
Anak bertanya soal perceraian? Ini cara menjelaskan perceraian kepada anak menurut psikolog, lengkap dengan kalimat yang dianjurkan agar anak tetap merasa aman, dicintai, dan tidak menyalahkan diri sendiri.
“Kenapa Mama dan Papa nggak tinggal bareng lagi?”
Pertanyaan seperti ini mungkin menjadi salah satu momen paling berat bagi orang tua yang sedang menjalani proses perceraian. Banyak orang tua bingung harus menjawab apa saat anak bertanya soal perceraian karena takut melukai perasaan anak, tetapi juga tidak ingin berbohong. Sayangnya, diam atau menghindari pertanyaan justru bukan solusi terbaik.
Anak tetap membutuhkan penjelasan yang jujur dan sesuai usia mereka agar tidak menyalahkan diri sendiri atau membangun asumsi yang keliru.
Jawaban singkatnya, orang tua perlu menjelaskan perceraian dengan jujur, menggunakan bahasa sesuai usia anak, serta menegaskan bahwa perceraian bukan kesalahan anak dan kedua orang tua tetap mencintainya.
Baca juga: Rekomendasi Jasa Pengacara Perceraian

Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengatakan bahwa anak perlu memahami apa yang sedang terjadi dalam keluarganya. Jika tidak, anak akan bingung mengapa perceraian itu terjadi. Mereka bisa membentuk asumsi sendiri, misalnya menganggap bahwa merekalah penyebab perceraian orang tuanya.
Senada dengan itu, psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., menjelaskan bahwa ketidaktahuan dapat memengaruhi emosi dan perkembangan anak. Karena itu, orang tua perlu menjelaskan situasi yang terjadi dengan bahasa yang sederhana dan sesuai usia anak.
Dalam artikel yang dimuat di Psychology Today, psikolog Tiffany Clomax, Psy.D., menyebutkan ada empat pesan penting yang sebaiknya disampaikan orang tua kepada anak.
Anak mungkin tidak akan mengingat semua kata-kata yang diucapkan orang tua. Namun, mereka akan mengingat apakah saat itu mereka merasa aman, dicintai, dan didengarkan.
Baca juga: Anak dan Perceraian: Apa Harapan Anak dari Orang Tua yang Bercerai?

Ketika anak mulai bertanya lebih jauh, bukan berarti orang tua harus menceritakan seluruh masalah rumah tangga. Penjelasan tidak perlu terlalu mendetail, terutama mengenai konflik antara ayah dan ibu.
Psikolog Mario Manuhutu dari Rumah Dandelion juga menyarankan agar orang tua tetap terbuka, tetapi menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Hindari menjadikan anak sebagai “tempat curhat” atau meminta mereka memihak salah satu orang tua.
Kalimat seperti berikut dapat membantu anak merasa lebih tenang menghadapi perubahan besar dalam hidupnya.

Berikan penjelasan yang sangat sederhana dan konkret, misalnya mengenai siapa yang akan tinggal bersama mereka dan kapan bisa bertemu orang tua lainnya.
Anak mulai merasakan kecemasan dan takut kehilangan salah satu orang tua. Pada usia ini, mereka mungkin akan mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali.
Remaja cenderung ingin memahami alasan di balik perceraian. Namun, mereka tetap membutuhkan kepastian bahwa hubungan mereka dengan kedua orang tua tidak berubah.
Baca juga: Apa yang Membuat “Anak-Anak” Ini Baik-Baik Saja Padahal Orang Tua Mereka Bercerai
Perceraian memang mengubah banyak hal. Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah kehadiran emosional orang tua bagi anak. Tetaplah hadir, mendengarkan, dan menunjukkan kasih sayang setelah semuanya berubah. Dengan penjelasan yang jujur dan sesuai usia, anak akan lebih mudah memahami situasi tanpa merasa menjadi penyebab perceraian orang tuanya.