
Anak belum siap kembali ke sekolah bisa ditandai dengan sulit tidur hingga mengeluh sakit. Kenali 10 tandanya agar orang tua bisa membantu proses adaptasi.
Libur sekolah sudah selesai, tapi apakah anak siap kembali ke rutinitas? Coba perhatikan beberapa tanda berikut sebelum hari pertama masuk sekolah.
Saat masa liburan berakhir, tidak semua anak bisa langsung beradaptasi dengan rutinitas sekolah lagi.
Ada anak yang antusias bertemu teman-temannya, tetapi ada juga yang justru mulai rewel, sulit tidur, atau tiba-tiba mengeluh sakit. Kondisi ini sebenarnya cukup wajar. Tubuh dan pikiran anak membutuhkan waktu untuk kembali menyesuaikan diri.
Perubahan perilaku seperti ini juga dialami banyak anak setelah libur panjang. Apalagi, perubahan rutinitas memang membutuhkan waktu untuk disesuaikan kembali oleh tubuh dan emosi anak.
Sebelum buru-buru menganggap anak malas sekolah, coba perhatikan beberapa tanda berikut.
BACA JUGA: Orang Tua, Ini 32 Hal yang Wajib Diperhatikan saat Memilih Sekolah Dasar
Beberapa tanda berikut bisa menjadi sinyal bahwa anak masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi sebelum kembali menjalani rutinitas sekolah.
Selama liburan, jam tidur anak sering bergeser menjadi lebih malam. Jika beberapa hari menjelang sekolah anak masih sulit tidur sebelum pukul 9 malam, kemungkinan ritme tubuhnya belum kembali seperti semula.
Alarm sudah berbunyi berkali-kali, tapi anak tetap sulit bangun dan terlihat sangat mengantuk. Ini menjadi salah satu tanda bahwa tubuhnya masih mengikuti “jadwal liburan”.

Anak jadi lebih mudah marah, sensitif, atau menangis saat mulai membahas sekolah. Perubahan suasana hati bisa muncul karena ia merasa belum siap menghadapi rutinitas kembali.
BACA JUGA: 7 Kesalahan Terbesar Orang tua yang Membuat Mental Anak Terganggu
Kalimat seperti, “Liburnya kurang lama,” atau “Aku nggak mau sekolah dulu,” memang sering terdengar setelah liburan. Jika hanya sesekali, itu normal. Namun jika terus diulang dengan emosi yang kuat, ada baiknya digali penyebabnya.
Perut sakit, pusing, atau mual menjelang masuk sekolah bisa menjadi bentuk kecemasan yang muncul secara fisik. Apalagi jika keluhan tersebut hilang saat anak kembali bermain di rumah.
Meski begitu, jika keluhan berlangsung terus-menerus atau disertai gejala lain, jangan ragu memeriksakan anak ke dokter.

Selama liburan, waktu layar biasanya lebih longgar. Ketika anak masih sulit lepas dari gadget hingga larut malam, ia mungkin akan lebih sulit kembali fokus pada aktivitas belajar.
Sebagian anak senang memilih alat tulis baru atau merapikan tas sekolah. Namun jika anak sama sekali tidak menunjukkan minat atau terus menunda, bisa jadi ia belum siap secara mental.
Anak mungkin mulai bertanya terus tentang guru baru, teman sekelas, pelajaran, atau kegiatan di sekolah. Ini bisa menjadi tanda bahwa ia sedang merasa khawatir menghadapi perubahan.
Alih-alih langsung menenangkan, cobalah mengajak anak bercerita agar Mommies mengetahui apa yang sebenarnya membuatnya khawatir.

Anak tetap meminta pergi jalan-jalan setiap hari atau menganggap besok masih hari libur. Ini menunjukkan ia belum sepenuhnya beralih ke pola pikir sekolah.
Bukan hanya soal tidur, tetapi juga makan, mandi, belajar ringan, hingga mengurangi waktu bermain. Jika semuanya masih berantakan, anak mungkin membutuhkan masa transisi yang lebih bertahap.

Tidak perlu memaksa anak langsung kembali ke ritme sekolah dalam semalam. Adaptasi yang dilakukan secara bertahap biasanya lebih efektif.
Beberapa hal yang bisa Mommies lakukan:
Ingat, setiap anak memiliki waktu adaptasi yang berbeda. Selama orang tua memberikan dukungan dan rutinitas yang konsisten, biasanya anak akan lebih mudah kembali menikmati aktivitas sekolah dalam beberapa hari pertama.
Yang paling penting, anak merasa didampingi, bukan dihakimi, selama proses kembali ke rutinitas sekolah. Dengan begitu, mereka akan lebih percaya diri menghadapi hari-hari pertama di sekolah setelah liburan.
Cover: Photo by Deleece Cook on Unsplash