
Mengajarkan problem solving pada anak SD bisa dimulai dari hal sederhana di rumah. Ini cara melatih kemampuan berpikir kritis anak menurut pakar.
Anak pulang sekolah sambil mengeluh karena PR Matematika sulit. Atau tiba-tiba bertengkar dengan teman, lalu bingung harus berbuat apa. Situasi seperti ini pasti pernah dialami banyak Mommies.
Sebagai orang tua, rasanya ingin langsung memberi solusi. Padahal, sesekali menahan diri justru bisa menjadi kesempatan terbaik untuk melatih kemampuan problem solving anak.
Kemampuan menyelesaikan masalah bukan hanya berguna saat belajar di sekolah. Anak yang terbiasa berpikir untuk mencari solusi juga cenderung lebih mandiri, percaya diri, dan mampu mengambil keputusan dengan lebih baik ketika dewasa nanti.
Menurut Harvard Center on the Developing Child, kemampuan berpikir, merencanakan, mengendalikan diri, dan memecahkan masalah merupakan bagian dari executive function yang berkembang sejak anak kecil dan terus terasah melalui pengalaman sehari-hari.
Lalu, bagaimana cara melatih kemampuan problem solving pada anak SD tanpa membuatnya merasa digurui?
BACA JUGA: 8 Aktivitas untuk Melatih Anak Berpikir Kritis dan Manfaatnya Menurut Psikolog!

Memasuki usia sekolah dasar, anak mulai menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Mereka harus belajar bekerja sama dalam kelompok, menyelesaikan tugas sekolah, mengatur waktu, hingga menghadapi konflik dengan teman.
Kemampuan problem solving membantu anak berpikir lebih tenang ketika menghadapi masalah. Anak juga belajar mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum mengambil keputusan, bukan sekadar bereaksi karena emosi.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan bahwa aktivitas bermain, berdiskusi, dan eksplorasi bersama orang tua membantu mengembangkan executive function, termasuk kemampuan berpikir kritis, fleksibilitas berpikir, dan problem solving.
Kabar baiknya, kemampuan ini bisa dilatih setiap hari melalui aktivitas sederhana di rumah.
Saat anak datang membawa masalah, coba tahan keinginan untuk langsung memberi solusi.
Sebaliknya, ajukan pertanyaan seperti:
Pertanyaan seperti ini membuat anak belajar menganalisis situasi sebelum bertindak.
Kadang anak merasa semua hal adalah masalah besar.
Bantu ia mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi.
Misalnya, ketika anak berkata, “Aku benci Matematika.”
Mommies bisa mengajak anak mengurai masalahnya menjadi lebih spesifik.
“Yang sulit bagian menghitungnya atau memahami soalnya?”
Saat masalah menjadi lebih jelas, mencari solusi pun terasa lebih mudah.
Problem solving tidak selalu harus dilatih lewat pelajaran sekolah.
Misalnya saat merencanakan liburan keluarga.
Minta anak ikut memikirkan beberapa pilihan.
“Kalau budget kita segini, enaknya pergi ke mana?”
“Dari dua tempat ini, menurutmu mana yang lebih seru?”
Anak belajar mempertimbangkan berbagai pilihan sekaligus memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.
Melihat anak gagal memang tidak mudah.
Namun, sesekali biarkan anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri selama situasinya tetap aman.
Misalnya lupa membawa buku pelajaran karena tidak mengecek tas semalam.
Daripada langsung mengantar buku ke sekolah, biarkan anak merasakan konsekuensinya agar ia belajar membuat persiapan yang lebih baik di lain waktu.
Pengalaman seperti ini justru menjadi proses belajar yang berharga.

Tidak semua latihan problem solving harus terasa seperti belajar.
Board game, puzzle, LEGO, permainan mencari jalan keluar (maze), hingga permainan memasak bersama bisa melatih anak berpikir, membuat strategi, dan mencoba berbagai alternatif penyelesaian masalah.
Menurut AAP, bermain merupakan salah satu cara terbaik untuk membangun kemampuan berpikir, kreativitas, dan penyelesaian masalah pada anak.
Setelah masalah selesai, jangan buru-buru berpindah ke aktivitas lain.
Ajak anak berdiskusi.
Misalnya dengan bertanya:
Langkah refleksi seperti ini membantu anak belajar dari pengalaman, bukan sekadar menyelesaikan masalah sesaat.
Anak belajar paling banyak dari orang tuanya.
Saat menghadapi masalah di rumah, coba tunjukkan bagaimana Mommies berpikir mencari solusi.
Misalnya ketika listrik padam atau kendaraan mogok.
Daripada panik, ucapkan dengan tenang:
“Oke, sekarang kita cari tahu dulu penyebabnya.”
Tanpa sadar, anak akan meniru cara berpikir tersebut ketika menghadapi masalahnya sendiri.
Ada beberapa kebiasaan yang justru membuat kemampuan problem solving anak kurang berkembang, misalnya:
Sesekali memang lebih cepat jika orang tua mengambil alih. Namun, dalam jangka panjang, anak bisa kehilangan kesempatan belajar mengambil keputusan sendiri.
Mengajarkan problem solving pada anak SD bukan berarti membuat anak selalu menemukan jawaban yang benar. Yang jauh lebih penting adalah membiasakan mereka berpikir, mencoba, mengevaluasi, lalu berani mencoba lagi.
Kemampuan ini akan menjadi bekal yang sangat berguna, bukan hanya saat menghadapi soal Matematika, tetapi juga ketika menghadapi tantangan dalam pertemanan, sekolah, hingga kehidupan saat dewasa nanti.
Jadi, mulai hari ini, saat si kecil datang membawa masalah, mungkin Mommies bisa mengurangi satu kalimat, “Mama bantu, ya,” dan menggantinya dengan pertanyaan sederhana, “Kalau menurut kamu, solusinya apa?” Bisa jadi, dari situlah kemampuan problem solving anak mulai tumbuh.
BACA JUGA: Melatih Kemampuan Problem Solving untuk Si Anak SD dan SMP
Cover: Magnific