Sorry, we couldn't find any article matching ''

Remaja Sering “Bed Rotting”, Haruskah Mommies Khawatir?
Bed rotting pada remaja sedang ramai dibicarakan. Kenali arti, alasan remaja melakukannya, manfaat, risiko, dan tanda yang perlu diperhatikan Mommies.
“Ma, aku mau di kamar aja.”
Kalau kalimat seperti ini semakin sering Mommies dengar dari anak yang sudah beranjak remaja, mungkin awalnya terasa biasa. Namanya juga remaja, kadang memang ingin punya waktu sendiri, rebahan sambil main HP, nonton serial, mendengarkan musik, atau sekadar gak melakukan apa-apa.
Belakangan, ada istilah yang ramai di media sosial untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu lama di tempat tidur seperti ini: bed rotting.
Istilahnya memang terdengar agak ekstrem. Namun, bed rotting sebenarnya bukan berarti anak benar-benar “membusuk” di tempat tidur, melainkan istilah populer untuk kebiasaan sengaja menghabiskan waktu cukup lama di tempat tidur sambil melakukan aktivitas ringan seperti scrolling media sosial, menonton video, bermain gim, membaca, mendengarkan musik, ngemil, atau tidur.
Kalau dipikir-pikir, orang dewasa juga mungkin pernah melakukannya.
Bed rotting bahkan sempat banyak dibicarakan sebagai bentuk self-care atau cara mengambil jeda dari rutinitas yang melelahkan. Tapi ketika kebiasaan ini dilakukan oleh remaja, wajar kalau Mommies kemudian bertanya-tanya, “Ini cuma lagi capek atau ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan?”
Jawabannya gak selalu hitam putih.
BACA JUGA: Saat Anak Mulai Remaja dan Punya Dunianya Sendiri, Ini 12 Hal yang Diam-diam Dirindukan Orang Tua
Apa Itu Bed Rotting pada Remaja?

Foto: Pexels
Bed rotting bukan istilah medis dan bukan diagnosis kesehatan mental. Sederhananya, ini adalah istilah internet untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan waktu lama di tempat tidur ketika sebenarnya seseorang tidak sedang tidur sepanjang waktu.
Aktivitasnya bisa macam-macam. Anak mungkin rebahan sambil scrolling TikTok, menonton YouTube, bermain gim, membaca novel, mendengarkan musik, ngemil, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Fenomena bed rotting menjadi populer melalui media sosial, terutama TikTok. Istilah ini kemudian digunakan untuk menggambarkan cara seseorang mengambil waktu untuk “recharge” setelah menjalani hari yang terasa melelahkan.
Dan sebenarnya, keinginan untuk punya waktu sendiri bukan sesuatu yang aneh.
Masa remaja sendiri penuh perubahan. Anak mulai menghadapi tuntutan akademik, pertemanan, pencarian identitas, ekspektasi keluarga, sampai tekanan dari media sosial.
Jadi, ketika anak bilang, “Aku capek, mau rebahan,” mungkin memang benar-benar sedang capek.
Kenapa Remaja Suka Bed Rotting?
Ada alasan kenapa tempat tidur bisa terasa seperti tempat paling nyaman di dunia bagi remaja.
Setelah seharian sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, mengerjakan tugas, bersosialisasi, dan menghadapi berbagai tuntutan, kamar bisa menjadi satu-satunya tempat yang terasa benar-benar milik mereka.
Belum lagi dunia digital membuat anak seperti gak pernah benar-benar selesai beraktivitas. Pulang sekolah bukan berarti selesai karena masih ada chat, notifikasi, konten, tugas, dan percakapan dengan teman yang terus berjalan.
Dalam kondisi seperti ini, rebahan bisa menjadi cara anak mengambil jarak sejenak dari semuanya.
Namun, Mommies juga perlu melihat apa yang sebenarnya dilakukan anak selama berada di kamar. Apakah ia memang sedang beristirahat, atau justru semakin sulit menghadapi aktivitas dan situasi di luar kamar?
Karena dua hal tersebut bisa terlihat sangat mirip dari luar.
Bed Rotting Bisa Jadi Bentuk Self-Care?
Bisa.
Menghabiskan waktu di tempat tidur untuk beristirahat sesekali gak otomatis merupakan sesuatu yang buruk. Cleveland Clinic juga menjelaskan bahwa bed rotting dalam kondisi tertentu dapat menjadi cara seseorang mengambil waktu untuk beristirahat dan melakukan self-care.
Masalahnya bukan semata-mata pada berapa lama anak berada di tempat tidur.
Yang lebih penting adalah apa dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Kalau setelah beberapa waktu rebahan anak kembali mandi, makan, mengerjakan tugas, bertemu keluarga, beraktivitas, dan menjalani kesehariannya seperti biasa, Mommies mungkin gak perlu langsung panik.
Tapi kalau tempat tidur mulai menjadi tempat anak menghindari hampir semua aktivitas, ceritanya bisa berbeda.
BACA JUGA: Jangan Langsung Marah! 7 Cara Menegur Anak Remaja Tanpa Memicu Pertengkaran di Rumah
Kapan Bed Rotting Mulai Jadi Red Flag?
Nah, bagian ini yang penting diperhatikan Mommies.
Sesekali ingin rebahan seharian setelah minggu yang melelahkan tentu berbeda dengan anak yang hampir setiap hari menghabiskan sebagian besar waktunya di kamar dan semakin sulit diajak melakukan aktivitas lain.
Mommies bisa mulai memperhatikan kalau ada perubahan lain yang ikut muncul.
Misalnya, anak yang sebelumnya senang bermain dengan teman tiba-tiba menarik diri. Ia juga kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai, mengalami perubahan pola tidur, kesulitan menjalani rutinitas, atau performa sekolahnya mulai menurun.
Tanda-tanda tersebut gak otomatis berarti anak mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Namun, perubahan yang menetap dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari layak diperhatikan lebih serius.
Jadi, jangan hanya melihat anak dari seberapa lama ia berada di tempat tidur.
Lihat juga apakah ia masih menikmati hal-hal yang biasanya disukai, tetap berinteraksi dengan orang lain, menjalankan tanggung jawabnya, dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
Jangan Sampai “Istirahat” Malah Mengganggu Tidur

Foto: Magnific
Ada satu hal lain yang juga perlu diperhatikan: bed rotting bukan berarti tidur yang cukup.
Remaja tetap membutuhkan tidur berkualitas. American Academy of Pediatrics mengacu pada rekomendasi bahwa remaja membutuhkan sekitar 8–10 jam tidur dalam 24 jam.
Masalahnya, kalau anak menghabiskan waktu di tempat tidur sambil scrolling sampai larut malam, tubuhnya memang berada di kasur, tetapi belum tentu mendapatkan istirahat yang dibutuhkan.
Paparan layar menjelang waktu tidur juga bisa membuat anak lebih sulit mendapatkan tidur yang cukup. American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar perangkat elektronik tidak digunakan di kamar tidur pada malam hari dan menghindari screen time sekitar satu jam sebelum tidur.
Jadi, jangan sampai Mommies melihat anak rebahan di tempat tidur dan langsung berpikir, “Oh, berarti dia lagi istirahat.”
Bisa jadi tubuhnya memang santai, tetapi otaknya masih sibuk menerima berbagai konten dari layar.
Bed Rotting dan Media Sosial, Ada Hubungannya?
Kalau ngomongin bed rotting, rasanya memang sulit memisahkannya dari media sosial.
Tren ini sendiri populer lewat platform seperti TikTok ketika orang membagikan momen mereka menghabiskan waktu di tempat tidur sebagai bentuk “recharge”. Cleveland Clinic juga mencatat popularitas istilah bed rotting melalui TikTok.
Di satu sisi, media sosial bisa membuat anak merasa, “Oh, ternyata banyak orang lain juga begini.”
Namun di sisi lain, scrolling tanpa batas juga bisa membuat waktu berlalu tanpa terasa.
Laporan eSafety Commissioner tentang penggunaan teknologi oleh anak dan remaja menyoroti bagaimana desain platform digital, termasuk fitur seperti infinite scroll, dapat mendorong seseorang terus menggunakan layanan tanpa jeda yang jelas.
Jadi, mungkin persoalannya bukan sekadar anak terlalu sering rebahan, tetapi apakah aktivitas yang dilakukan selama rebahan benar-benar membuat anak merasa lebih pulih atau justru membuatnya semakin sulit berhenti.
Haruskah Mommies Melarang Bed Rotting?
Sepertinya tidak perlu langsung dilarang.
