
Anak tetap semangat bersekolah belum tentu baik-baik saja. Kenali 7 tanda anak mengalami masalah pertemanan di sekolah agar orang tua bisa memberikan dukungan sejak dini.
Banyak orang tua merasa tenang selama anak masih mau berangkat sekolah setiap pagi. Padahal, tidak semua anak yang tampak baik-baik saja benar-benar sedang baik-baik saja.
Bagi anak, diterima oleh teman sebaya bukan sekadar soal memiliki teman bermain. Hubungan sosial yang sehat berpengaruh besar terhadap rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, hingga perkembangan mentalnya. Itulah mengapa masalah pertemanan di sekolah sebaiknya tidak dianggap sepele.
Kondisi ini bisa terjadi ketika anak merasa dijauhi teman, sulit memiliki teman dekat, bahkan mengalami pengucilan tanpa disadari orang tua.
Sayangnya, tidak semua anak bisa langsung bercerita ketika mengalami konflik dengan teman. Ada yang takut membuat orang tuanya khawatir, ada juga yang belum tahu bagaimana menjelaskan perasaannya.
BACA JUGA: 10 Tanda Anak Belum Siap Kembali ke Sekolah, Jangan Langsung Dianggap Malas
Nah, Mommies dan Daddies, berikut beberapa tanda yang bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang mengalami masalah dalam pertemanannya di sekolah.

Kalau sebelumnya anak selalu semangat bersiap ke sekolah, lalu mendadak sering mencari alasan untuk tidak berangkat, jangan buru-buru menganggapnya malas.
Coba perhatikan, apakah ia sering mengeluh sakit perut atau pusing hanya pada hari sekolah? Bisa jadi keluhan fisik tersebut merupakan respons terhadap stres atau kecemasan karena harus bertemu teman-temannya.
Tentu penyebabnya bisa bermacam-macam, tetapi masalah pertemanan termasuk salah satu kemungkinan yang perlu digali lebih lanjut.
Anak biasanya senang membagikan cerita tentang siapa yang duduk di sebelahnya, permainan saat istirahat, atau hal-hal lucu yang terjadi di kelas.
Jika tiba-tiba ia selalu menjawab singkat, seperti, “Biasa aja,” atau menghindari pertanyaan tentang teman-temannya, Mommies dan Daddies patut lebih peka.
Bukan berarti setiap anak yang pendiam sedang bermasalah. Namun, perubahan pola komunikasi yang cukup drastis layak diperhatikan.
Seiring bertambahnya usia, anak mulai membangun lingkaran sosial di luar rumah.
Kalau hampir tidak pernah ada teman yang menghubunginya, mengajak bermain, atau mengundangnya ke acara ulang tahun, ini bisa menjadi salah satu tanda bahwa hubungan sosialnya kurang berjalan baik.
Bukan soal harus populer, ya. Yang penting adalah anak memiliki setidaknya satu atau dua teman yang membuatnya merasa diterima.
Apakah anak terlihat lebih mudah marah, murung, atau menangis tanpa alasan yang jelas setelah pulang sekolah? Misalnya dikucilkan saat bermain.
Jangan langsung menganggap itu sekadar lelah.
Bisa saja ada kejadian yang membuat emosinya terkuras selama berada di sekolah, misalnya dikucilkan saat bermain, diejek, atau merasa tidak diterima dalam kelompok.
Cobalah memberikan waktu baginya untuk tenang terlebih dahulu sebelum mulai mengajak ngobrol.

Masalah pertemanan sering kali berdampak pada cara anak memandang dirinya sendiri.
Anak mungkin mulai mengatakan hal-hal seperti berikut.
Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan bahwa penilaian dari lingkungan mulai memengaruhi rasa percaya dirinya.
Di sinilah dukungan emosional dari rumah menjadi sangat penting.
Ketika pikiran anak dipenuhi kecemasan karena konflik dengan teman, fokus belajarnya pun bisa ikut terganggu.
Anak menjadi sulit berkonsentrasi di kelas, enggan mengikuti kegiatan kelompok, bahkan kehilangan motivasi belajar.
Kalau penurunan nilai terjadi bersamaan dengan perubahan perilaku lainnya, ada baiknya Mommies dan Daddies mencoba mencari tahu apakah ada masalah sosial yang sedang dihadapinya.
Tidak semua anak harus memiliki banyak teman. Ada anak yang memang lebih nyaman dengan lingkaran pertemanan kecil.
Namun, jika guru sering menyampaikan bahwa anak selalu sendirian saat istirahat, tidak pernah dipilih dalam kerja kelompok, atau tampak terisolasi dari teman-temannya, kondisi ini patut menjadi perhatian.
Kesendirian yang terjadi terus-menerus bisa membuat anak merasa tidak diterima dan berdampak pada kesehatan mentalnya dalam jangka panjang.
Saat mengetahui anak mengalami masalah pertemanan, reaksi pertama orang tua sering kali ingin langsung menyelesaikan semuanya.
Padahal, langkah pertama yang paling dibutuhkan anak justru adalah merasa didengarkan.
Cobalah mengajak ngobrol tanpa menghakimi atau terburu-buru memberi solusi. Hindari pertanyaan yang terkesan menginterogasi, seperti, “Kamu pasti ngapain sampai dijauhi teman?”
Sebaliknya, gunakan pertanyaan yang lebih terbuka, misalnya:
Validasi dulu perasaannya. Setelah anak merasa aman, barulah bersama-sama mencari solusi. Bila diperlukan, jangan ragu berdiskusi dengan guru wali kelas atau guru BK untuk mendapatkan gambaran kondisi anak di sekolah.
Yang tak kalah penting, bantu anak membangun keterampilan sosial secara bertahap. Misalnya, dengan mengajaknya bermain bersama teman di luar sekolah, mengikuti kegiatan sesuai minatnya, atau melatih cara menyelesaikan konflik dengan sehat.
Masalah pertemanan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Tidak semua konflik harus diselesaikan oleh orang tua, tetapi semua anak perlu merasa bahwa mereka memiliki rumah yang aman untuk bercerita.
Semakin dini tanda-tanda ini dikenali, semakin besar pula peluang bagi anak untuk belajar menghadapi tantangan sosial dengan cara yang sehat. Yang terpenting, jangan menunggu sampai masalahnya membesar. Terkadang, kehadiran orang tua yang mau mendengar tanpa menghakimi sudah menjadi pertolongan terbesar bagi anak.