​​Kenapa Banyak Orang Tua Memilih Sekolah Katolik untuk Anak Mereka?

Education

dewdew・an hour ago

detail-thumb

Berikut ini beberapa alasan para orang tua memilih sekolah Katolik untuk anak-anak meski tidak beragama Katolik. Alasannya sangat menarik.

Ada banyak yang bertanya kepada saya beberapa tahun lalu, “Kamu yakin mau menyekolahkan anak di sekolah Katolik?” Saya jawan, “Yakin!” Karena sebenarnya keputusan untuk sekolah di yayasan Katolik bukan cuma keputusan saya semata, tapi juga keputusan anak saya yang waktu itu sudah cukup besar untuk punya hak memilih sekolah (menurut saya). 

Tapi, ya, bukan berarti saya nggak tahu apa-apa soal sekolah ini. Saya juga riset dulu, kok. Seperti kebanyakan orang tua lainnya, kesimpulan saya yang muslim ini, bersekolah di bawah naungan yayasan Katolik ternyata tak aneh, kok. Di Indonesia, fenomena ini bukan hal baru, sudah berlangsung puluhan tahun, lintas generasi, lintas agama. Ada yang Muslim seperti saya, ada yang Protestan, Hindu, Buddha. Alasan mereka beragam, tapi kalau dikerucutkan, ada benang merah yang selalu muncul, yaitu soal karakter, disiplin, dan lingkungan yang mereka percaya bisa membentuk anak menjadi manusia yang utuh. Berikut ini beberapa pengakuan orang tua non Katolik yang memutuskan menyekolah anak-anak mereka di sekolah Katolik.

Untuk navigasi kehidupan di masa depan

SMA adalah fase krusial yang tidak bisa kami anggap remeh. Di usia ini, anak-anak sedang dalam proses membentuk diri, sehingga lingkungan sekolah pasti punya pengaruh yang sangat besar. Maka ketika memilih sekolah untuk anak kami, akademik saja tidak cukup. Kami mencari tempat yang benar-benar serius soal pembentukan karakter. Pilihan kami jatuh pada sekolah berlatar belakang Katolik, karena kami percaya pada reputasinya dalam menanamkan disiplin dan tanggung jawab, dua hal yang menurut kami paling dibutuhkan anak remaja untuk menavigasi kehidupannya.
Medina

Baca juga: Anak Punya Grup WhatsApp Sekolah? Sepakati 8 Aturan Ini

Bukan pilihan mutlak, tapi jodohnya di sekolah Katolik

Sebetulnya sekolah Katolik bukan pilihan mutlak karena kami adalah keluarga muslim. Kebetulan anak saya waktu itu belum berjodoh dengan SMP swasta lain di area Rawamangun. Pilihan akhirnya jatuh ke SMP Tarakanita 4 di Jl Balai Pustaka. Sekolah ini cukup memiliki sejarah juga tradisi yang panjang dan teruji. Uang pangkal dan SPP di situ pun lebih bersahabat. Namun di luar alasan-alasan itu, sekolah Katolik saya rasakan sangat kuat menanamkan karakter pelayanan yang inklusif bagi sesama tanpa memandang latar agama. Tentu saja sekolah berbasis agama yang lain juga menanamkan nilai-nilai yang luhur dan mulia. Hanya saja orientasi pelayanan bagi sesama ini di sekolah Katolik terasa lebih terprogram implementasinya baik di intra atau ekstrakurikulernya. 

Ditambah lagi, SMP tersebut memberlakukan aturan resmi dan tegas dalam bentuk surat edaran untuk tidak memberikan gratifikasi dalam bentuk apa pun kepada guru, wali kelas, atau kepala sekolah. Hebat! 

Saya juga punya kebiasaan melacak latar sekolah rekan kerja, narasumber, atau tokoh masyarakat yang kemudian saya tandai; mereka yang dulunya mengecap pendidikan di sekolah Katolik rata-rata memiliki komitmen, etos kerja, dan networking yang kuat tapi juga tidak lupa bergembira dan bersenang-senang. Alasan ini boleh jadi subyektif dan tidak berlaku general. Namun, itulah alasan terkuat mengapa setelah lulus dari SMP Tarakanita 4, saya setuju dengan anak saya yang ingin meneruskan jenjang pendidikan berikutnya di SMA Kolese Gonzaga. Pertama kali datang ke kolese itu, kami disambut kakak-kakak kelas yang ramah, santun, dan well informed. Makin mantaplah saya menyekolahkan anak di situ. Yang juga saya suka dari kegiatan pembelajaran sekolah Katolik adalah “live in” di rumah warga sederhana di lingkungan pedesaan. Saya bersyukur, anak-anak bisa beradaptasi dengan baik selama live in dan menghormati keluarga asuhnya. Berbagai pengalaman nyata ini terbukti bisa membangun resiliensi yang kuat dengan tetap mengedepankan empati.
Heni Wiradimaja

Butuh lingkungan yang lebih terstruktur

Sebetulnya awalnya bukan karena alasan keagamaan sama sekali. Si kakaklah yang duluan yang mau ke sana, ikut-ikutan teman-temannya. Yang membuat saya akhirnya mantap justru datang dari saran guru SMP anak saya. Gurunya yang melarang saya masukkan ke negeri. Katanya, karakter anak saya yang cenderung berani dan nekat itu butuh lingkungan yang lebih terstruktur. Saya pikir, ada benarnya juga.

Keputusan memilih sekolah Katolik sudah dimulai sejak SD, bukan karena pertimbangan iman, tapi karena reputasinya yang konsisten. Soal iman itu tugas saya sebagai orang tuanya. Mau sekolah berlatar belakang keagamaan atau nggak, iman adalah tanggung jawab mutlak orang tua. Tapi kalau sekolah Katolik disiplinnya terjaga dan akademiknya bagus. Jadi ya lanjut saja sampai SMA. Dan setelah melihat pengalaman sang kakak, saya menemukan satu hal lagi yang membuat saya semakin yakin menyekolahkan adiknya di sekolah Katolik, yaitu sekolah ini tidak hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga masih memberi ruang bagi anak untuk berkegiatan dan berkembang sesuai minatnya, tanpa tekanan yang berlebihan.
Vivi Laksmi

Belajar jadi minoritas

Di luar soal disiplin dan karakter, ada alasan lain yang tidak bisa kami abaikan, yaitu kami ingin anak kami belajar hidup berdampingan dengan perbedaan secara nyata, bukan sekadar teori. Dengan menjadi minoritas di komunitas yang positif, ia belajar menilai orang dari pribadinya, bukan dari label agamanya.

Pengalaman ini ternyata dirasakan banyak orang tua lain. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan sekolah lintas agama cenderung lebih toleran, lebih mampu membangun pertemanan yang tulus tanpa sekat keyakinan. Ditambah lagi, nilai service atau semangat melayani yang kuat di sekolah Katolik mengajarkan bahwa kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang melampaui agama mana pun, dan itu adalah bekal yang kami rasa sangat dibutuhkan anak-anak di dunia yang semakin kompleks ini.
Mira

Baca juga: Rekomendasi Sekolah Katolik dan Kristen Favorit Orang Tua

Cover photo: Envato