Sorry, we couldn't find any article matching ''

13 Hal yang Terjadi saat Ibu dan Anak Sama-Sama Mengidolakan BTS
Ibu dan anak sama-sama mengidolakan BTS? Ternyata kebiasaan ini bisa menjadi cara menyenangkan untuk mempererat bonding, menciptakan quality time, dan membangun komunikasi yang lebih hangat.
“BTS comeback!”
Kalimat itu mungkin awalnya terdengar asing bagi sebagian Mommies. Namun, bagi yang akhirnya ikut terjun ke dunia BTS gara-gara anak, siap-siap saja. Dari yang awalnya hanya menemani menonton video musik, lama-kelamaan jadi ikut hafal nama para member, mengetahui jadwal comeback, hingga diam-diam begadang menonton konser online.
Fenomena ibu dan anak sama-sama menjadi ARMY (sebutan untuk penggemar BTS) ternyata bukan hal yang aneh. Justru, banyak keluarga menemukan cara baru untuk membangun kedekatan lewat kesukaan yang sama.
BACA JUGA: 13 Pelajaran Hidup dari Lirik Lagu BTS dan Alasan Kenapa Mereka Dicintai Berbagai Usia
Apa yang Terjadi saat Ibu dan Anak Sama-Sama Jadi ARMY
Ketika ibu dan anak sama-sama mengidolakan BTS, yang terbangun ternyata bukan hanya keseruan mengikuti comeback atau mengoleksi album. Banyak keluarga justru merasakan komunikasi yang lebih hangat, quality time yang lebih sering, hingga hubungan yang semakin dekat karena memiliki minat yang sama.
Kalau Mommies sedang mengalami fase ini, mungkin beberapa hal berikut akan terasa sangat relate.
1. Awalnya Cuma Menemani, Ujung-Ujungnya Ikut Jatuh Hati
Semuanya biasanya dimulai dari kalimat, “Temenin aku nonton BTS, ya.”
Lima menit pertama mungkin masih terasa biasa saja. Namun, setelah melihat penampilan mereka, mendengar lagu-lagunya, lalu penasaran dengan perjalanan karier masing-masing member, tahu-tahu Mommies sudah ikut mencari konten BTS sendiri.
Anak pun hanya tersenyum sambil berkata, “Kan, aku sudah bilang mereka keren.”
2. Rumah Mendadak Penuh Lagu BTS

Foto: Reddit
Playlist di mobil berubah. Lagu yang diputar saat memasak berubah. Bahkan, playlist saat beberes rumah pun isinya BTS.
Lucunya, tanpa sadar Mommies jadi ikut hafal lirik lagu berbahasa Korea meski belum tentu memahami artinya satu per satu.
3. Punya Bahasa Rahasia yang Hanya Dipahami Berdua
“Bias kamu siapa?”
“Ini era apa?”
“Comeback kali ini konsepnya beda.”
Percakapan seperti ini mungkin membuat anggota keluarga lain kebingungan. Justru di situlah serunya. Ada dunia kecil yang hanya dipahami Mommies dan si kecil.
4. Belajar Banyak Nilai Positif dari BTS
Grup K-Pop asal Korea Selatan ini bukan hanya dikenal karena musiknya. Banyak orang menyukai mereka karena pesan-pesan positif yang sering disampaikan.
Mulai dari pentingnya mencintai diri sendiri, bekerja keras, menghargai proses, hingga menjaga kesehatan mental.
Salah satu contohnya adalah kampanye Love Myself yang dijalankan BTS bersama UNICEF untuk mengajak anak muda mencintai diri sendiri dan menghentikan kekerasan terhadap anak dan remaja.
Tanpa terasa, topik-topik ini menjadi lebih mudah didiskusikan bersama anak karena muncul secara alami dari lagu maupun konten yang mereka tonton.

Foto: BTS melalui kampanye Love Myself bersama UNICEF
5. Jadi Lebih Sering Mengobrol
Kadang orang tua bingung mencari topik obrolan dengan anak, apalagi ketika mereka mulai beranjak remaja.
Memiliki minat yang sama dapat menjadi jembatan komunikasi.
Obrolan yang awalnya tentang album baru bisa melebar menjadi pembahasan soal sekolah, pertemanan, mimpi, bahkan rasa percaya diri.
Dan itu sangat berharga.
6. Sama-Sama Menabung Demi Konser
Kalau ada konser BTS, mendadak seluruh keluarga mengenal istilah “war tiket”.
Mommies dan anak mulai membuat strategi. Menabung bersama. Mengurangi jajan. Bahkan saling mengingatkan soal target tabungan.
Ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk mengenalkan konsep perencanaan keuangan kepada anak dengan cara yang menyenangkan.
7. Album BTS Jadi Hadiah Paling Membahagiakan
Dulu mungkin hadiah ulang tahun identik dengan mainan atau gadget.
Sekarang? Photocard, album, lightstick, atau merchandise resmi.
Bukan semata-mata karena barangnya, melainkan karena ada pengalaman dan cerita yang menyertainya.
8. Belajar Menghargai Perbedaan Selera
Meski sama-sama menyukai BTS, belum tentu bias-nya sama.
Anak bisa mengidolakan Jungkook, sementara Mommies justru menyukai RM karena kebijaksanaannya.
Lucunya, perbedaan ini sering menjadi bahan bercanda sekaligus mengajarkan bahwa setiap orang boleh memiliki favorit masing-masing.

Foto: Instagram @bts.bighitofficial
9. Momen Nonton Bareng Jadi Quality Time
Tidak harus selalu pergi berlibur untuk menciptakan quality time.
Menonton konser online bersama. Streaming video musik. Menunggu perilisan album baru. Semuanya bisa menjadi ritual kecil yang mempererat hubungan ibu dan anak.
Yang terpenting bukan acaranya, melainkan kebersamaan yang tercipta.
10. Anak Melihat Sisi “Seru” dari Ibunya
Sering kali anak hanya melihat orang tua sebagai sosok yang mengingatkan untuk belajar atau membereskan kamar.
Saat Mommies ikut antusias menyambut comeback BTS, anak jadi melihat bahwa ibunya juga bisa memiliki hobi, semangat, bahkan fangirling. Hal ini membuat hubungan terasa lebih setara sekaligus menyenangkan.
11. Belajar Tetap Bijak Menjadi Penggemar
Mengidolakan seseorang tentu boleh. Namun, dari sinilah Mommies juga bisa mengajarkan batasan yang sehat.
Misalnya, tetap mendahulukan sekolah, mengatur pengeluaran, menghormati privasi idola, hingga tidak terlibat dalam fanwar di media sosial. Anak belajar bahwa menjadi penggemar juga membutuhkan sikap yang dewasa.
12. Punya Kenangan yang Akan Terus Dikenang
Mungkin suatu hari nanti BTS sudah tidak lagi aktif seperti sekarang. Anak pun akan tumbuh dewasa.
Namun, kenangan begadang menonton konser, berburu album, tertawa melihat variety show, atau menyanyikan lagu favorit bersama kemungkinan besar akan tetap tinggal di ingatan. Di situlah letak keistimewaannya.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat anak bukan sekadar siapa idolanya. Melainkan siapa yang menemani mereka menikmati masa-masa itu.
13. Anak belajar bahwa orang tua juga bisa terus belajar
Mungkin Mommies awalnya tidak tahu bedanya album versi standar dan limited edition. Bingung kenapa ada istilah bias, bias wrecker, atau comeback. Bahkan sempat salah menyebut nama member.
Tapi pelan-pelan Mommies belajar. Mencari tahu sendiri, bertanya pada anak, sampai akhirnya ikut memahami dunia yang mereka sukai.
Buat anak, hal sederhana seperti ini ternyata punya makna besar. Mereka merasa didengar, dihargai, dan melihat bahwa orang tua juga tidak malu untuk belajar hal baru.
Siapa sangka, justru dari BTS, anak belajar bahwa proses belajar itu tidak mengenal usia. Dan Mommies pun menunjukkan bahwa membangun hubungan dengan anak kadang cukup dimulai dengan rasa ingin tahu terhadap dunia mereka.
Mengidolakan BTS Bersama Anak Bisa Menjadi Cara Baru Membangun Kedekatan
Setiap keluarga tentu memiliki cara masing-masing untuk menciptakan bonding. Ada yang lewat memasak bersama, berolahraga, traveling, atau bermain board game.
Kalau kebetulan Mommies dan si kecil sama-sama mengidolakan BTS, mengapa tidak menjadikannya sebagai momen untuk saling mengenal lebih dekat?
Selama tetap dilakukan dengan bijak, menghargai prioritas, dan tidak berlebihan, memiliki minat yang sama justru bisa menjadi pintu masuk menuju komunikasi yang lebih hangat.
Karena terkadang, hubungan ibu dan anak tidak selalu dibangun lewat percakapan yang serius. Bisa juga dimulai dari rebutan photocard, tertawa karena konten Run BTS, atau sama-sama berteriak saat lagu favorit diputar.
Siapa sangka, mengidolakan BTS bersama anak justru bisa menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun bonding yang akan terus dikenang hingga mereka dewasa.
Cover: Instagram @bts.bighitofficial
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS