banner-detik
#MOMMIESWORKINGIT

Anak Masuk Sekolah Lagi, Ini 7 Cara Bagi Waktu untuk Orang Tua Bekerja

author

Dhevita Wulandariin 5 hours

Anak Masuk Sekolah Lagi, Ini 7 Cara Bagi Waktu untuk Orang Tua Bekerja

Anak masuk sekolah lagi membuat rutinitas orang tua bekerja makin padat. Ini 7 cara membagi waktu agar pekerjaan, urusan rumah, dan kebutuhan anak tetap seimbang tanpa mudah kelelahan.

Kalau ada satu momen yang bikin ritme rumah langsung berubah drastis, jawabannya adalah ketika tahun ajaran baru dimulai.

Alarm kembali berbunyi lebih pagi. Seragam harus sudah rapi sejak malam sebelumnya. Bekal mulai dipikirkan lagi. Belum lagi jadwal antar-jemput, aktivitas sekolah, dan tugas yang seolah datang tanpa jeda.

Buat Mommies dan Daddies yang sama-sama bekerja, fase ini sering terasa seperti sedang mengikuti lomba estafet. Pagi sibuk menyiapkan anak, siang fokus bekerja, sore harus berganti peran menjadi “guru pendamping” saat anak mulai membuka buku PR.

Kalau merasa kewalahan, tenang. Banyak orang tua mengalami hal yang sama. Kuncinya bukan menjadi orang tua yang bisa mengerjakan semuanya sendiri, melainkan menemukan cara agar semuanya tetap berjalan dengan lebih ringan.

BACA JUGA: Mau Kembali Bekerja Setelah Jadi Ibu Rumah Tangga? 7 Skill “Tak Terlihat”Ini Justru Dicari Perusahaan

Tips Membagi Waktu untuk Orang Tua Bekerja yang Memiliki Anak Sekolah

Masa awal masuk sekolah sering terasa lebih melelahkan karena jadwal seluruh anggota keluarga berubah secara bersamaan. Orang tua bukan hanya menyesuaikan jam kerja, tetapi juga kembali mengatur rutinitas anak sejak pagi hingga malam.

Ini cara membagi waktu yang bisa dilakukan orang tua bekerja.

1. Persiapan Dimulai Sejak Malam Hari

Foto: Elina Fairytale/Pexels

Kesalahan yang sering terjadi adalah membiarkan semua persiapan dilakukan keesokan paginya.

Padahal, 20–30 menit yang dihabiskan pada malam sebelumnya bisa mengurangi drama di pagi hari.

Yang bisa disiapkan antara lain:

  • Seragam lengkap beserta kaus kaki.
  • Bekal dan botol minum yang sudah direncanakan.
  • Tas sekolah yang sudah dicek bersama anak.
  • Jadwal pelajaran atau perlengkapan khusus.

Selain menghemat waktu, anak juga belajar bertanggung jawab terhadap kebutuhannya sendiri.

2. Jangan Semua Dikerjakan Sendiri

Masih banyak orang tua yang tanpa sadar mengambil semua pekerjaan rumah karena merasa itu adalah tanggung jawabnya.

Padahal, keluarga adalah sebuah tim.

Mommies bisa berbagi tugas dengan Daddies. Misalnya, satu orang menyiapkan sarapan, sementara yang lain membantu anak bersiap ke sekolah. Saat sore hari, Daddies bisa menemani anak mandi atau makan malam ketika Mommies masih menyelesaikan pekerjaan, dan sebaliknya.

Pembagian tugas yang fleksibel justru membuat beban mental tidak hanya dipikul oleh satu orang.

3. Buat Jadwal Keluarga yang Realistis

Sering kali rasa kewalahan muncul bukan karena terlalu banyak pekerjaan, melainkan karena semuanya terasa mendadak.

Coba buat jadwal mingguan yang bisa dilihat seluruh anggota keluarga.

Misalnya:

  • Senin dan Rabu: les.
  • Selasa: mengerjakan PR.
  • Kamis: latihan olahraga.
  • Jumat: quality time keluarga.
  • Akhir pekan: menyiapkan perlengkapan sekolah untuk minggu berikutnya.

Dengan begitu, semua orang tahu apa yang harus dilakukan tanpa harus saling mengingatkan terus-menerus.

4. Setelah Pulang Kerja, Beri Waktu untuk “Transisi”

Pulang kerja lalu langsung mendampingi anak belajar memang tidak mudah.

Kalau memungkinkan, beri waktu sekitar 15–20 menit untuk beristirahat sejenak. Ganti baju, minum air putih, atau sekadar duduk sebentar.

Begitu juga dengan anak.

Setelah seharian belajar di sekolah, mereka juga membutuhkan waktu untuk melepas penat sebelum mulai mengerjakan tugas.

Hasilnya, suasana belajar biasanya menjadi jauh lebih nyaman dibandingkan ketika semua orang masih sama-sama lelah.

5. Dampingi, Bukan Ambil Alih PR Anak

7 Cara Membagi Waktu untuk Orang Tua Bekerja Saat Anak Masuk Sekolah Lagi

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels

Godaan terbesar orang tua adalah ingin pekerjaan rumah anak cepat selesai.

Akhirnya, tanpa sadar, justru orang tua yang mengerjakannya.

Padahal, tujuan PR bukan sekadar mendapatkan nilai bagus, melainkan melatih anak berpikir dan bertanggung jawab.

Mommies dan Daddies cukup menjadi pendamping. Bantu ketika anak benar-benar kesulitan, beri arahan, ajak berdiskusi, tetapi biarkan mereka tetap menemukan jawabannya sendiri.

Memang prosesnya mungkin lebih lama, tetapi manfaatnya jauh lebih besar bagi perkembangan anak.

6. Manfaatkan Akhir Pekan untuk “Mencicil”

Weekend bukan berarti harus diisi dengan pekerjaan rumah sepanjang hari.

Namun, ada beberapa hal yang bisa dicicil agar hari kerja menjadi lebih ringan.

Contohnya:

  • Menyiapkan stok lauk.
  • Menyusun menu seminggu.
  • Mencuci dan menyetrika seragam.
  • Mengecek kebutuhan alat tulis.
  • Merapikan sudut belajar anak.

Aktivitas sederhana ini bisa mengurangi kepanikan pada Senin pagi.

7. Jangan Lupa Menyisakan Waktu untuk Diri Sendiri

Sering kali orang tua sibuk memastikan semua anggota keluarga baik-baik saja, tetapi lupa bertanya kepada dirinya sendiri.

“Apakah aku juga baik-baik saja?”

Padahal, orang tua yang kelelahan lebih mudah kehilangan kesabaran, sulit fokus, bahkan rentan mengalami stres berkepanjangan.

Sesekali, ambil waktu untuk melakukan hal yang disukai. Minum kopi dengan tenang, membaca beberapa halaman buku, berjalan kaki pada sore hari, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus mengurus apa pun selama beberapa menit.

Self-care bukan bentuk kemewahan. Justru itulah cara menjaga energi agar tetap bisa hadir sepenuhnya untuk keluarga.

BACA JUGA: Beban Mental Working Mom di Awal Pernikahan dan Cara Menyikapinya

Tidak Harus Sempurna, yang Penting Konsisten

Memasuki tahun ajaran baru memang membutuhkan proses adaptasi, baik bagi anak maupun orang tua.

Mungkin masih ada pagi yang terburu-buru, bekal yang sesekali terlupa, atau PR yang baru dikerjakan menjelang malam. Itu wajar.

Yang terpenting bukan menjalani semuanya dengan sempurna, melainkan membangun kebiasaan yang membuat seluruh anggota keluarga saling bekerja sama.

Karena pada akhirnya, anak tidak akan mengingat apakah bekalnya selalu berbentuk karakter lucu atau seragamnya selalu tanpa kusut. Yang paling mereka ingat adalah orang tua yang hadir, mau mendengarkan cerita mereka sepulang sekolah, dan menemani proses belajarnya dengan penuh perhatian.

Jadi, Mommies dan Daddies, tidak perlu memaksakan diri menjadi superhero. Menjadi orang tua yang hadir, kompak, dan saling mendukung satu sama lain sudah lebih dari cukup untuk membantu anak menjalani hari-harinya dengan penuh semangat.

Cover: Vitaly Gariev/Pexels

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan