banner-detik
PARENTING & KIDS

Kenapa Anak Mencontek? Ini 10 Alasan yang Perlu Dipahami Orang Tua

Kenapa Anak Mencontek? Ini 10 Alasan yang Perlu Dipahami Orang Tua

Kenapa anak mencontek di sekolah? Ketahui 10 penyebabnya, mulai dari tekanan nilai hingga rasa takut gagal, serta cara orang tua menyikapinya dengan tepat.

Saat guru menghubungi Mommies karena anak ketahuan mencontek, reaksi pertama yang muncul mungkin rasa marah, kecewa, atau malu.

“Padahal di rumah sudah diingatkan berkali-kali.”

Namun, sebelum buru-buru memberi hukuman, ada baiknya Mommies memahami satu hal: sebagian besar anak sebenarnya tahu bahwa mencontek adalah tindakan yang salah. Meski begitu, mereka tetap melakukannya karena berbagai alasan yang sering kali lebih kompleks daripada sekadar malas belajar.

Menurut International Center for Academic Integrity (ICAI), perilaku tidak jujur dalam dunia pendidikan masih menjadi tantangan besar. Dalam salah satu surveinya, banyak siswa mengaku pernah melakukan berbagai bentuk kecurangan akademik, mulai dari mencontek saat ujian hingga plagiarisme.

Artinya, perilaku ini bukan hanya terjadi pada satu atau dua anak. Yang lebih penting adalah memahami penyebabnya agar orang tua dan guru bisa membantu anak menemukan solusi yang tepat.

BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kesulitan Belajar yang Sering Tidak Disadari Orang Tua, Butuh Belajar Tambahan

Kenapa Anak Mencontek? Ini Alasannya

Foto: Magnific

1. Anak Belum Benar-Benar Paham Apa Itu Mencontek

Banyak orang tua mengira semua anak sudah memahami batas antara membantu teman dan mencontek. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada anak yang menganggap memberi jawaban kepada teman saat ujian adalah bentuk solidaritas. Ada juga yang merasa tidak masalah menyalin sebagian tugas dari internet selama tidak seluruhnya disalin.

Semakin kecil usia anak, semakin besar kemungkinan mereka belum memahami bahwa plagiarisme, berbagi jawaban saat ujian, atau mengerjakan tugas milik teman juga termasuk bentuk ketidakjujuran akademik.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk menjelaskan bahwa mencontek bukan hanya soal melihat jawaban teman, tetapi juga mengambil hasil kerja orang lain tanpa izin atau mengakuinya sebagai hasil sendiri.

2. Ingin Membantu Teman

Alasan ini sering kali mengejutkan orang tua.

Tidak semua anak mencontek demi dirinya sendiri. Sebagian justru melakukannya karena merasa tidak enak menolak permintaan teman.

Misalnya, teman meminta jawaban saat ujian, meminta dikerjakan tugasnya, atau memotret hasil pekerjaan rumah. Anak yang memiliki empati tinggi kadang kesulitan mengatakan “tidak” karena takut dianggap pelit atau dijauhi.

Padahal, membantu teman dengan cara melanggar aturan tetap termasuk tindakan yang tidak jujur.

Mommies bisa mengajarkan bahwa membantu teman itu baik, tetapi ada batasnya. Misalnya dengan mengajak belajar bersama sebelum ujian, bukan memberikan jawaban saat ujian berlangsung.

3. Kebiasaan Belajar yang Kurang Baik

Tidak semua anak yang mencontek malas belajar.

Sebagian sebenarnya ingin belajar, tetapi belum memiliki kebiasaan belajar yang teratur. Akibatnya, mereka baru membuka buku pada malam sebelum ujian dan merasa sudah terlambat mengejar materi.

Saat panik dan merasa tidak siap, mencontek akhirnya dianggap sebagai jalan pintas.

Menurut psikolog pendidikan, membangun rutinitas belajar sedikit demi sedikit jauh lebih efektif dibanding belajar secara “kebut semalam” yang justru meningkatkan stres pada anak.

4. Takut Nilainya Jelek

Banyak anak merasa nilai adalah ukuran keberhasilan mereka.

Ketika menghadapi ujian yang sulit, mereka mulai khawatir mengecewakan orang tua, guru, atau bahkan dirinya sendiri.

Rasa takut inilah yang terkadang mendorong anak mengambil keputusan yang sebenarnya mereka tahu salah.

Menurut Harvard Graduate School of Education, tekanan akademik yang terlalu tinggi dapat memengaruhi kesehatan mental anak dan membuat mereka lebih rentan mengambil keputusan yang kurang tepat demi mencapai hasil tertentu.

Yang perlu diingat, bukan berarti orang tua tidak boleh berharap anak berprestasi. Namun, pastikan anak memahami bahwa usaha dan proses belajar juga sama pentingnya dengan nilai di rapor.

5. Melihat Teman Juga Melakukannya

Lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku anak.

Kalau mereka melihat banyak teman mencontek tanpa mendapat konsekuensi apa pun, lama-kelamaan perilaku tersebut bisa dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Anak pun mulai berpikir, “Kalau semua orang melakukannya, kenapa aku tidak?”

Fenomena ini dikenal sebagai peer pressure atau tekanan teman sebaya. Anak cenderung mengikuti norma kelompok agar tetap diterima dalam pergaulan.

Inilah mengapa budaya kejujuran di sekolah dan pengawasan saat ujian sama-sama memiliki peran penting dalam mencegah perilaku mencontek.

6. Anak Terlalu Fokus pada Nilai, Bukan Proses Belajar

Di beberapa keluarga atau sekolah, nilai sering kali menjadi tolok ukur utama keberhasilan anak. Tidak heran jika sebagian anak mulai berpikir bahwa yang penting adalah hasil akhirnya, bukan bagaimana cara mendapatkannya.

Padahal, ketika anak hanya berorientasi pada nilai, mereka bisa menganggap mencontek sebagai “jalan pintas” agar target tersebut tercapai.

Psikolog Carol Dweck dari Stanford University menjelaskan melalui konsep growth mindset bahwa anak yang lebih menghargai proses belajar cenderung tidak mudah menyerah dan tidak terlalu terobsesi dengan hasil akhir. Sebaliknya, anak yang hanya fokus pada nilai lebih rentan mencari cara instan saat menghadapi kesulitan.

Karena itu, cobalah lebih sering memuji usaha, ketekunan, dan perkembangan anak dibanding hanya hasil ujiannya.

7. Tidak Memiliki Hubungan yang Dekat dengan Guru

Hubungan anak dengan guru ternyata juga bisa memengaruhi perilakunya di sekolah.

Jika anak merasa gurunya terlalu menakutkan, sulit diajak berdiskusi, atau tidak pernah memberikan kesempatan untuk bertanya, mereka mungkin merasa enggan mengakui bahwa dirinya belum memahami materi pelajaran.

Akibatnya, saat ujian tiba, sebagian anak memilih mencontek daripada mengaku tidak siap.

Sebaliknya, ketika anak merasa memiliki hubungan yang positif dengan guru, mereka biasanya lebih nyaman meminta bantuan saat mengalami kesulitan belajar.

Inilah mengapa komunikasi yang hangat antara guru, orang tua, dan anak sangat penting untuk membangun rasa percaya diri anak di sekolah.

8. Yakin Tidak Akan Ketahuan

Salah satu alasan yang cukup sering terjadi adalah anak merasa peluang ketahuan sangat kecil.

Misalnya karena guru sedang lengah, posisi duduk memungkinkan melihat jawaban teman, atau ujian dilakukan secara daring tanpa pengawasan yang ketat.

Saat anak merasa risikonya kecil, mereka lebih berani mengambil keputusan yang sebenarnya sudah tahu itu salah.

Namun, yang perlu dipahami orang tua, tujuan utama mencegah anak mencontek bukan sekadar agar mereka takut dihukum. Yang lebih penting adalah menanamkan nilai kejujuran sehingga anak tetap memilih jujur meski tidak ada yang melihat.

9. Takut Mengecewakan Orang Tua

Banyak orang tua berkata, “Mama cuma minta kamu belajar yang rajin.”

Namun, tidak sedikit anak yang menangkap pesan berbeda.

Mereka merasa harus selalu mendapat nilai tinggi agar orang tua bangga. Ketika hasil ujiannya diperkirakan buruk, rasa takut mengecewakan keluarga bisa menjadi tekanan yang sangat besar.

Menurut Harvard Graduate School of Education, tekanan akademik yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental anak dan meningkatkan kecemasan terhadap prestasi.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa kasih sayang tidak bergantung pada angka di rapor.

Anak perlu tahu bahwa mereka tetap diterima, bahkan ketika hasil belajarnya belum sesuai harapan.

10. Kurang Percaya Diri dengan Kemampuan Sendiri

Tidak semua anak yang mencontek sebenarnya tidak bisa mengerjakan soal.

Ada juga yang sebenarnya mampu, tetapi terlalu ragu dengan jawabannya sendiri.

Mereka akhirnya memilih melihat jawaban teman karena merasa jawaban orang lain pasti lebih benar.

Kurangnya rasa percaya diri seperti ini bisa muncul karena terlalu sering dibandingkan dengan teman, jarang mendapat apresiasi atas usahanya, atau pernah mengalami kegagalan yang membuatnya takut mencoba lagi.

Membantu anak membangun rasa percaya diri sejak dini menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah perilaku mencontek di kemudian hari.

Anak yang yakin pada kemampuannya biasanya lebih berani menghadapi tantangan, meski hasilnya belum tentu sempurna.

BACA JUGA: Menurut Psikolog, Ini Alasan Kenapa Anak Cepat Bosan saat Belajar

Mencontek Bukan Sekadar Masalah Kejujuran

Foto: Magnific

Kalau diperhatikan, sebagian besar alasan anak mencontek sebenarnya bukan karena mereka ingin menjadi anak yang tidak jujur.

Ada yang takut gagal. Ada yang ingin membantu teman. Ada pula yang merasa tekanan untuk mendapat nilai tinggi terlalu besar.

Itulah sebabnya, sebelum buru-buru memberi hukuman, orang tua perlu mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dialami anak.

Dengan memahami akar masalahnya, Mommies bisa membantu anak belajar menghadapi tantangan tanpa harus mengambil jalan pintas.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua Jika Anak Ketahuan Mencontek?

Mengetahui anak mencontek memang bisa membuat Mommies kecewa atau marah. Namun, usahakan untuk tidak langsung bereaksi dengan hukuman atau omelan panjang.

Ingat, tujuan utamanya bukan hanya membuat anak kapok, tetapi membantu mereka memahami mengapa kejujuran jauh lebih penting daripada sekadar mendapat nilai bagus.

Berikut beberapa hal yang bisa Mommies lakukan.

1. Cari Tahu Alasan Anak Mencontek

Sebelum memberikan konsekuensi, ajak anak berbicara dengan tenang.

Tanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Apakah ia tidak memahami materi? Takut nilainya jelek? Atau hanya ikut-ikutan teman?

Jawaban anak akan membantu Mommies menentukan langkah yang paling tepat. Anak yang mencontek karena panik tentu membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan anak yang sengaja melakukannya berulang kali.

2. Dengarkan Ceritanya Tanpa Langsung Menghakimi

Saat anak merasa aman untuk bercerita, mereka biasanya lebih jujur mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

Sebaliknya, jika setiap kesalahan langsung dibalas dengan kemarahan, anak cenderung menyembunyikan masalah di kemudian hari.

Biarkan anak menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu. Setelah itu, baru jelaskan mengapa mencontek bukan solusi yang tepat.

