banner-detik
PARENTING & KIDS

7 Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Anak SD, Kata Psikolog

author

Mommies Dailyin 5 hours

7 Kalimat yang Tidak Boleh Diucapkan kepada Anak SD, Kata Psikolog

Kalimat yang tidak boleh diucapkan kepada anak SD bisa memengaruhi rasa percaya diri dan kondisi emosinya. Kenali 7 kalimat yang sebaiknya dihindari menurut psikolog.

Kalimat yang terdengar sepele ternyata bisa membekas lama di hati anak. Yuk, cek apakah Mommies masih sering mengucapkannya di rumah.

Anak usia SD sedang berada di fase penting dalam membangun rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, dan hubungan dengan orang tua. Karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati memilih kalimat yang diucapkan setiap hari.

Sayangnya, tanpa disadari ada beberapa kalimat yang sering diucapkan saat kesal atau ingin mendisiplinkan anak, tetapi justru bisa melukai perasaannya.

Tanpa disadari, beberapa kalimat yang tidak boleh diucapkan kepada anak SD justru sering keluar saat orang tua sedang lelah atau emosi. Padahal, ucapan sederhana bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.

Menurut psikolog klinis anak, Dr. Becky Kennedy, cara orang tua berbicara kepada anak akan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. “Children are not giving us a hard time. They are having a hard time.” Artinya, sering kali anak bukan sedang sengaja menyulitkan orang tua, tetapi mereka sedang kesulitan mengelola emosi atau situasi yang dihadapi.

BACA JUGA: 10 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan Setelah Melihat Rapor Anak

Photo by note thanun on Unsplash

Lalu, apa saja kalimat yang tidak boleh diucapkan kepada anak SD menurut psikolog?

1. “Kamu kok malas banget sih?”

Kalimat ini memberi label negatif pada anak, bukan membahas perilakunya.

Lebih baik katakan: “Sepertinya kamu lagi sulit mulai belajar. Yuk, kita cari tahu penyebabnya.” Dengan begitu anak belajar mencari solusi, bukan merasa dirinya “pemalas”.

2. “Lihat, tuh, kakak atau temanmu bisa.”

Membandingkan anak dengan orang lain sering kali justru membuatnya minder dan merasa tidak pernah cukup baik.

Fokuslah pada perkembangan anak dibandingkan dirinya sendiri. Misalnya: “Hari ini tulisanmu lebih rapi dibanding minggu lalu. Bagus!”

3. “Kalau nilaimu jelek, Mama kecewa.”

Anak bisa menangkap pesan bahwa kasih sayang orang tua bergantung pada prestasinya.

Anak akan lebih termotivasi ketika merasa diterima apa pun hasil belajarnya. Yang lebih penting adalah menghargai proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya.

4. “Jangan nangis, itu saja, kok.”

Bagi anak SD, masalah kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar.

Menurut psikolog anak Dr. Laura Markham, memvalidasi emosi anak membantu mereka belajar mengenali dan mengelola perasaannya.

Coba ganti dengan: “Mama tahu kamu sedih. Cerita, yuk.”

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

5. “Mama sudah capek ngurus kamu.”

Kalimat ini bisa membuat anak merasa dirinya menjadi beban bagi orang tua.

Saat sedang lelah, lebih baik ungkapkan kondisi diri sendiri tanpa menyalahkan anak. Misalnya: “Mama sedang lelah, boleh kita istirahat sebentar lalu ngobrol lagi?”

6. “Kalau nakal nanti Mama tinggal.”

Ancaman seperti ini dapat memicu rasa takut kehilangan dan membuat anak merasa tidak aman. Dalam jangka panjang, anak bisa menjadi lebih cemas atau takut mengungkapkan perasaannya kepada orang tua. Rasa aman adalah fondasi penting dalam hubungan orang tua dan anak.

7. “Kamu memang selalu bikin masalah.”

Kalimat ini membuat anak merasa identitasnya adalah “anak bermasalah”, bukan sekadar melakukan kesalahan.

Lebih baik fokus pada perilaku yang ingin diperbaiki. Contohnya: “Tindakanmu tadi kurang tepat. Yuk, kita cari cara supaya besok lebih baik.”

BACA JUGA: 10 Tanda Anak Belum Siap Kembali ke Sekolah, Jangan Langsung Dianggap Malas

Yang Lebih Penting dari Sekadar Memilih Kata

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

Tidak ada orang tua yang selalu sempurna. Sesekali mengucapkan kalimat yang kurang tepat bukan berarti hubungan dengan anak akan rusak. Yang terpenting adalah berani meminta maaf jika salah dan memperbaiki cara berkomunikasi ke depannya.

Anak usia SD sedang belajar memahami dirinya melalui setiap respons dan kalimat yang diterimanya dari orang tua. Karena itu, memilih kalimat yang tepat bukan hanya membantu anak merasa lebih aman, tetapi juga membangun kepercayaan dirinya hingga dewasa.

Setiap kata yang keluar dari orang tua bukan hanya didengar, tetapi juga bisa menjadi suara yang mereka simpan hingga dewasa.

Pada akhirnya, tujuan komunikasi bukan membuat anak selalu patuh, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu mengelola emosi, dan merasa dicintai tanpa syarat.

Cover: Photo by Shelby Murphy Figueroa on Unsplash

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan