5 Cara Komunikasi Efektif dalam Keluarga agar Liburan Tetap Harmonis Tanpa Drama

Sex & Relationship

Keluarga Kita・in 5 hours

detail-thumb

Liburan keluarga bisa memicu konflik jika komunikasi tidak berjalan baik. Simak 5 cara komunikasi efektif dalam keluarga agar hubungan tetap harmonis dan minim drama.

Musim liburan menjadi kesempatan bagi anak-anak dan orang tua untuk menikmati lebih banyak waktu bersama. Kesempatan bermain, berbagi cerita, hingga bercanda dengan durasi yang lebih lama dibandingkan hari-hari biasa tentu menjadi momen yang menyenangkan.

Namun, tidak jarang momen liburan justru memicu konflik antarkeluarga. Komunikasi yang lebih intens dapat menimbulkan kesalahpahaman sehingga liburan yang seharusnya berkesan berubah menjadi ujian dalam hubungan keluarga.

Liburan ternyata tidak hanya menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga tantangan. Tambahan tanggung jawab orang tua dalam menyiapkan berbagai kegiatan, kebosanan yang rentan dirasakan anak karena kurangnya variasi aktivitas, pembagian tugas domestik maupun pengasuhan, hingga persoalan kesehatan dapat menjadi tantangan tersendiri selama masa liburan.

Suami istri, orang tua dan anak, maupun kakak beradik bisa bertengkar atau saling mengabaikan akibat berbagai persoalan yang muncul selama liburan.

Lantas, apakah keadaan ini akan dibiarkan hingga merusak momen liburan, bahkan perlahan menghancurkan keharmonisan keluarga setelah liburan usai? Tentu hal tersebut tidak diinginkan.

BACA JUGA: 7 Kegiatan Liburan yang Diam-Diam Mengasah Soft Skill Anak

Karena itu, menghadapi sekaligus mengantisipasi berbagai tantangan selama liburan perlu dilakukan. Salah satu caranya adalah membiasakan lima cara komunikasi efektif berikut ini dalam kehidupan sehari-hari.

1. Gunakan Teknik “Aku Merasa” atau I-Message

Cara Komunikasi Efektif dalam Keluarga agar Liburan Tetap Harmonis Tanpa Drama

Foto: Vitaly Gariev/Pexels

Teknik komunikasi ini dilakukan dengan cara menyampaikan apa yang kita rasakan dan inginkan.

Teknik ini memiliki susunan kalimat sebagai berikut:

Aku merasa → saat → aku ingin → karena

Contoh:

Aku merasa kewalahan saat harus menyiapkan semua bekal piknik kita sendirian. Aku ingin kamu membantuku, misalnya dengan menyiapkan minuman, karena bantuanmu pasti akan sangat meringankan.

Keistimewaan teknik ini adalah kita dapat mengungkapkan perasaan tanpa menyerang lawan bicara sekaligus menyampaikan harapan dengan cara yang lebih baik.

2. Menyampaikan Kebutuhan Diri

Kita perlu menyampaikan apa yang benar-benar kita butuhkan. Hal ini dapat diawali dengan mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan, lalu memiliki kemauan untuk tidak menyembunyikannya dari anak maupun pasangan.

Alih-alih berdiam diri dan uring-uringan, lebih baik mengungkapkannya agar anak atau pasangan benar-benar memahami apa yang kita pikirkan, rasakan, dan butuhkan.

3. Mengajak Bersepakat

Terkadang, saat menghadapi sebuah tantangan, kita merasa mampu menemukan solusi dan menyelesaikannya sendirian. Namun, penting juga melibatkan anak maupun pasangan untuk menyelesaikan tantangan bersama. Hal ini justru dapat mempererat hubungan kekeluargaan.

Dengan begitu, pemahaman bahwa “it’s us against the problem, not me against you” dapat memupuk keharmonisan dalam keluarga.

4. Menyatakan Apresiasi

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels

Apresiasi adalah kalimat pujian yang mungkin singkat dan sederhana, tetapi mampu memberikan energi yang luar biasa bagi anak maupun pasangan.

Kita bisa mulai membiasakan diri untuk menyampaikan apresiasi dalam keluarga tanpa perlu menunggu anak atau pasangan lebih dahulu melakukannya.

BACA JUGA: 7 Tipe Orang Tua saat Liburan Sekolah Anak, Nomor 6 Paling Relate!

5. Mengungkapkan Maaf

Tidak semua orang mudah mengucapkan maaf, meskipun telah menyadari kesalahannya.

Kita juga bisa memilih ungkapan selain kata “maaf”, karena banyak pilihan kata yang memiliki makna serupa, bahkan lebih mendalam, untuk menunjukkan kesediaan dan komitmen untuk memperbaiki kesalahan.

Cover: Ivan S/Pexels