
Anak stres di sekolah bisa ditandai dengan sering mengeluh sakit, mudah marah, hingga menolak berangkat sekolah. Kenali tandanya agar bisa ditangani sejak dini.
“Ma, perutku sakit. Aku nggak mau sekolah.”
Kalimat seperti ini mungkin pernah Mommies dengar beberapa kali. Awalnya, wajar jika orang tua mengira anak hanya malas bangun pagi atau sekadar mencari alasan agar bisa tetap di rumah. Namun, bagaimana jika keluhan itu muncul hampir setiap hari?
Faktanya, anak usia sekolah dasar juga bisa mengalami stres. Tugas yang semakin banyak, tekanan untuk mendapat nilai bagus, konflik dengan teman, hingga rasa takut mengecewakan orang tua dapat menjadi beban yang sulit mereka ungkapkan.
Psikolog Pendidikan Binky Paramitha menjelaskan bahwa school burnout merupakan respons terhadap stres yang terjadi terus-menerus dalam kehidupan sekolah anak. Kondisi ini dapat membuat anak merasa lelah secara emosional, kehilangan motivasi, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa memengaruhi rasa percaya diri dan prestasi akademik anak.
Sayangnya, tidak semua anak mampu mengatakan, “Aku sedang stres.” Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku yang muncul.

Sebelum menyimpulkan anak hanya malas atau kurang semangat belajar, coba perhatikan beberapa perubahan berikut. Tanda-tanda ini sering muncul ketika anak mulai mengalami tekanan di lingkungan sekolah.
Anak yang mengalami stres kerap menunjukkan keluhan fisik meskipun tidak sedang sakit. Beberapa anak mengaku pusing, mual, atau sakit perut setiap kali jam sekolah tiba.
Psikolog anak dan remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan bahwa kecemasan pada anak dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik, meski sebenarnya tidak ada gangguan kesehatan yang serius.
Biasanya ceria, kini sedikit-sedikit kesal. Atau justru menjadi lebih sensitif saat membicarakan pelajaran dan sekolah.
Perubahan emosi yang drastis bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang memendam tekanan yang belum mampu ia ungkapkan.
Stres tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga kualitas tidur anak. Mereka mungkin jadi susah tidur, sering terbangun di malam hari, atau tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup.
Anak yang biasanya antusias bercerita tentang sekolah tiba-tiba menjadi cuek. Buku dan tugas sekolah mulai diabaikan, bahkan aktivitas favoritnya pun terasa tidak lagi menyenangkan.
School burnout sering ditandai dengan menurunnya motivasi belajar dan rasa lelah yang berkepanjangan.
BACA JUGA: Anak Sulit Beradaptasi dengan Guru Baru? Coba Cara Ini, Mommies
Tidak semua penurunan nilai berarti anak malas belajar. Bisa jadi, ia sedang kesulitan berkonsentrasi karena tekanan yang dirasakan.
Kondisi stres dapat membuat anak sulit fokus, lebih mudah terdistraksi, dan kesulitan menyelesaikan tugas sekolah.
Jika anak beberapa kali meminta izin tidak masuk sekolah, ingin terus ditemani ke kelas, atau menangis setiap pagi, jangan langsung memarahinya.
Anak yang cemas terhadap lingkungan sekolah dapat menunjukkan perilaku seperti menolak masuk kelas atau enggan berpisah dari orang tua.
Beberapa anak memilih diam dan menghabiskan waktu sendirian ketika sedang tertekan. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup, malas bermain, atau enggan bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah.

Stres pada anak tidak selalu berkaitan dengan nilai yang buruk. Terkadang, sumber tekanannya justru berasal dari hal-hal yang terlihat sepele.
Beberapa penyebab yang paling sering terjadi antara lain:
Aktivitas yang terlalu padat juga dapat membuat anak kehilangan waktu bermain dan beristirahat, sehingga meningkatkan risiko stres.
BACA JUGA: Hari Pertama SD, Coba 15 Pertanyaan Ini agar Anak Mau Bercerita
Photo by Dámaris Azócar on Unsplash
Saat anak terlihat tertekan, cobalah untuk tidak langsung memberikan nasihat atau solusi. Langkah pertama yang paling penting adalah mendengarkan.
Tanyakan dengan lembut, misalnya:
“Akhir-akhir ini ada yang bikin nggak nyaman di sekolah?”
atau
“Bagian mana yang paling bikin capek?”
Setelah itu, Mommies dan Daddies bisa melakukan beberapa hal berikut:
Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menunjukkan bahwa dirinya sedang kewalahan. Ada yang menjadi lebih pendiam, ada yang mudah marah, ada pula yang sering mengeluh sakit.
Karena itu, sebelum memberi label “malas” atau “kurang semangat”, cobalah melihat apa yang sebenarnya sedang dirasakan anak.
Sering kali, yang mereka butuhkan bukan nasihat panjang, melainkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami, dan menemani mereka melewati masa-masa yang terasa berat.
Cover: Magnific