banner-detik
PARENTING & KIDS

6 Aktivitas DIY Anak di Rumah yang Diam-Diam Melatih Problem Solving, Bisa Dicoba

author

Dhevita Wulandariin 5 hours

6 Aktivitas DIY Anak di Rumah yang Diam-Diam Melatih Problem Solving, Bisa Dicoba

Cari ide aktivitas DIY anak di rumah? Kegiatan sederhana ini bukan hanya seru, tetapi juga diam-diam bisa melatih kemampuan problem solving, kreativitas, berpikir kritis, dan rasa percaya diri anak sejak dini. 

Libur sekolah belum selesai, cuaca lagi nggak bersahabat buat main di luar, atau Mommies memang sedang mencari kegiatan yang nggak melulu melibatkan gadget? Kalau jawabannya iya, mungkin ini saat yang tepat untuk mengenalkan aktivitas DIY anak di rumah.

Banyak orang tua mengira DIY (Do It Yourself) cuma soal membuat prakarya atau kerajinan tangan. Padahal, di balik kegiatan yang terlihat sederhana ini, ada banyak proses berpikir yang sedang berlangsung. Anak belajar mencoba, gagal, mencari solusi, lalu mencoba lagi. Tanpa sadar, mereka sedang mengasah kemampuan problem solving yang akan berguna sampai dewasa nanti.

Yang lebih menyenangkan, aktivitas DIY juga bisa menjadi quality time yang hangat antara Mommies, Daddies, dan si kecil.

BACA JUGA: 8 Ide DIY Ramah Lingkungan dan Edukatif yang Disukai Anak, Kreatif Kelola Sampah

Kenapa Problem Solving Penting Dilatih Sejak Kecil?

Saat menghadapi tantangan, anak tidak otomatis tahu harus melakukan apa. Kemampuan menyelesaikan masalah justru berkembang lewat pengalaman.

Misalnya, ketika menara baloknya roboh. Anak akan berpikir, “Kenapa ya jatuh?” Lalu, mereka mulai mencoba menyusun ulang dengan cara berbeda. Proses sederhana seperti ini melatih mereka untuk:

  • berpikir logis;
  • mencari alternatif solusi;
  • belajar dari kesalahan;
  • melatih kesabaran;
  • meningkatkan rasa percaya diri ketika berhasil.

Semakin sering anak diberi kesempatan menemukan solusi sendiri, semakin kuat pula kemampuan berpikir kritisnya.

Foto: Ron Lach/Pexels

Aktivitas DIY Anak yang Bisa Dicoba di Rumah

Kabar baiknya, Mommies nggak perlu membeli perlengkapan mahal. Banyak bahan di rumah yang bisa disulap menjadi permainan edukatif.

1. Membuat Jembatan dari Sedotan

Siapkan sedotan, selotip, dan gunting.

Tantang anak membuat jembatan yang cukup kuat menahan beberapa mobil-mobilan atau buku tipis.

Di sini anak akan belajar bahwa bentuk segitiga ternyata lebih kuat dibanding sekadar menyusun sedotan lurus. Kalau jembatannya roboh? Justru di situlah proses belajarnya dimulai.

Kemampuan yang terlatih:

  • problem solving;
  • berpikir ilmiah;
  • kreativitas.

2. Marble Maze dari Kardus Bekas

Gunakan tutup botol, stik es krim, atau gulungan tisu bekas untuk membuat jalur bola di dalam kardus.

Biarkan anak merancang sendiri lintasannya.

Saat bolanya macet atau keluar jalur, mereka akan mencari tahu bagian mana yang perlu diperbaiki.

Aktivitas ini juga membantu melatih kemampuan membuat strategi.

3. Membuat Perahu yang Bisa Mengapung

Ajak anak bereksperimen menggunakan berbagai bahan, seperti:

  • aluminium foil;
  • spons;
  • sedotan;
  • karton;
  • plastik.

Lalu uji mana yang paling kuat mengapung.

Mommies bisa memancing diskusi sederhana.

“Menurut Kakak, kenapa ya perahu yang ini tenggelam?”

Pertanyaan terbuka seperti ini membuat anak terbiasa berpikir, bukan sekadar menerima jawaban.

4. Membangun Kota Mini

Gunakan kardus bekas, kotak sepatu, gulungan tisu, dan botol plastik.

Biarkan anak mendesain sebuah kota lengkap dengan rumah, jalan raya, sekolah, hingga taman.

Di tengah proses biasanya akan muncul tantangan, seperti:

  • rumah terlalu tinggi lalu roboh;
  • jalan terlalu sempit;
  • jembatan tidak pas.

Nah, semua masalah kecil itu adalah latihan problem solving yang nyata.

Foto: cottonbro studio/Pexels

5. Membuat Mesin Rube Goldberg Sederhana

Kalau anak mulai bosan dengan DIY biasa, coba tantangan yang satu ini.

Gunakan benda-benda sederhana, seperti:

  • buku;
  • bola;
  • mobil-mobilan;
  • balok;
  • sendok.

Minta anak membuat rangkaian sehingga satu benda dapat memicu benda berikutnya untuk bergerak.

Kalau gagal?

Bagus.

Artinya, mereka sedang belajar memperbaiki desain dan memahami hubungan sebab-akibat.

6. DIY Puzzle Buatan Sendiri

Gambar sesuatu di karton, lalu gunting menjadi beberapa bagian.

Minta anak menyusun kembali.

Versi yang lebih seru, biarkan mereka sendiri menentukan bentuk potongan puzzle.

Saat ternyata potongannya terlalu rumit atau justru terlalu mudah, mereka akan belajar mengevaluasi hasil pekerjaannya.

BACA JUGA: 10 Kreasi dari Tutup Botol Bekas untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif

Jangan Terlalu Cepat Membantu

Ini mungkin tantangan terbesar bagi orang tua.

Saat melihat anak kesulitan, refleks kita biasanya langsung membantu.

Padahal, justru ketika anak berpikir, mencoba, lalu gagal, otaknya sedang bekerja paling optimal.

Alih-alih langsung memberi jawaban, Mommies dan Daddies bisa mencoba bertanya:

“Menurutmu, apa yang bisa dicoba lagi?”

“Kalau dibalik, kira-kira berhasil nggak, ya?”

“Bagian mana yang menurutmu paling susah?”

Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak menemukan solusi sendiri tanpa merasa dihakimi.

DIY Bukan Soal Hasil yang Bagus

Kadang hasil prakarya anak memang jauh dari ekspektasi orang dewasa. Lem berantakan, guntingannya miring, atau bentuknya sulit dikenali.

Nggak apa-apa.

Dalam aktivitas DIY, yang paling penting bukan hasil akhirnya, melainkan prosesnya.

Selama proses itu, anak sedang belajar mengambil keputusan, mengatur strategi, mengelola rasa frustrasi, sekaligus membangun kepercayaan diri saat akhirnya berhasil menyelesaikan tantangan.

Jadi, lain kali saat si kecil mulai berkata, “Bosen di rumah…”, mungkin Mommies nggak perlu buru-buru menyalakan TV atau memberikan gadget.

Cukup keluarkan kardus bekas, sedotan, selotip, dan sedikit imajinasi. Siapa sangka, dari aktivitas DIY yang tampak sederhana, anak justru sedang mengembangkan kemampuan problem solving yang akan menjadi bekal penting dalam kehidupannya nanti.

Cover: Yan Krukau/Pexels

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan