
Cara menegur anak remaja ternyata menentukan apakah mereka mau mendengar atau justru membantah. Simak 7 cara efektif agar teguran tidak berubah menjadi pertengkaran di rumah.
Menegur anak remaja memang tidak mudah. Sedikit salah memilih kata atau waktu, obrolan bisa berubah menjadi adu argumen. Kuncinya bukan menghindari konflik, tetapi menyampaikan teguran dengan cara yang membuat anak mau mendengar.
Masa remaja merupakan fase ketika mereka sedang belajar membangun identitas, mencari kemandirian, dan menjadi lebih sensitif terhadap kritik. Karena itu, cara orang tua menyampaikan teguran menjadi sangat menentukan.
Menurut Child Mind Institute, remaja lebih mudah menerima arahan ketika orang tua tetap tenang, tidak menghakimi, dan fokus pada solusi dibandingkan meluapkan emosi.
Baca juga: 4 Hal yang Dibutuhkan Anak Laki-laki dari Ibunya

Cara menegur anak remaja yang paling efektif adalah berbicara saat emosi sudah reda, fokus pada perilaku yang perlu diperbaiki, mendengarkan sudut pandang anak, lalu mengajak mencari solusi bersama. Pendekatan ini membantu anak merasa dihargai sehingga lebih terbuka untuk menerima arahan.
Ketika orang tua sedang marah, otak cenderung bereaksi secara emosional, bukan rasional. Akibatnya, kata-kata yang keluar lebih mudah melukai. Jika Mommies baru mengetahui anak melanggar aturan, beri jeda beberapa menit hingga emosi lebih stabil sebelum mengajaknya berbicara.
Psikiater anak Steven Dickstein, MD, dari Child Mind Institute, menjelaskan bahwa berteriak biasanya hanya memperbesar konflik dan membuat pesan utama tidak tersampaikan.
Jangan menegur ketika anak:
Cari waktu ketika suasana lebih santai, misalnya setelah makan malam atau saat sedang berkendara bersama.
Baca juga: Jangan Larang Anak Laki-laki Menangis, Ini 3 Alasannya
Hindari kalimat seperti:
Sebaliknya, katakan:
Dengan begitu, anak memahami bahwa yang dikoreksi adalah tindakannya, bukan dirinya sebagai pribadi.

Nada bicara sering kali lebih diingat daripada isi perkataannya. Menurut Child Mind Institute, orang tua yang mampu menjaga suara tetap tenang justru lebih mudah mendapatkan perhatian anak dibandingkan yang berteriak. Anak juga belajar mengelola emosinya dengan melihat bagaimana orang tua bereaksi.
Baca juga: 15 Pesan untuk Anak Laki-laki Saya Sebelum Mereka Beranjak Remaja
Sering kali orang tua langsung memberikan ceramah tanpa bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Cobalah membuka percakapan dengan pertanyaan seperti:
Mendengarkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi menunjukkan rasa hormat sehingga anak lebih terbuka.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menekankan bahwa dalam berkomunikasi dengan remaja, kemampuan mendengarkan sering kali lebih penting daripada memberi nasihat panjang lebar.
Sampaikan inti masalah secara singkat:
Setelah itu, beri kesempatan anak merespons.
Baca juga: Ini Perbedaan Anak Laki-Laki dan Perempuan Berdasarkan Riset
Tujuan menegur adalah membantu anak belajar, bukan sekadar membuatnya merasa bersalah.
Misalnya: “Besok kita sama-sama cari cara supaya kamu bisa pulang tepat waktu.”
Jika memang perlu konsekuensi, buatlah yang masuk akal, konsisten, dan berkaitan dengan perilaku yang dilakukan, bukan hukuman yang berlebihan.

Hindari kalimat seperti:
Sebaliknya, gunakan kalimat yang dimulai dengan:
Kalimat seperti ini terdengar lebih mengajak berdiskusi daripada menghakimi.
Remaja tetap membutuhkan batasan, tetapi mereka juga membutuhkan rasa dihargai. Saat orang tua mampu menegur dengan tenang, peluang anak untuk mendengarkan justru menjadi lebih besar.