Kalau setiap kali melihat anak rebahan Mommies langsung berkata, “Jangan malas!” atau “Keluar kamar, dong!”, yang mungkin terjadi justru anak semakin malas bercerita tentang apa yang sedang dirasakannya.
Coba mulai dari pertanyaan yang lebih sederhana.
“Capek, ya?”
“Hari ini sekolahnya gimana?”
“Mau cerita atau memang mau sendirian dulu?”
Dari situ Mommies bisa melihat apakah anak memang sedang membutuhkan waktu tenang atau sebenarnya sedang berusaha menghindari sesuatu.
Kalau anak hanya ingin punya waktu sendiri setelah hari yang panjang, berikan ruang. Tapi tetap bantu membuat batas yang sehat agar waktu di tempat tidur gak mengambil alih tidur, makan, aktivitas fisik, sekolah, dan hubungan sosialnya.
Bagaimana Mommies Bisa Membantu?

Foto: Magnific
Gak perlu langsung membuat aturan panjang seperti, “Dilarang HP di kamar!” atau “Kamu harus keluar kamar sekarang!”
Coba mulai dari rutinitas kecil.
Misalnya, setelah waktu istirahat, ajak anak makan bersama. Atau ajak jalan sebentar, membeli camilan, menemani Mommies ke minimarket, bermain dengan hewan peliharaan, atau sekadar ngobrol di ruang keluarga.
Aktivitasnya juga gak harus selalu produktif.
Tujuannya adalah membantu anak tetap punya keseimbangan antara waktu sendiri, tidur, aktivitas fisik, keluarga, teman, dan sekolah.
Kalau Mommies ingin membuat aturan soal gawai, akan lebih baik kalau aturan tersebut menjadi kesepakatan keluarga dan gak terasa seperti hukuman khusus untuk anak.
BACA JUGA: Tanpa Sadar! 8 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-diam Membuat Anak Remaja Menjauh
Kapan Mommies Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Mommies gak perlu menunggu sampai kondisi anak benar-benar berat untuk mencari bantuan.
Kalau perubahan perilaku berlangsung cukup lama, anak kehilangan minat terhadap hal yang sebelumnya disukai, semakin menarik diri dari keluarga dan teman, mengalami perubahan tidur yang signifikan, kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, atau performa sekolahnya ikut menurun, sebaiknya mulai konsultasikan dengan psikolog atau psikiater anak dan remaja.
Yang perlu diingat, bed rotting sendiri bukan tanda pasti bahwa anak mengalami masalah kesehatan mental.
Namun, perubahan pola perilaku yang muncul bersamaan dengan tanda-tanda lain bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang membutuhkan dukungan lebih.
Mommies juga gak harus menunggu anak mengatakan, “Aku sedang gak baik-baik saja.”
Kadang perubahan kebiasaan justru menjadi salah satu cara anak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang sedang mereka rasakan.
Jadi, Bed Rotting pada Remaja Itu Wajar atau Tidak?
Jawabannya memang gak sesederhana “wajar” atau “gak wajar”.
Sesekali ingin rebahan seharian setelah minggu yang melelahkan? Manusiawi.
Menggunakan waktu di kamar untuk menenangkan diri? Bisa menjadi bentuk self-care.
Tapi kalau anak semakin sering mengurung diri, kehilangan minat, sulit menjalani rutinitas, tidur berantakan, dan menjadikan tempat tidur sebagai cara untuk menghindari hampir semua hal? Ini yang perlu lebih diperhatikan.
Jadi, mungkin lain kali ketika melihat anak rebahan sambil memegang HP, Mommies gak perlu buru-buru bilang, “Ih, males banget!”
Coba duduk di sebelahnya.
Tanya, “Kamu lagi capek atau memang lagi pengin sendiri?”
Karena bisa jadi anak memang cuma butuh istirahat.
Tapi bisa juga, untuk pertama kalinya, ia sedang mencoba memberi tahu Mommies bahwa hidupnya akhir-akhir ini terasa terlalu penuh.
Dan kadang, yang paling dibutuhkan anak bukan ceramah supaya segera bangun dari tempat tidur, tetapi orang tua yang mau duduk di sampingnya dan mendengarkan.
Catatan: Artikel ini membahas fenomena sosial yang populer dengan istilah bed rotting, bukan diagnosis medis. Jika Mommies melihat perubahan perilaku atau kondisi emosional anak yang menetap dan mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasikan dengan tenaga kesehatan mental anak dan remaja.
Cover: Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS