
Viral anak 4 tahun di Kazakhstan meninggal setelah mencabut gigi. Cek cabut gigi bisa menyebabkan kematian? Simak fakta kasus, penjelasan medis, risiko komplikasi, serta hal yang perlu diperhatikan sebelum cabut gigi.
Belakangan ini media sosial ramai membahas kabar seorang anak berusia 4 tahun di Kazakhstan yang meninggal dunia setelah menjalani prosedur pencabutan gigi. Nggak heran kalau kabar ini bikin banyak Mommies dan Daddies waswas. Apalagi, cabut gigi termasuk tindakan yang cukup sering dilakukan, baik pada anak maupun pada orang dewasa.
Lalu muncul pertanyaan, apakah cabut gigi memang bisa menyebabkan kematian?
Jawabannya, secara umum, tidak. Pencabutan gigi merupakan prosedur medis yang tergolong aman jika dilakukan sesuai standar oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Namun, seperti tindakan medis lainnya, tetap ada risiko komplikasi meski kasusnya sangat jarang terjadi.
Sebelum panik, yuk, kita lihat dulu fakta-fakta dari kasus yang sedang viral ini.
BACA JUGA: MD Ask the Expert: Mau Gigi Anak Sehat? Ini Kata Dokter Gigi!
Kasus ini sebenarnya terjadi pada Oktober 2024. Namun, kasus tersebut kembali viral setelah rekaman CCTV dari klinik tempat anak tersebut dirawat beredar luas di media sosial.
Beberapa fakta yang telah diketahui antara lain:
Sampai saat ini, penyebab pasti kematian belum diumumkan secara resmi, sehingga berbagai dugaan yang beredar di media sosial belum dapat dipastikan kebenarannya.
Pencabutan banyak gigi pada anak memang bisa saja dilakukan jika ada indikasi medis, misalnya ketika gigi mengalami kerusakan berat. Namun, tindakan tersebut biasanya dipertimbangkan secara matang, termasuk apakah dilakukan sekaligus atau bertahap, serta jenis anestesi yang digunakan.

Inilah pertanyaan terbesar bagi banyak orang tua setelah membaca berita tersebut.
Secara medis, kematian tidak disebabkan oleh tindakan pencabutan giginya, melainkan akibat komplikasi serius yang mungkin terjadi selama atau setelah prosedur.
Kabar baiknya, komplikasi seperti ini sangat jarang terjadi.
Beberapa kondisi yang berpotensi menyebabkan komplikasi berat antara lain sebagai berikut.
Meski jarang, seseorang dapat mengalami reaksi alergi berat (anafilaksis) terhadap obat bius. Kondisi ini bisa menyebabkan sesak napas, penurunan tekanan darah secara drastis, hingga syok apabila tidak segera ditangani. Karena itu, sebelum tindakan dilakukan, dokter akan menanyakan riwayat alergi pasien secara detail.
Pada tindakan yang menggunakan sedasi atau anestesi umum, terutama pada anak-anak, pemantauan kondisi pasien harus dilakukan secara ketat oleh tenaga medis yang kompeten di bidang anestesi.
Risiko komplikasi dapat meningkat apabila pasien memiliki kondisi kesehatan tertentu yang belum diketahui sebelumnya.
Infeksi setelah cabut gigi memang tidak sering terjadi. Namun, bila infeksi berkembang dan menyebar ke aliran darah (sepsis), kondisinya dapat menjadi sangat serius, bahkan mengancam jiwa.
Untungnya, kasus seperti ini sangat jarang terjadi, apalagi bila pasien menjalankan perawatan pasca-cabut gigi dengan baik.
Pada orang dengan gangguan pembekuan darah atau yang mengonsumsi obat pengencer darah, perdarahan setelah cabut gigi dapat berlangsung lebih lama dan membutuhkan penanganan khusus.
Karena itu, dokter gigi perlu mengetahui seluruh riwayat kesehatan pasien sebelum melakukan tindakan.
Penderita penyakit jantung tertentu, diabetes yang tidak terkontrol, gangguan sistem imun, maupun penyakit kronis lainnya memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan orang dengan kondisi kesehatan yang baik.
Inilah alasan mengapa pemeriksaan kesehatan sebelum tindakan menjadi sangat penting.
BACA JUGA: Waspada! 7 Makanan dan Minuman Favorit Anak Ini Bisa Bikin Gigi Cepat Rusak
Supaya prosedur berjalan aman, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak dilewatkan.

Jangan ragu memberi tahu dokter apabila Mommies, Daddies, atau si kecil memiliki:
Informasi ini membantu dokter menentukan prosedur yang paling aman.
Termasuk vitamin, suplemen herbal, hingga obat pengencer darah. Beberapa obat dapat meningkatkan risiko perdarahan sehingga mungkin perlu penyesuaian sebelum tindakan.
Terutama bila tindakan memerlukan sedasi atau anestesi umum. Pastikan klinik atau rumah sakit memiliki fasilitas yang lengkap serta tenaga anestesi yang kompeten.
Misalnya mengenai kapan harus berpuasa sebelum tindakan, obat yang boleh diminum, maupun jadwal kontrol setelah prosedur selesai.
Segera kembali ke dokter apabila mengalami:
Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko komplikasi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
BACA JUGA: Kebiasaan Menggunakan Empeng Bayi Bikin Gigi Tonggos? Cek Faktanya Menurut Pakar!
Jawabannya tentu tidak, Mommies.
Berita seperti kasus di Kazakhstan memang menyedihkan dan dapat membuat siapa pun khawatir. Namun, penting untuk diingat bahwa satu kasus yang masih dalam penyelidikan tidak berarti prosedur cabut gigi merupakan tindakan yang berbahaya bagi semua orang.
Justru, gigi yang dibiarkan rusak, terinfeksi, atau berlubang parah dapat memicu masalah kesehatan yang lebih besar apabila tidak segera ditangani.
Yang terpenting adalah memastikan tindakan dilakukan berdasarkan indikasi medis, oleh dokter yang kompeten, di fasilitas kesehatan yang memadai, serta diawali dengan evaluasi kesehatan yang menyeluruh.
Dengan begitu, risiko komplikasi dapat ditekan semaksimal mungkin dan prosedur cabut gigi tetap menjadi tindakan yang aman, baik bagi anak maupun orang dewasa.