Anak Mogok Sekolah? Kenali Tanda School Anxiety yang Sering Terlewat

Parenting & Kidsdetail-thumb

School anxiety pada anak sering disangka mogok sekolah biasa. Kenali tanda, penyebab, dampak, dan cara mengatasinya menurut psikolog agar anak lebih siap kembali ke sekolah.

Melihat anak bersiap menyambut tahun ajaran baru atau memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi sering kali memicu rasa haru sekaligus bangga. Namun, bagi sebagian anak, momen transisi masuk sekolah ini tidak selalu terasa menyenangkan. Proses adaptasi lingkungan sekolah yang baru justru bisa berubah menjadi sebuah beban emosional yang berat.

Pernahkah Mommies dan Daddies mendapati anak mendadak sangat rewel menjelang hari Senin, mengeluh pusing setiap pagi, atau bahkan menangis histeris menolak masuk kelas? Jangan terburu-buru memberi mereka cap “anak manja” apalagi “si pemalas”. Kondisi ini bisa jadi merupakan tanda dari school anxiety.

Ketika anak terlihat cemas saat akan berangkat sekolah, lingkungan kelas yang seharusnya menyenangkan justru terasa sangat mengintimidasi dan menakutkan bagi mereka. Sayangnya, tanda-tanda kecemasan ini sering kali luput dari perhatian orang tua. Yuk, kita cari tahu tentang school anxiety agar Mommies dan Daddies bisa mendeteksi dan mengatasinya sejak dini.

BACA JUGA: 8 Tanda Kecemasan pada Anak SD yang Perlu Dikenali Orang Tua

Apa Itu School Anxiety?

Binky Paramitha. I, M. Psi, Psikolog Pendidikan menjelaskan bahwa school anxiety atau kecemasan terhadap sekolah adalah kondisi anak yang merasa takut, tidak nyaman, serta cemas untuk pergi ataupun berada di sekolah. Penyebabnya bisa beragam dan berbeda pada setiap jenjang sekolah. Pada anak lebih kecil, bisa karena cemas berpisah dengan orang tua atau pengasuhnya. Pada tingkatan berikutnya bisa pula cemas terkait pelajaran sekolah, ujian, atau tugas lain yang dihadapi di sekolah. Selain itu, bisa pula cemas terkait lingkungan sosial, masalah pertemanan atau menghadapi situasi baru di sekolah.

Tanda-tanda School Anxiety yang Sering Terlewat Orang Tua

Foto: Magnific

Kenapa beberapa tanda school anxiety pada anak bisa terlewat atau nggak disadari oleh orang tua? “Anak yang mengalami school anxiety biasanya tidak menampilkan perilaku sehari-hari yang “mengganggu” atau melanggar aturan. Jadi bisa saja guru dan orang tua tidak menyadari permasalahan yang sedang dihadapi anak. Beberapa gejala yang mungkin dialami anak, seperti mual-mual, sakit perut, atau gejala psikosomatis lain, bisa disangka sebagai sakit fisik biasa,” papar Psikolog Binky.

Anak-anak, terutama yang masih kecil, sering kali belum mampu mengekspresikan emosi negatif mereka lewat kata-kata. Oleh karena itu, kecemasan tersebut keluar melalui perubahan perilaku atau keluhan fisik. Merujuk pada checklist indikator dari My Happy Teacher, berikut adalah 10 tanda utama yang wajib diwaspadai:

  1. Sering gugup dan khawatir: anak tampak cemas secara konstan, terutama saat membahas soal tugas, ujian, atau interaksi sosial di sekolah.
  2. Kesulitan untuk berkonsentrasi: pikiran yang dipenuhi rasa takut membuat mereka sulit fokus memperhatikan penjelasan guru di kelas atau saat mengerjakan PR.
  3. Menghindari aktivitas sekolah: mendadak mogok atau enggan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, presentasi di depan kelas, atau berbicara di depan umum.
  4. Keluhan fisik tanpa penyebab medis: anak sering melaporkan merasa sakit perut, sakit kepala, atau pusing. Gejala fisik ini biasanya memuncak di pagi hari sebelum berangkat dan “sembuh ajaib” di hari libur.
  5. Perubahan perilaku yang drastis: anak bertingkah tidak seperti biasanya, misalnya menjadi lebih sensitif, mudah marah, sering menangis, atau justru mendadak jadi sangat pendiam.
  6. Gangguan pola tidur: sulit tidur di malam hari atau sering terbangun karena terbayang-bayang ketakutan mengenai hari esok di sekolah.
  7. Takut berlebihan terhadap kesalahan: merasa sangat takut berbuat salah atau gagal, padahal sebenarnya performa akademik mereka selama ini baik-baik saja.
  8. Terus-menerus meminta kepastian: berulang kali bertanya kepada orang tua atau guru untuk memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja dengan intensitas yang tidak wajar.
  9. Mudah merasa kewalahan (overwhelmed): merasa sangat tertekan dengan tugas sekolah yang ringan sekalipun, karena kapasitas mentalnya sudah habis terkuras oleh rasa cemas.
  10. Sering absen atau bolos sekolah: sering tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan dan keluhan yang tidak jelas.

Berbagai Faktor Penyebab School Anxiety

Mengapa anak bisa mengalami hal ini? Informasi yang dihimpun dari platform kesehatan remaja Brightpath Behavioral Health dan organisasi kesehatan mental YoungMinds menjabarkan beberapa pemicu utamanya:

  1. Perundungan: tindakan bullying, baik secara fisik di sekolah maupun melalui media sosial, menciptakan lingkungan belajar yang toksik dan menakutkan bagi anak.
  2. Tekanan akademik: ekspektasi nilai yang terlalu tinggi dari lingkungan sekitar membuat anak dihantui rasa takut akan kegagalan.
  3. Trauma: pengalaman traumatis, baik yang terjadi di dalam maupun di luar sekolah, membuat anak memandang sekolah sebagai tempat yang tidak aman.
  4. Social anxiety: kesulitan berinteraksi dalam kelompok besar atau ruang publik. Jika merujuk pada data berskala nasional dari riset Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), ditemukan bahwa sekitar 3,7% remaja Indonesia usia 10–17 tahun terdiagnosis mengalami gangguan kecemasan (termasuk kecemasan sosial). Anak-anak ini sering kali memilih menghindari sekolah demi meloloskan diri dari ketakutan akan penghakiman, penolakan, atau rasa malu di depan teman-temannya.
  5. Gangguan Kecemasan Umum (GAD): rasa khawatir kronis yang membuat anak selalu merasa terancam di lingkungan sekolah. Berdasarkan ulasan edukasi di laman resmi Ayo Sehat Kemenkes RI, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat bahwa prevalensi gangguan kesehatan mental emosional yang ditunjukkan lewat gejala kecemasan dan depresi pada masyarakat Indonesia menyentuh angka 9,8%. Rasa cemas yang tidak terkendali ini membuat rutinitas harian di sekolah, seperti mengikuti pelajaran dan menghadapi ujian, terasa sangat berat dan menakutkan bagi anak.
  6. Penyakit kronis dan kondisi neurodivergen: kondisi fisik seperti asma dan diabetes, atau kondisi bawaan seperti autisme, ADHD, disleksia, dan dispraksia yang belum terdiagnosa dengan baik, membuat rutinitas sekolah terasa sangat melelahkan dan memicu stres berat bagi anak.
  7. Masalah di rumah: pengalaman sulit di rumah seperti proses perceraian orang tua, suasana duka akibat kehilangan, atau tekanan domestik lainnya turut terbawa dan mempersulit anak untuk tenang di sekolah.

Dampak School Anxiety yang Diabaikan

Foto: Magnific

Orang tua perlu memahami bahwa school anxiety tidak akan hilang hanya dengan diabaikan.

Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan:

  • merusak rasa percaya diri anak;
  • menurunkan prestasi akademik;
  • membuat anak menarik diri dari lingkungan sosial;
  • meningkatkan risiko munculnya gangguan kecemasan yang lebih berat apabila tidak ditangani sejak dini.

Jangan abaikan kondisi school anxiety pada anak dan jangan meremehkannya karena bisa memperburuk kondisi ini.

“Hal yang mungkin tidak disadari orang tua adalah mengecilkan atau mengabaikan perasaan cemas anak, misalnya dengan mengatakan ‘gitu aja kok takut sih?’, ‘nggak apa-apa, itu biasa’, atau ‘nggak usah dipikirin’. Dengan merespons seperti itu anak bisa merasa bahwa masalahnya tidak penting dan orang tua mengabaikan perasaannya,” terang Psikolog Binky.

Cara Mengatasi School Anxiety: Langkah Nyata Orang Tua

Kabar baiknya, peran aktif orang tua terbukti efektif meredam kecemasan ini. Berikut langkah bijak yang bisa Mommies dan Daddies terapkan:

  • Berikan dukungan emosional: validasi perasaan anak. Dengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi ketakutannya.
  • Bangun rutinitas yang stabil: jadwal tidur malam dan bangun pagi yang konsisten akan membantu anak merasa lebih siap, tenang, dan terorganisir sebelum menghadapi hari sekolah.
  • Gandeng peran guru di sekolah: komunikasikan kecemasan anak dengan wali kelas atau guru BK. Kolaborasi ini penting agar guru bisa membantu membangun strategi adaptasi lingkungan sekolah yang ramah dan suportif bagi anak selama di kelas.
  • Konsultasikan dengan psikolog anak: jika gejalanya terus menetap dan mengganggu fungsi harian anak, jangan ragu membawa anak ke psikolog anak untuk mendapatkan penanganan dini yang tepat.

Semakin cepat school anxiety dikenali, semakin besar peluang anak kembali merasa nyaman berada di sekolah dan menikmati proses belajarnya.

BACA JUGA: Academic Burnout pada Anak SD: Penyebab, Tanda, dan Cara Mengatasinya Sejak Dini

Pada akhirnya, setiap anak memiliki proses adaptasi yang berbeda ketika kembali ke sekolah. Ada yang bisa langsung menyesuaikan diri, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama.

Karena itu, alih-alih menganggap anak hanya sedang malas atau mencari alasan untuk tidak berangkat sekolah, cobalah pahami apa yang sebenarnya mereka rasakan. Dengan dukungan orang tua, guru, dan bantuan profesional bila diperlukan, school anxiety pada anak dapat diatasi sehingga mereka kembali merasa aman, percaya diri, dan siap menikmati pengalaman belajar di sekolah.

Cover: Magnific