
Penyebab gigi kuning pada anak dan orang dewasa tidak selalu karena kurang menjaga kebersihan. Kenali penyebab gigi kuning, cara mencegah, cara mengatasinya, serta kapan perlu periksa ke dokter gigi.
Pernah nggak, Mommies, lagi lihat foto keluarga terus baru sadar kalau warna gigi sendiri atau si kecil kok terlihat lebih kuning dibanding yang lain? Langsung kepikiran, “Wah, kurang bersih, ya?” Padahal, faktanya, gigi kuning belum tentu berarti giginya kotor atau jarang disikat, lho.
Warna gigi setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang cenderung putih, ada juga yang sedikit kekuningan sejak awal. Meski begitu, perubahan warna gigi tetap perlu diperhatikan karena bisa menjadi tanda adanya kebiasaan tertentu, faktor usia, hingga kondisi kesehatan gigi.
BACA JUGA: MD Ask the Expert: Mau Gigi Anak Sehat? Ini Kata Dokter Gigi
Supaya nggak salah kaprah, yuk cari tahu apa saja penyebab gigi kuning, bagaimana cara mencegahnya, dan kapan saatnya perlu penanganan khusus.
Nggak semua orang terlahir dengan warna gigi yang putih bersinar seperti di iklan pasta gigi. Lapisan dentin yang berada di bawah email gigi memang berwarna kekuningan. Kalau lapisan email seseorang lebih tipis secara alami, warna kuning dari dentin akan lebih terlihat.
Jadi, kalau Mommies atau Daddies merasa sudah rajin menjaga kebersihan gigi tetapi warnanya tetap tidak putih, bisa jadi memang dipengaruhi faktor genetik.
Semakin bertambah usia, lapisan email gigi akan semakin menipis akibat proses alami. Akibatnya, warna dentin yang lebih kuning menjadi semakin tampak.
Inilah mengapa warna gigi orang dewasa biasanya berbeda dengan anak-anak.

Ini salah satu penyebab gigi kuning yang paling sering terjadi.
Beberapa makanan dan minuman mengandung pigmen kuat yang mudah menempel pada permukaan gigi, misalnya:
Kalau dikonsumsi terlalu sering tanpa dibarengi kebiasaan membersihkan gigi yang baik, noda tersebut lama-kelamaan membuat gigi terlihat lebih kuning.
Bagi Daddies yang masih merokok, ini juga menjadi salah satu penyebab utama perubahan warna gigi.
Kandungan tar dan nikotin pada rokok dapat menempel di permukaan gigi dan menyebabkan warna kekuningan hingga kecokelatan yang cukup sulit dibersihkan hanya dengan menyikat gigi.
Jarang menyikat gigi atau tidak membersihkan sela-sela gigi membuat plak menumpuk.
Awalnya plak memang berwarna bening. Namun, jika terus dibiarkan, plak dapat mengeras menjadi karang gigi yang tampak kekuningan. Selain mengganggu penampilan, kondisi ini juga meningkatkan risiko gigi berlubang dan radang gusi.
Beberapa jenis antibiotik, seperti tetrasiklin dan doksisiklin, diketahui dapat memengaruhi warna gigi bila dikonsumsi pada masa pembentukan gigi.
Selain itu, obat kumur yang mengandung chlorhexidine dalam penggunaan jangka panjang juga dapat menyebabkan noda pada permukaan gigi.
Benturan pada gigi, terutama pada anak-anak, dapat memicu perubahan warna menjadi kuning, abu-abu, atau bahkan lebih gelap.
Kalau perubahan warna terjadi setelah anak terjatuh atau terbentur, sebaiknya segera periksakan ke dokter gigi.
BACA JUGA: Waspada! 7 Makanan dan Minuman Favorit Anak Ini Bikin Gigi Cepat Rusak
Sering kali orang tua panik saat melihat gigi permanen anak tampak lebih kuning dibandingkan dengan gigi susunya.
Padahal, kondisi ini umumnya normal.
Gigi permanen memang memiliki lapisan dentin yang lebih tebal sehingga warnanya cenderung lebih kekuningan dibanding gigi susu yang tampak lebih putih. Jadi, selama tidak disertai nyeri, lubang, atau kerusakan lain, Mommies tidak perlu langsung khawatir.
Namun, bila perubahan warna hanya terjadi pada satu gigi atau muncul bercak putih, cokelat, hingga hitam, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter gigi untuk memastikan penyebabnya.

Kabar baiknya, banyak penyebab gigi kuning yang sebenarnya bisa dicegah melalui kebiasaan sehari-hari.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:
Untuk anak-anak, jangan lupa dampingi mereka saat menyikat gigi hingga keterampilan motoriknya cukup baik, biasanya sekitar usia 7–8 tahun.
Kalau warna gigi sudah telanjur menguning, jangan buru-buru membeli produk pemutih yang viral di media sosial.
Langkah penanganannya sebaiknya disesuaikan dengan penyebabnya.
Kalau penyebabnya adalah plak dan karang gigi, dokter biasanya akan menyarankan scaling atau pembersihan karang gigi.
Sering kali, setelah scaling, warna gigi sudah terlihat lebih bersih.
Bleaching merupakan prosedur pemutihan gigi yang dilakukan oleh dokter gigi menggunakan bahan khusus.
Perlu diingat, bleaching bekerja paling baik untuk noda pada permukaan gigi. Bila warna kuning berasal dari faktor genetik atau struktur gigi, hasilnya bisa berbeda pada setiap orang.
Untuk kasus tertentu, veneer dapat menjadi pilihan jika perubahan warna cukup berat atau tidak dapat diperbaiki dengan bleaching.
Namun, prosedur ini memerlukan konsultasi menyeluruh dengan dokter gigi karena tidak selalu menjadi pilihan pertama.
Sekarang banyak sekali produk whitening yang dijual bebas, mulai dari pasta gigi, strip pemutih, hingga gel whitening.
Tidak semuanya berbahaya, tetapi penggunaannya tetap perlu bijak.
Jika dipakai berlebihan atau tidak sesuai petunjuk, produk pemutih bisa menyebabkan gigi menjadi sensitif, iritasi gusi, bahkan merusak lapisan email.
Karena itu, sebelum mencoba produk tertentu, terutama bila memiliki gigi sensitif atau pernah menjalani perawatan gigi, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter gigi.
BACA JUGA: 5 Penyakit yang Ditandai dengan Bau Mulut, Menurut Dokter Gigi
Mommies, warna gigi yang sedikit kekuningan ternyata tidak selalu berarti gigi kotor atau tidak sehat. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari genetik, usia, pola makan, hingga kebiasaan sehari-hari.
Yang terpenting bukan mengejar gigi seputih mungkin, melainkan memastikan gigi dan gusi tetap sehat. Dengan menjaga kebersihan mulut, membatasi makanan penyebab noda, dan rutin memeriksakan gigi ke dokter, senyum sehat seluruh anggota keluarga pun bisa tetap terjaga.
Karena pada akhirnya, senyum yang sehat selalu lebih penting daripada sekadar senyum yang terlihat putih.