Sorry, we couldn't find any article matching ''

Nicky Sembiring: Menjadi Teladan dan Mengajarkan Anak Tentang Nilai Moral adalah Hal yang Paling Esensial dalam Parenting
Bagi Nicky Sembiring, di dalam moral sudah terkandung kasih, integritas, tanggung jawab, dan seterusnya, dan itu paling penting diajarkan kepada anak.
Menjalani hari-hari nan sibuk sebagai pekerja di salah satu bank swasta dan pelatih paduan suara tak lantas membuat prioritas seorang Nicky Sembiring akan keluarga jadi nomor dua. Justru, tantangan waktu dan kesibukan membuatnya tergerak untuk menjaga perannya sebagai pekerja, individu, suami dan ayah dari dua jagoannya, tetap seimbang.
Melalui bincang-bincang singkat dengannya, Nicky berbagi kisah dan pengalaman menarik di dalam perjalanannya sebagai orang tua: “Saya seperti melihat diri saya waktu kecil, di diri anak-anak sekarang,” ujarnya.
Seperti apa kisah inspiratifnya bagaimana gaya pengasuhan yang ia terapkan? Yuk, kenal lebih dekat.
Nicky Seimbiring: Menikmati Tantangan Kerja yang Selalu Berubah
Berkecimpung di dunia perbankan selama hampir 20 tahun, bagi Nicky Sembiring, industri perbankan itu menarik dan menantang. Sehari-hari, di divisi Funding Product, dirinya mengerahkan kreativitas untuk mengembangkan dan mengemas produk atau program perbankan yang menarik di divisi Funding Product, Hana Bank.
“Hingga saat ini, dunia perbankan tetap menantang, dan setiap saat tantangannya berbeda. Seperti sekarang ini, persaingan di industri ini semakin ketat, baik bank konvensional maupun digital. Di situlah kita ditantang untuk mutar otak, eksplorasi untuk bikin sesuatu yang nggak monoton dan membuat orang tertarik,” sahutnya yang sempat mengenyam pengalaman bekerja di Walt Disney World sebagai Cultural Representative.
Saat Musik Menjadi Passion Sekaligus Warisan
Setiap hari, kegiatan Nicky cukup padat. Selain bekerja, ia juga memenuhi panggilan pelayanan dengan melatih paduan suara di gereja dan beberapa komunitas paduan suara di luar gereja. Bahkan, ia sempat melayani sebagai pianis gereja. Namun karena keterbatasan waktu, ia memilih berfokus di paduan suara. Uniknya, kemampuan musikalnya didapat dari belajar sendiri alias otodidak.

Foto: dokumentasi pribadi
“Nggak pernah les. Dari kecil saya sudah merasa perlu upgrade myself. Saya mulai dari SMP, dari nol, eksplor kemampuan sendiri. Kebetulan sudah ada alat musik di rumah, lalu timbul keinginan, ketertarikan, dan rasa haus untuk tahu dan bisa musik, lalu saya eksekusi,” papar Nicky.
“Dulu, cara saya yaitu dengan mendekati orang-orang dewasa di gereja untuk berlatih. Saya juga dekati teman-teman yang les piano, lalu saya “curi ilmu” dari mereka, hehehe,” kenangnya.
“Saat kuliah, saya coba menggali potensi vokal, lalu saya bergabung dengan komunitas paduan suara asuhan almarhumah Aida Swenson Simanjuntak. Orang tua membebaskan saya untuk eksplorasi apapun. Mereka hanya mendukung untuk berlatih lebih giat. Itu yang membuat saya makin terdorong, dan jadi kebiasaan untuk mengulik lagu. Saya nggak pernah anggap remeh, mungkin itu juga yang membuat saya jadi bisa.” paparnya lebih lanjut.
Ternyata, kemampuan bermusiknya terwariskan ke anak-anaknya.
“Rupanya, buah nggak jatuh dari pohonnya. Saya melihat anak-anak saat ini seperti saya di masa lalu. Anak-anak suka eksplorasi musik dari mana saja. Di usia mereka yang muda (12 dan 10 tahun), anak-anak sudah terlihat bakat musiknya. Mereka bisa bermain piano, gitar, drum, dan beberapa alat musik lainnya. Mereka juga terlibat di pelayanan Sekolah Minggu di gereja. Padahal, saya nggak nge-les-in mereka. Minat akan musik timbul sendiri di diri mereka.
Melihat itu, saya dan mamanya bilang ke anak-anak: Do your best, teruskan bakatnya. Kami mendukung penuh,” kisah Nicky.
Mengatasi Tantangan Waktu: Membersamai Anak Tak Hanya Soal Kuantitas, Tetapi Juga Kualitas
Baginya, waktu adalah salah satu hal yang paling menantang dari pengasuhan anak. Sekalipun menantang, Nicky sadar bahwa seorang ayah perlu hadir dan terlibat bagi keluarga. “Tetapi tidak boleh sekadar formalitas, harus berkualitas. Bagi saya, kehadiran fisik dan emosional bagi anak-anak adalah momen yang “mahal,” lanjut Nicky.
“Beruntung, saya bekerja di kantor yang mendukung work-life balance; jadi saya bisa pulang tenggo setiap hari. Sampai rumah capek udah pasti, ya, tetapi saya bilang sama diri sendiri: sekitar 12 jam sehari saya nggak bersama mereka, masak saya nggak hadir lagi di rumah? Mengandalkan weekend aja rasanya nggak cukup.

Foto: dokumentasi pribadi
Oleh karena itu, saya berusaha membersamai anak-anak di rumah, minimal main game, ngulik musik, makan malam dan doa bareng, ngobrol santai atau kegiatan lain sebelum mereka tidur. Nggak harus lama-lama banget, kok, 30 menit aja udah syukur. Sebab saya pikir, mereka nantinya besar, nggak akan bersama kita lagi.
Saya juga ingin menjadi orang tua yang didengar oleh anak-anak. Jadi ruang aman dan nyaman bagi mereka. Untuk mencapai itu, saya harus hadir, kan? Jadi, ibaratnya saya nabung kehadiran dari sekarang. Oleh karena itu saya perlu manage waktu dan ego saya. ” terangnya.
Membesarkan Anak di Era Modern Perlu Pondasi Moral yang Kuat
Di tengah gempuran media sosial dan pergaulan digital, Nicky dan istri menyadari bahwa hal paling fundamental dalam mengasuh anak yaitu pendidikan di rumah.
“Fokus utamanya yaitu membangun pondasi karakter di rumah. Utamanya, pendidikan moral. Karena di dalam morality, itu udah mencakup berbagai hal, termasuk kasih, integritas, tanggung jawab, dan seterusnya.
Kami menghindari melarang-larang secara ekstrem atau kaku. Jika pondasinya kuat, kami yakin, apapun yang mereka serap dari dunia digital, mereka akan kembali ke rumah.

Foto: dokumentasi pribadi
Kami juga membekali anak-anak dengan realitas tantangan di luar rumah. Misalnya, saya bilang sama anak-anak: mungkin saja di luar sana kamu bertemu bullier, nah, kamu jangan sampai jadi bullier. Ini agar mereka siap. Kami juga memantau pergaulan anak, sambil melihat apakah pondasi yang kami ajarkan ke anak, efektif dan mereka terapkan.
Sebagai ayah dari dua anak laki-laki praremaja, Nicky juga berbagi tips: “Mulai ada, sih, pergolakan emosi dari anak-anak. Tetapi sejauh ini masih terkontrol, nggak berlebihan. Yaa, mulai ada penolakan, ada konflik juga. Saya buka ruang untuk anak speak up, tapi juga kasih arahan dan pengertian, serta why-nya biar anak paham. Tanpa menjelaskan why-nya, nggak akan jalan,” tutur Nicky.
Memberi Teladan dalam Hal Relasi dengan Pasangan
Dalam menjalani perannya sebagai kepala keluarga, tentunya tak lepas dari peran istri. “Nggak kebayang kalau nggak ada dia (baca: istri). Berhubung saya kerja, otomatis istri yang mengayomi dan mendampingi anak-anak setiap harinya. Dialah yang paling mendukung kami di rumah.

Foto: dokumentasi pribadi
Oleh karena itu, saya juga menunjukkan di depan anak-anak bagaimana berelasi dengan mamanya. Termasuk berkata-kata dengan sopan, menunjukkan bahasa cinta dengan bergandengan tangan dan berpelukan, supaya anak-anak bisa mencontoh kehangatan dan perilaku kami,” ungkap Nicky.
Pesan Nicky Sembiring bagi Para Ayah
Sebelum menutup obrolan, Nicky ingin berbagi dengan para daddies di manapun berada: “Hal paling dasar menjadi ayah yaitu hadir bagi keluarga. Hadir untuk kegiatan-kegiatan anak, sekecil apapun. Kehadiran kita bisa memperlihatkan kepada mereka bahwa kita bangga pada mereka.
Kedua, jadi teladan bagi anak-anak. Karena, mereka lagi dalam tahap meniru. Jadi, penting banget buat kita memberi contoh tingkah laku yang benar kepada anak-anak. Jangan ragu menunjukkan afeksi kepada mereka seperti mengizinkan mereka menangis, memeluk mereka di depan umum, dan lain-lain. Mengekspresikan bahasa cinta itu akan membuat mereka percaya diri untuk menghadapi dunia luar,” tutup Nicky hangat.
Cover: dokumentasi pribadi
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS