, anak bisa belajar bahwa menghargai batasan bukan berarti kurang sayang.

Justru sebaliknya, menghormati batasan adalah salah satu bentuk menghargai pasangan.

4. Tahu Pasangan Hamil, Malah Pergi? Big Red Flag!

Foto: HanCinema

Sekarang kita masuk ke Baek Sang-gil.

Salah satu red flag paling jelas dari karakter ini adalah ketika ia meninggalkan Jang Hae-su setelah mengetahui bahwa perempuan tersebut hamil. Sang-gil memilih pergi dan meninggalkan Hae-su menghadapi kehamilan serta kehidupan sebagai orang tua seorang diri.

Kalau dilihat dari sudut pandang relationship, ini bukan sekadar soal hubungan yang berakhir. Ada tanggung jawab yang ikut ditinggalkan ketika seseorang memilih pergi setelah mengetahui pasangannya sedang mengandung anak mereka.

Tentu, kita gak mengetahui seluruh detail hubungan Sang-gil dan Hae-su sejak awal. Namun, cara seseorang menghadapi tanggung jawab ketika situasi berubah menjadi sulit tetap bisa menjadi bahan refleksi yang menarik.

Ini juga bisa menjadi pelajaran penting untuk anak remaja, Mommies. Dalam hubungan, komitmen bukan cuma soal hadir ketika semuanya menyenangkan, tetapi juga tentang berani bertanggung jawab ketika situasi menjadi sulit.

Dan kalau seseorang memilih pergi begitu saja ketika pasangannya berada dalam situasi rentan, itu bukan sesuatu yang perlu dianggap romantis hanya karena hubungan tersebut punya cerita cinta yang rumit.

Red flag-nya bukan semata-mata karena Sang-gil memilih untuk gak melanjutkan hubungan, tetapi karena cara ia meninggalkan tanggung jawab dan orang yang berada dalam situasi rentan.

5. Membuat Keputusan Besar Sendiri, Padahal Dampaknya ke Pasangan

Foto: HanCinema

Nah, ini red flag yang sering kali terlihat samar.

Dalam hubungan, tentu ada keputusan yang memang menjadi hak masing-masing individu. Tapi ketika keputusan tersebut secara langsung berdampak besar pada pasangan, seharusnya ada ruang untuk berdiskusi.

Contohnya bisa dilihat lagi dari Tae-ha yang menentukan bahwa Eun-sae perlu pergi dari Korea demi keselamatannya. Dari sudut pandangnya, keputusan itu mungkin terasa masuk akal karena ia mengetahui ancaman yang belum dipahami Eun-sae.

Tetapi masalahnya, Eun-sae adalah orang yang kehidupannya ikut berubah karena keputusan tersebut.

Dalam hubungan sehat, keputusan besar idealnya gak dibuat dengan pola “Aku sudah tahu yang terbaik buat kamu, jadi kamu tinggal ikut.” Pasangan perlu punya kesempatan untuk mengetahui situasinya, menyampaikan pendapat, dan ikut menentukan apa yang akan dilakukan.

Love Is Respect menyebut bahwa hubungan yang sehat dibangun dari komunikasi, batasan yang sehat, rasa hormat, dukungan, dan kesetaraan. Bahkan dalam pengambilan keputusan, pasangan seharusnya punya ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan pendapat masing-masing.

Jadi, kalau anak menemukan situasi seperti ini dalam hubungan, pertanyaannya bukan cuma, “Dia sayang gak sama kamu?”

Tapi juga, “Apakah kamu masih punya suara dalam hubungan itu?”

BACA JUGA: Drama Hayoung yang Bisa Masuk Daftar Tontonan Mommies, Terbaru Our Sticky Love

Red Flag Bukan Berarti Pasangannya Pasti “Orang Jahat”

Mommies, ini mungkin bagian yang paling penting kalau artikel ini mau dibaca bareng anak.

Ketika kita menyebut seseorang punya red flag, bukan berarti otomatis orang tersebut adalah manusia paling jahat di dunia. Apalagi karakter drama memang dibuat dengan konflik, rahasia, dan keputusan yang kadang sengaja bikin penonton geregetan.

Jang Tae-ha misalnya. Banyak tindakannya dilakukan karena ingin melindungi Eun-sae. Namun, niat baik tetap gak otomatis membuat sebuah tindakan menjadi sehat kalau pasangan kehilangan kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri.

Begitu juga dengan Baek Sang Gil. Perilaku meninggalkan pasangan dalam situasi rentan bisa dikritisi tanpa harus membuat anak mengambil kesimpulan bahwa setiap hubungan yang berakhir adalah hubungan toxic.

Yang perlu dilihat adalah pola perilakunya.

Apakah ada kejujuran? Apakah kedua orang punya kesempatan mengambil keputusan? Apakah batasan dihormati? Apakah seseorang merasa aman untuk mengatakan tidak? Apakah konflik bisa dibicarakan tanpa ancaman atau paksaan?

Karena hubungan sehat bukan berarti gak pernah punya masalah.

Menurut Love Is Respect, konflik merupakan hal yang normal dalam hubungan. Yang membedakan adalah bagaimana pasangan berkomunikasi dan menyelesaikannya tanpa merendahkan, mengontrol, atau membuat salah satu pihak takut.

Jadi, Apa yang Bisa Dipelajari Anak Remaja dari Our Sticky Love?

Kalau Mommies punya anak remaja yang mulai tertarik dengan dunia pacaran, drama seperti Our Sticky Love justru bisa menjadi pintu masuk obrolan yang menyenangkan.

Gak harus dimulai dengan ceramah panjang tentang “pacaran yang benar”.

Coba mulai dari karakter yang sedang ditonton.

“Kalau kamu jadi Eun-sae, kamu bakal gimana?”

“Atau menurut kamu, Tae-ha itu romantis atau terlalu mengatur?”

“Kalau seseorang bilang melakukan sesuatu demi kamu, tapi kamu gak setuju, menurut kamu gimana?”

Pertanyaan seperti ini bisa membuat anak belajar berpikir kritis tanpa merasa sedang diinterogasi.

Karena yang ingin Mommies tanamkan sebenarnya bukan daftar panjang tentang siapa yang boleh atau gak boleh mereka pacari. Lebih penting lagi, anak punya kemampuan untuk mengenali ketika sebuah hubungan membuatnya dihargai dan ketika sebuah hubungan perlahan membuatnya kehilangan suara, batasan, atau kendali atas dirinya sendiri.

Dan mungkin ini juga alasan kenapa red flag dalam hubungan penting dibicarakan sejak remaja.

Bukan supaya anak takut jatuh cinta.

Justru supaya ketika suatu hari mereka jatuh cinta, mereka tahu bahwa disayang bukan berarti dikontrol, dilindungi bukan berarti dipaksa, dan punya pasangan bukan berarti kehilangan hak untuk menjadi diri sendiri.

Sementara untuk Mommies yang masih lanjut nonton Our Sticky Love karena Jung Hae-in?

Silakan.

Namanya juga healing setelah seharian mengurus rumah dan anak.

Tapi kalau anak ikut menonton, sekalian saja manfaatkan drama ini untuk ngobrol. Karena kadang, pelajaran tentang hubungan sehat justru lebih gampang masuk lewat pertanyaan, “Kalau kamu jadi dia, kamu bakal gimana?” daripada lewat ceramah Mommies selama 30 menit.

Cover: HanCinema