
Cari ide aktivitas DIY anak di rumah? Kegiatan sederhana ini bukan hanya seru, tetapi juga diam-diam bisa melatih kemampuan problem solving, kreativitas, berpikir kritis, dan rasa percaya diri anak sejak dini.
Libur sekolah belum selesai, cuaca lagi nggak bersahabat buat main di luar, atau Mommies memang sedang mencari kegiatan yang nggak melulu melibatkan gadget? Kalau jawabannya iya, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalkan aktivitas DIY anak di rumah.
Banyak orang tua mengira DIY (Do It Yourself) cuma soal membuat prakarya atau kerajinan tangan. Padahal, di balik kegiatan yang terlihat sederhana ini, ada banyak proses berpikir yang sedang berlangsung. Anak belajar mencoba, gagal, mencari solusi, lalu mencoba lagi. Tanpa sadar, mereka sedang mengasah kemampuan problem solving yang akan berguna sampai dewasa nanti.
Yang lebih menyenangkan, aktivitas DIY juga bisa menjadi quality time yang hangat antara Mommies, Daddies, dan si kecil.
BACA JUGA: 8 Ide DIY Ramah Lingkungan dan Edukatif yang Disukai Anak, Kreatif Kelola Sampah
Saat menghadapi tantangan, anak tidak otomatis tahu harus melakukan apa. Kemampuan menyelesaikan masalah justru berkembang lewat pengalaman.
Misalnya, ketika menara baloknya roboh. Anak akan berpikir, “Kenapa ya jatuh?” Lalu, mereka mulai mencoba menyusun ulang dengan cara berbeda. Proses sederhana seperti ini melatih mereka untuk:
Semakin sering anak diberi kesempatan menemukan solusi sendiri, semakin kuat pula kemampuan berpikir kritisnya.

Kabar baiknya, Mommies nggak perlu membeli perlengkapan mahal. Banyak bahan di rumah yang bisa disulap menjadi permainan edukatif.
Siapkan sedotan, selotip, dan gunting.
Tantang anak membuat jembatan yang cukup kuat menahan beberapa mobil-mobilan atau buku tipis.
Di sini anak akan belajar bahwa bentuk segitiga ternyata lebih kuat dibanding sekadar menyusun sedotan lurus. Kalau jembatannya roboh? Justru di situlah proses belajarnya dimulai.
Kemampuan yang terlatih:
Gunakan tutup botol, stik es krim, atau gulungan tisu bekas untuk membuat jalur bola di dalam kardus.
Biarkan anak merancang sendiri lintasannya.
Saat bolanya macet atau keluar jalur, mereka akan mencari tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.
Aktivitas ini juga membantu melatih kemampuan membuat strategi.
Ajak anak bereksperimen menggunakan berbagai bahan, seperti:
Lalu uji mana yang paling kuat mengapung.
Mommies bisa memancing diskusi sederhana.
“Menurut Kakak, kenapa ya perahu yang ini tenggelam?”
Pertanyaan terbuka seperti ini membuat anak terbiasa berpikir, bukan sekadar menerima jawaban.
Gunakan kardus bekas, kotak sepatu, gulungan tisu, dan botol plastik.
Biarkan anak mendesain sebuah kota lengkap dengan rumah, jalan raya, sekolah, hingga taman.
Di tengah proses biasanya akan muncul tantangan, seperti:
Nah, semua masalah kecil itu adalah latihan problem solving yang nyata.

Kalau anak mulai bosan dengan DIY biasa, coba tantangan yang satu ini.
Gunakan benda-benda sederhana, seperti:
Minta anak membuat rangkaian sehingga satu benda dapat memicu benda berikutnya untuk bergerak.
Kalau gagal?
Bagus.
Artinya, mereka sedang belajar memperbaiki desain dan memahami hubungan sebab-akibat.
Gambar sesuatu di karton, lalu gunting menjadi beberapa bagian.
Minta anak menyusun kembali.
Versi yang lebih seru, biarkan mereka sendiri menentukan bentuk potongan puzzle.
Saat ternyata potongannya terlalu rumit atau justru terlalu mudah, mereka akan belajar mengevaluasi hasil pekerjaannya.
BACA JUGA: 10 Kreasi dari Tutup Botol Bekas untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif
Ini mungkin tantangan terbesar bagi orang tua.
Saat melihat anak kesulitan, refleks kita biasanya langsung membantu.
Padahal, justru ketika anak berpikir, mencoba, lalu gagal, otaknya sedang bekerja paling optimal.
Alih-alih langsung memberi jawaban, Mommies dan Daddies bisa mencoba bertanya:
“Menurutmu, apa yang bisa dicoba lagi?”
“Kalau dibalik, kira-kira berhasil nggak, ya?”
“Bagian mana yang menurutmu paling susah?”
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak menemukan solusi sendiri tanpa merasa dihakimi.
Kadang hasil prakarya anak memang jauh dari ekspektasi orang dewasa. Lem berantakan, guntingannya miring, atau bentuknya sulit dikenali.
Nggak apa-apa.
Dalam aktivitas DIY, yang paling penting bukan hasil akhirnya, melainkan prosesnya.
Selama proses itu, anak sedang belajar mengambil keputusan, mengatur strategi, mengelola rasa frustrasi, sekaligus membangun kepercayaan diri saat akhirnya berhasil menyelesaikan tantangan.
Jadi, lain kali saat si kecil mulai berkata, “Bosen di rumah…”, mungkin Mommies nggak perlu buru-buru menyalakan TV atau memberikan gadget.
Cukup keluarkan kardus bekas, sedotan, selotip, dan sedikit imajinasi. Siapa sangka, dari aktivitas DIY yang tampak sederhana, anak justru sedang mengembangkan kemampuan problem solving yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupannya nanti.