3. Tekankan bahwa Proses Belajar Lebih Penting daripada Nilai

Tidak ada orang tua yang senang melihat nilai anak turun.

Namun, jangan sampai anak merasa bahwa kasih sayang orang tua hanya bergantung pada angka di rapor.

Sesekali, pujilah usaha mereka saat belajar, bukan hanya hasil akhirnya. Dengan begitu, anak belajar bahwa kerja keras lebih berharga daripada mencari jalan pintas.

4. Bantu Anak Menyusun Cara Belajar yang Lebih Efektif

Sebagian anak mencontek karena merasa tidak siap menghadapi ujian.

Daripada hanya menyuruh anak belajar lebih giat, bantu mereka membuat jadwal belajar yang realistis.

Belajar 20–30 menit setiap hari biasanya jauh lebih efektif dibanding baru membuka buku semalam sebelum ujian.

5. Ajarkan Cara Menghadapi Kegagalan dengan Sehat

Nilai jelek memang mengecewakan, tetapi bukan akhir dari segalanya.

Anak perlu tahu bahwa setiap orang pernah gagal, termasuk orang tuanya.

Saat anak melihat Mommies mampu menerima kesalahan dan bangkit kembali, mereka akan belajar bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditutupi dengan cara mencontek.

6. Bangun Kepercayaan Diri Anak

Tidak sedikit anak mencontek karena merasa dirinya kurang pintar dibanding teman-temannya.

Karena itu, bantu anak menemukan kelebihan yang mereka miliki.

Saat rasa percaya dirinya meningkat, mereka akan lebih yakin dengan kemampuan sendiri dan tidak mudah tergoda melihat jawaban orang lain.

7. Jadilah Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat.

Misalnya, mengakui kesalahan saat melakukan kekeliruan, tidak mencari jalan pintas, atau bersikap jujur dalam situasi sederhana sehari-hari.

Nilai-nilai seperti ini akan lebih mudah ditiru dibanding sekadar diceramahi.

8. Bangun Kerja Sama dengan Guru

Kalau anak beberapa kali ketahuan mencontek, jangan ragu berdiskusi dengan guru.

Cari tahu apakah ada kesulitan belajar, tekanan di kelas, atau faktor lain yang mungkin belum diketahui orang tua.

Kolaborasi antara rumah dan sekolah biasanya jauh lebih efektif dibanding saling menyalahkan.

9. Berikan Konsekuensi yang Mendidik

Anak tetap perlu memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.

Namun, usahakan konsekuensi tersebut bersifat mendidik, bukan sekadar hukuman.

Misalnya, anak diminta mengulang tugas dengan usahanya sendiri, meminta maaf kepada guru, atau membuat jadwal belajar baru agar lebih siap menghadapi ujian berikutnya.

10. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kebiasaan mencontek terus berulang meski sudah beberapa kali diingatkan, ada baiknya Mommies mencari bantuan dari guru BK, konselor sekolah, atau psikolog anak.

Bisa jadi, perilaku tersebut bukan hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga dipengaruhi oleh kecemasan, rendahnya rasa percaya diri, atau masalah emosional lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

BACA JUGA: Tanpa Disadari, Ini Kesalahan Orang Tua yang Bikin Anak Jadi Nggak Suka Belajar

Mencontek Bisa Menjadi Momen Belajar bagi Anak

Foto: Magnific

Tidak ada orang tua yang ingin mendengar anaknya mencontek. Namun, satu kesalahan bukan berarti anak akan terus menjadi pribadi yang tidak jujur.

Yang terpenting adalah bagaimana orang tua menyikapi kejadian tersebut.

Alih-alih hanya berfokus pada hukuman, gunakan momen ini untuk mengajarkan bahwa nilai memang penting, tetapi kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mengakui kesalahan akan menjadi bekal yang jauh lebih berharga hingga mereka dewasa nanti.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar membesarkan anak yang pintar, tetapi juga anak yang memiliki integritas.

Diperbarui oleh: Katharina S. Menge

Cover: Magnific

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan