Sorry, we couldn't find any article matching ''

Minat Baca Buku Anak Tetap Tinggi di Era TikTok? Cara Berikut Ini Terbukti Sederhana dan Berhasil
Jangan biarkan era Tiktok alias paparan video pendek ini melumpuhkan minat baca anak, simak apa saja yang bisa orang tua lakukan.
Lumpuhnya minat baca buku yang terjadi pada anak SD sebagai imbas dari menjamurnya video berdurasi pendek, terutama dari Tiktok dan Youtube Shorts, sebetulnya bukan merupakan isu yang baru. Jujur, kalau membahas soal minat baca yang “katanya” dipengaruhi oleh kebiasaan anak-anak zaman sekarang yang lebih sering terpapar oleh layar (gadget maupun smart TV), hal pertama yang akan saya lakukan sebagai orang tua adalah bertanya pada diri sendiri, mau ambil peran di mana dan bagaimana? Karena orang tualah yang memegang kendali penuh terhadap minat baca anak. Yuk, mari kita bahas!
Anak suka baca buku: tergantung orang tuanya!
Saya, sih, setuju banget sama pernyataan ini, ya. Kalau orang tua nggak pernah mengenalkan buku sepanjang kehidupan anak, gimana anak bisa punya minat baca? Kenal sama buku saja tidak! Saya juga yakin betul, kalau generasi kita ini bukanlah orang tua yang “nggak tahu apa-apa”. Kita pasti sudah paham peran membacakan buku pada anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Begitu ia lahir, anak akan terus kita kenalkan pada buku cerita. Bentuk buku bacaan anak jaman sekarang pun rata-rata disesuaikan dengan usia, tinggal orang tua pilih saja lewat keterangan yang tertera pada sampul. Coba, kalau konteksnya sekarang anak Mommies sudah SD, usianya sudah di atas 7 tahun, “Di rumah pasti sudah banyak buku bacaan anak, dong?”
Baca juga: 15 Rekomendasi Buku Anak untuk Stimulasi dan Bonding
PR kita bukan di menumbuhkan minat baca, melainkan menjaga kecintaan anak terhadap buku
Menumbuhkan minat baca pada anak itu lebih pas kalau kita berbicara ketika anak masih di usia dini, masih perlu bantuan kita untuk membacakan apa yang ada di dalam bukunya. Namun, kalau sekarang anak sudah duduk di bangku sekolah dasar, artinya, ia pun sudah belajar membaca sendiri. Sehingga, PR kita bukan lagi menumbuhkan minat bacanya, melainkan menjaga supaya anak tetap senang membaca, tetap punya rasa penasaran terhadap buku cerita, bisa menikmati bacaan yang lebih panjang (pergeseran dari buku anak dengan banyak gambar, ke buku cerita full teks), serta tetap antusias bertemu dengan ribuan bahkan jutaan kata baru setiap kali membaca buku. Maka, poin pentingnya adalah…
Jadikan baca buku sebagai sebuah “kewajiban satu rumah”, bukan sekadar kebiasaan
Ingat, ya, kita nggak akan bisa memiliki anak yang senang baca buku kalau kita sendiri tidak menjadi bukti nyata yang anak temui sehari-hari. Mau anak senang baca, tapi dorongan kita hanya sebatas, “Ayo baca buku, jangan nonton terus!” Ya, gimana anak mau baca buku kalau orang tuanya nggak punya “hubungan spesial” sama buku. Pada akhirnya, terutama di jaman sekarang, membaca buku bukan sekadar kebiasaan, tapi kewajiban yang perlu dijalankan di rumah, oleh seluruh anggota keluarga. Sulit? Memang! Namun inilah tantangan yang sedang kita hadapi sekarang, dan sepanjang masa yang akan datang. Kalau kita orang dewasa saja semudah itu memilih scrolling daripada menghabiskan waktu untuk baca buku, siapalah kita, berharap generasi penerus bangsa tetap punya minat baca yang tinggi?
Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Self Help Buat Ibu Bekerja, Cocok Buat Jadi Bahan Bacaan Saat Commuting
Menerapkan kebiasaan yang mendukung anak untuk lebih sering membaca
Oke, kalau baca buku menjadi sebuah kewajiban itu dianggap terlalu berat karena berbagai alasan (entah itu dibuat-buat, atau memang layak menjadi alasan), coba lewat cara yang lebih mudah. Pelan-pelan, terapkan kebiasaan, yang kira-kira bisa membuat anak jadi lebih sering membaca, daripada nonton. Bisa dengan cara yang seru seperti:
- Book Date. Ajak anak mengunjungi perpustakaan maupun toko buku. Mommies bisa pilih satu buku dan minta anak juga pilih satu buku yang mau ia baca, lalu lanjut ke cafe yang ramah anak untuk Anda dan anak sama-sama membaca buku tersebut.
- Kebiasaan sehari-hari di rumah. Seorang penulis dan mom-fluencer, Kania Anggiani, yang dikenal lewat akun Instagram kekekania, membagikan cara sederhara yang ia terapkan di rumah, yang selama ini berhasil membuat kedua anaknya jadi kutu buku.
Tips ala Kekekania:
- Tidak pasang TV di hari sekolah (Senin sampai Jumat). Selain TV, bisa juga diberlakukan pada penggunaan tab dan gadget lainnya, bila memungkinkan.
- Baca buku setiap hari minimal 30 menit.
- Jatah screen time saat libur sama dengan durasi baca buku (Bbaca buku 1 jam = dapat screen time 1 jam, baca buku 2 jam = dapat screen time 2 jam, dst).
- Setelah selesai baca, minta anak ceritakan apa yang mereka baca di bab tersebut, untuk membuktikan kalau mereka beneran baca.
- Biarkan anak memilih buku bacaannya sendiri.
Gadget nggak perlu dimusuhi, tapi buku perlu selalu dicintai
Sebesar dan seburuk apapun pengaruh gadget terhadap kehidupan anak, kita perlu sadar satu hal, yakni betapa ini tidak bisa selalu kita hindari. Anak bisa saja terpapar ketika ia bermain dengan temannya, atau ketika ia menghabiskan waktu di luar rumah. Suatu saat, anak pun akan membutuhkan gadget sebagai alat komunikasi. Sehingga untuk memusuhi gadget rasanya tidak lagi bijak. Namun, dengan membantu anak mencintai buku, anak akan paham bahwa hiburan dalam hidup ini bukan hanya datang dari video pendek yang ada di layar. Dan sesungguhnya, lewat baca buku sebagai kegiatan offline yang ia nikmati, bukan hanya samudera literasinya saja yang terus meluas, namun anak akan belajar memaknai hidup dan lebih sadar dengan hal-hal yang nyata yang ada di sekitarnya.
Sekarang, tinggal kita coba jalani. Dah siap, blum?
Image by Magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS