
Cari kegiatan seru di rumah? Ini 12 ide kerajinan dari karton gulungan tisu yang murah, mudah dibuat, dan bisa mengajak anak berkreasi.
Ada kalanya anak sudah mulai bosan dengan mainan yang ada di rumah, sementara Mommies juga gak selalu ingin membeli mainan atau perlengkapan baru. Kalau sudah begini, coba lihat lagi barang-barang sederhana yang ada di rumah. Salah satunya karton gulungan tisu yang biasanya langsung masuk tempat sampah setelah tisunya habis.
Padahal, benda berbentuk tabung ini bisa diubah menjadi banyak kreasi menarik. Mulai dari teropong, hewan, roket, sampai permainan yang bisa membuat anak berimajinasi. Jadi, daripada buru-buru dibuang, Mommies bisa menyimpannya beberapa buah untuk dijadikan bahan bermain dan berkarya bersama anak.
Bukan cuma soal menghemat pengeluaran, kegiatan membuat kerajinan juga memberikan kesempatan bagi anak untuk menentukan sendiri bentuk, warna, dan cara membuat sesuatu. UNICEF dalam laporan The Power of Play menjelaskan bahwa benda-benda sederhana di rumah dan material sehari-hari dapat mendukung imajinasi, kreativitas, dan pembelajaran anak ketika digunakan dalam kegiatan bermain.
Jadi, karton gulungan tisu yang kelihatannya sederhana ternyata bisa menjadi bahan bermain yang cukup menarik.
BACA JUGA: 10 Kreasi dari Tutup Botol Bekas untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif
Mommies mungkin berpikir, “Memangnya cuma bikin prakarya bisa melatih kreativitas anak?”
Jawabannya, bisa.
Saat membuat kerajinan, anak gak hanya mengikuti instruksi. Mereka juga bisa menentukan warna, memilih bentuk, mencoba cara menempelkan bagian-bagian tertentu, sampai mencari solusi ketika hasilnya gak sesuai dengan yang dibayangkan.
Dalam kegiatan seni yang berfokus pada proses, National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menjelaskan bahwa anak perlu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi material, membuat pilihan, dan mengembangkan ide mereka sendiri, bukan sekadar menghasilkan karya yang bentuknya harus sama dengan contoh.
Karena itu, gak masalah kalau hasil akhirnya gak terlihat sempurna seperti contoh di internet. Justru, biarkan anak punya versi buatannya sendiri.
Nah, kalau Mommies punya beberapa karton gulungan tisu yang sudah tidak terpakai, berikut beberapa ide yang bisa dicoba bersama anak.

Ini salah satu kreasi yang paling sederhana dan bisa langsung dilanjutkan menjadi permainan.
Mommies hanya membutuhkan dua karton gulungan tisu, kertas warna, lem, gunting, tali, dan alat untuk menghias seperti krayon atau spidol.
Pertama, lapisi kedua karton dengan kertas warna sesuai pilihan anak. Setelah itu, satukan kedua karton menggunakan lem atau selotip. Mommies bisa membantu membuat lubang di kedua sisi untuk memasang tali sehingga teropong dapat digantung di leher.
Setelah jadi, jangan berhenti di tahap membuat prakarya. Ajak anak bermain menjadi penjelajah.
Misalnya, “Coba cari lima benda berwarna hijau di rumah,” atau “Ada berapa burung yang bisa kamu lihat dari jendela?”
Dari sini, satu kerajinan sederhana bisa berubah menjadi permainan mencari benda, mengamati lingkungan, sekaligus membuat cerita sendiri.
Karton gulungan tisu juga bisa diubah menjadi karakter hewan.
Salah satu yang mudah dibuat adalah burung hantu. Mommies bisa menyiapkan karton gulungan tisu, kertas warna, lem, gunting, dan spidol.
Lapisi bagian luar karton dengan kertas warna. Kemudian, lipat bagian atas karton hingga membentuk dua ujung yang menyerupai telinga burung hantu.
Setelah itu, anak bisa membuat mata, sayap, paruh, dan bagian kaki menggunakan kertas warna. Biarkan anak menentukan sendiri kombinasi warnanya.
Mau burung hantunya warna pink? Boleh. Mau matanya beda warna? Boleh juga.
Gak perlu khawatir kalau hasilnya sedikit berbeda dari contoh. Justru, bagian tersebut bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk menentukan sendiri seperti apa karakter yang ingin dibuat.

Kalau anak suka binatang, coba bikin ular.
Caranya juga cukup sederhana. Warnai karton gulungan tisu menggunakan cat atau spidol. Setelah kering, Mommies bisa membantu menggunting karton secara melingkar dari salah satu ujung sampai membentuk bagian tubuh ular yang panjang.
Anak kemudian bisa menambahkan mata dan lidah dari kertas merah.
Setelah selesai, bagian yang paling seru adalah ketika ular tersebut dimainkan. Anak bisa membuat cerita sendiri tentang ke mana ular itu pergi, bertemu siapa, atau bahkan membuat habitatnya dari benda-benda lain yang ada di rumah.
Jadi, gak berhenti sebagai kerajinan saja, tetapi bisa berlanjut menjadi permainan imajinatif.
Anak suka cerita tentang luar angkasa? Karton gulungan tisu bisa diubah menjadi roket mini.
Mommies bisa membantu menyiapkan karton gulungan tisu, kertas warna, lem, gunting, dan spidol. Lapisi karton dengan warna yang diinginkan, kemudian buat bagian ujung roket menggunakan kertas yang dibentuk seperti kerucut.
Untuk bagian bawahnya, tambahkan potongan kertas warna merah, kuning, atau oranye sebagai gambaran api roket.
Setelah roket selesai, ajak anak membuat permainan imajinatif. Misalnya, anak berpura-pura menjadi astronaut yang sedang melakukan perjalanan ke planet lain.
Bisa juga Mommies ikut bermain dan bertanya, “Kita sekarang mau mendarat di planet apa?” atau “Di planet itu ada makhluk apa?”
Dari satu karton sederhana, permainan bisa berkembang menjadi cerita yang panjang.

Kalau Mommies ingin membuat sesuatu yang gak hanya dimainkan tetapi juga bisa digunakan, coba ubah karton gulungan tisu menjadi tempat pensil.
Karton bisa dilapisi kertas warna atau dicat terlebih dahulu. Kemudian, buat alas dari karton tebal dan tempelkan bagian bawah gulungan tisu di atasnya.
Setelah itu, biarkan anak menghiasnya sesuai selera.
Bisa ditempeli nama, gambar karakter favorit, stiker, atau pola warna-warni. Kalau punya beberapa gulungan, Mommies bahkan bisa membuat satu set tempat alat tulis untuk pensil, krayon, dan spidol.
Dengan begitu, hasil prakarya anak juga bisa benar-benar digunakan setelah selesai dibuat.
Mau sekalian bikin alat musik sendiri?
Karton gulungan tisu bisa digunakan untuk membuat marakas sederhana. Mommies bisa menggunakan bahan kering seperti beras atau pasta sebagai isi, kemudian menutup kedua ujung karton dengan rapat.
Setelah itu, anak bisa menghias bagian luarnya dengan kertas warna, gambar, atau stiker.
Dan ketika sudah selesai, tinggal digoyangkan.
Mommies bisa sekalian mengajak anak membuat permainan musik sederhana. Misalnya, Mommies tepuk tangan tiga kali, lalu anak harus menggoyangkan marakas mengikuti iramanya.
Untuk aktivitas ini, pastikan bahan isi benar-benar tertutup rapat dan tidak dapat keluar. Karena beras, pasta, dan benda kecil lainnya dapat berisiko tertelan, aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan usia anak dan selalu dilakukan dengan pengawasan orang dewasa.
BACA JUGA: 15 Kreasi dari Kardus Bekas untuk Anak SD, Murah dan Edukatif

Karton gulungan tisu juga bisa menjadi bagian dari mobil-mobilan.
Untuk membuatnya, siapkan karton gulungan, kertas warna, lem, gunting, dan empat lingkaran dari karton sebagai roda. Anak bisa menentukan sendiri warna mobil dan menambahkan jendela, lampu, nomor mobil, atau gambar lainnya.
Kalau punya beberapa karton, Mommies dan anak bisa membuat satu garasi kecil sekaligus.
Setelah itu, biarkan anak bermain seolah-olah sedang punya kota sendiri. Mobil bisa pergi ke sekolah, rumah sakit, supermarket, atau tempat lain yang dibuat dari barang-barang di rumah.
Di sinilah kegiatan membuat kerajinan bisa berkembang menjadi permainan yang lebih panjang.
Kalau ingin membuat prakarya yang bisa dipajang di kamar anak, karton gulungan juga dapat dikreasikan menjadi tempat foto sederhana.
Mommies bisa memotong bagian atas karton untuk membuat celah kecil sebagai tempat menyelipkan foto. Setelah itu, bagian luar karton bisa dihias menggunakan kertas warna, cat, stiker, pita, atau gambar buatan anak.
Foto yang digunakan gak harus foto keluarga. Bisa juga gambar hasil karya anak yang ingin dipajang.
Dengan cara ini, Mommies gak hanya mengajak anak membuat sesuatu, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menentukan sendiri bagaimana hasil karyanya ingin ditampilkan.

Kalau anak punya mobil-mobilan atau boneka kecil, karton gulungan tisu bisa diubah menjadi terowongan.
Caranya gampang. Anak tinggal menghias karton sesuai keinginannya, lalu letakkan di lantai sebagai terowongan.
Setelah itu, mobil-mobilan bisa didorong melewati terowongan.
Kalau punya beberapa karton, susun menjadi beberapa jalur. Anak kemudian bisa mencoba mencari jalan paling cepat atau membuat cerita bahwa mobilnya sedang melewati sebuah terowongan rahasia.
Mommies juga bisa menambahkan tantangan sederhana, seperti meminta anak membuat dua terowongan dengan ukuran berbeda dan melihat mainan mana yang bisa melewatinya.
Untuk anak yang lebih besar dan sudah siap bermain dengan benda kecil, karton gulungan tisu juga bisa digunakan untuk membuat permainan jalur kelereng.
Mommies bisa memotong beberapa karton dan menempelkannya pada permukaan yang aman sehingga membentuk jalur yang berbeda. Anak dapat mencoba membuat jalur berbentuk zig-zag, menurun, atau berbelok.
Yang menarik, anak bukan hanya menghias benda. Mereka juga perlu mencoba, melihat apa yang terjadi, lalu mengubah susunan ketika kelereng gak sampai ke tujuan.
Konsep seperti ini memberi kesempatan anak untuk bereksperimen dan memecahkan masalah. Material yang bisa digunakan dengan berbagai cara juga dapat mendukung eksplorasi dan kreativitas anak, seperti dijelaskan NAEYC dalam pembahasannya mengenai penggunaan material terbuka atau loose parts.
Tapi ingat, Mommies, kelereng dan benda kecil lainnya berisiko tertelan. Jadi, aktivitas ini sebaiknya hanya untuk anak yang sudah cukup besar dan selalu dalam pengawasan orang dewasa.

Kalau Mommies punya cukup banyak karton gulungan tisu, jangan hanya membuat satu prakarya.
Bikin satu kota mini sekalian.
Karton gulungan bisa menjadi bagian dari gedung, tiang, atau bangunan lain. Tambahkan kardus yang sudah tidak terpakai sebagai jalan dan kotak makanan sebagai rumah-rumahan.
Anak bisa menggambar jalan, membuat taman, rumah sakit, sekolah, atau tempat lain yang ada di kotanya.
Mommies gak perlu memberikan terlalu banyak aturan. Cukup tanyakan, “Kalau bikin kota sendiri, kamu mau ada apa saja?”
Mungkin anak akan membuat rumah yang sangat besar, jalan yang berkelok-kelok, atau bahkan gedung yang gak pernah Mommies bayangkan.
Setelah kota selesai dibuat, permainan belum berakhir.
Anak masih bisa menggunakannya untuk bermain peran sebagai warga, dokter, guru, pemadam kebakaran, arsitek, atau profesi lainnya.
Nah, kalau Mommies gak mau terlalu banyak memberikan contoh yang harus ditiru anak, bisa juga lakukan yang satu ini.
Kasih satu karton gulungan tisu.
Lalu tanyakan:
“Menurut kamu, benda ini bisa jadi apa?”
Jangan langsung kasih jawaban.
Mungkin anak akan membuat robot. Bisa juga menjadi monster, roket, manusia, hewan, atau sesuatu yang bahkan gak terpikirkan oleh Mommies.
Justru bagian ini yang menarik.
Dalam pendekatan seni yang berfokus pada proses, anak diberikan ruang untuk memilih material, mencoba berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan sendiri mengenai apa yang ingin mereka ciptakan. Hasil akhirnya pun gak harus sama dengan contoh yang diberikan orang dewasa.
Jadi, gak harus selalu ada contoh yang “benar”.
Kadang, memberikan ruang kepada anak untuk menentukan sendiri justru bisa membuat mereka lebih bebas berkreasi.

Mommies, salah satu godaan ketika membuat prakarya bersama anak adalah ingin hasil akhirnya terlihat bagus.
Padahal, aktivitas ini bukan lomba membuat kerajinan paling cantik.
Kalau anak memilih warna yang menurut kita “aneh”, biarkan.
Kalau matanya gak simetris, gak masalah.
Kalau roketnya malah terlihat seperti monster, ya sudah.
Tanyakan saja, “Ini ceritanya apa?” atau “Kenapa kamu pilih warna ini?”
Pertanyaan seperti itu bisa membuka percakapan dan membuat anak bercerita tentang ide yang ada di kepalanya.
Konsep seni yang berfokus pada proses juga menempatkan pengalaman anak saat membuat karya sebagai hal yang penting, bukan hanya hasil akhirnya. Anak diberi kesempatan untuk bereksplorasi, membuat pilihan, dan mengembangkan idenya sendiri.
Jadi, daripada sibuk membetulkan hasil karya anak, sesekali coba mundur sedikit dan biarkan mereka bereksperimen.
Sebelum mulai, ada beberapa hal sederhana yang perlu diperhatikan, terutama kalau aktivitas dilakukan bersama anak yang masih kecil.
Pastikan karton dalam kondisi kering dan bersih. Karena bahan ini akan digunakan untuk kegiatan bermain, jangan gunakan karton yang sudah terkena air, kotoran, atau bahan lain yang gak jelas.
Untuk bagian yang perlu dipotong, terutama jika menggunakan gunting, sesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Mommies bisa mengambil alih bagian yang lebih sulit atau berisiko.
Kalau menggunakan lem, cat, glitter, atau bahan dekorasi lainnya, pilih produk yang sesuai untuk anak dan gunakan di area yang mudah dibersihkan.
Perhatikan juga bahan-bahan kecil seperti manik-manik, kancing, kacang-kacangan, pasta, atau kelereng. Benda-benda tersebut sebaiknya gak diberikan kepada anak yang masih berisiko memasukkan benda ke mulut.
Dan yang paling penting, awasi anak selama membuat dan memainkan hasil kerajinannya.
BACA JUGA: 10 Kreasi dari Sedotan untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif
Ternyata cukup banyak, kan, Mommies?
Dari satu benda sederhana, anak bisa membuat teropong, burung hantu, ular, roket, tempat pensil, marakas, mobil-mobilan, terowongan, marble run, sampai kota mini.
Yang menarik, Mommies gak perlu menyediakan bahan khusus yang mahal untuk memulai. Cukup lihat barang-barang yang memang sudah ada di rumah dan biarkan anak bereksperimen dengan imajinasinya. UNICEF sendiri menekankan bahwa material sederhana yang ada di sekitar anak dapat menjadi bagian dari pengalaman bermain yang mendukung imajinasi, kreativitas, dan pembelajaran.
Dan mungkin, tujuan akhirnya bukan tentang seberapa bagus hasil kerajinannya.
Bisa jadi yang lebih penting adalah proses ketika anak berkata, “Ma, aku punya ide!”, lalu mulai mencoba membuat sesuatu dari tangannya sendiri.
Karena dari benda yang tadinya terlihat gak berguna, anak bisa belajar bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa diubah menjadi sesuatu yang baru.
Dan bukankah kreativitas memang sering dimulai dari keberanian untuk mencoba?
Cover: Magnific