banner-detik
DAD'S CORNER

Rizki Eriansyah: Dari Meracik Soto Mie Hingga Menaklukkan Maraton, Garis Finishnya Selalu Keluarga

author

Sisca Christinain 6 hours

Rizki Eriansyah: Dari Meracik Soto Mie Hingga Menaklukkan Maraton, Garis Finishnya Selalu Keluarga

Rizki Eriansyah meyakini peran ayah itu amanah dari Tuhan. Itu yang memotivasi dirinya untuk terus hidup sehat melalui lari. Seperti apa kisahnya?

Kalau mommies dan daddies penyuka kuliner, coba deh mampir ke Soto Mie Bang Udin di bilangan Petukangan, Jakarta Selatan. Tak hanya akan mendapati seporsi soto mie yang enak, tetapi mommies juga bisa jumpa dengan pemiliknya yang unik, yang suka mengenakan jersey lari dan medali maraton saat melayani pembeli.

Ia bernama Rizki Eriansyah, seorang pemilik usaha kuliner UMKM sekaligus pelari maraton. Menurutnya, filosofi maraton sangat berkaitan erat dengan filosofi hidup. Filosofi ini yang kemudian dia terapkan di kesehariannya dalam bekerja, berolahraga, berumah tangga hingga mengasuh anak. Yuk, berkenalan lebih dekat dengan Rizki.

Rutinitas Harian seorang Rizki Eriansyah: dari Berjualan, Berlari hingga Membersamai Anak

Bisa dibilang, ayah dari dua anak yang berusia 9 dan 4 tahun ini setiap hari “lari maraton”. Pukul 03.00 Rizki sudah bangun untuk berbelanja kebutuhan berjualan, dilanjut shalat subuh, lari pagi, bermain bersama anak, lalu berjualan pukul 09.00 hingga sore hari, kemudian ditutup dengan membersamai anak di malam hari.

Rizki Eriansyah

Foto: dokumentasi pribadi

“Saya berjualan sejak 2013. Nama Soto Mie Bang Udin adalah nama usaha kuliner warisan ayah saya, yang kemudian diteruskan oleh saya dan kakak saya. Saya termotivasi untuk membuka usaha makanan sejak sebelum menikah. Alhamdulillah masih berjalan hingga sekarang.

Setiap malam setelah saya selesai bekerja, saya dampingi anak-anak belajar, mengaji, hafalan, atau bermain. Jumat saya tetapkan untuk libur jualan, agar bisa mengantar anak terapi dan berkegiatan lainnya. Biasanya saya manfaatkan untuk long run juga,jelas Rizki.

Baginya Peran Ayah adalah Amanah dari Tuhan

Membesarkan anak pertama dengan kondisi ADHD, awalnya membuat Rizki dan istri overthinking. Di usia 3 tahun, anak mengalami speech delay. Setelah diperiksa, anak didiagnosis ADHD oleh dokter.

Foto: dokumentasi pribadi

”Sejak itu, anak saya terapi sampai sekarang. Awalnya 2 minggu sekali untuk terapi wicara dan sensori integrasi. Saat bicaranya mulai bagus, dokter stop terapi wicaranya, dan kini masih terapi sensori integrasi. Saat ini anak saya duduk di kelas 3 sekolah dasar dan belajar dengan metode homeschooling didampingi mamanya,” papar Rizki.

”Setelah dijalani, memiliki anak berkebutuhan khusus, ternyata nggak semenakutkan itu, kok. Karena, Tuhan ikut menjaga dan mencukupkan saya dan keluarga. Walau sudah capek berjualan, saya tetap diberi kekuatan untuk membersamai anak. Bagi saya ini amanah dan saya harus jaga amanah ini,” ungkapnya.

Baca juga: Ryo Sihombing: Saya Ingin Menjadi Ayah yang Hadir dan Terlibat Bagi Anak-anak

Memaknai Filosofi Maraton Layaknya Filosofi Hidup

Beberapa waktu lalu, Rizki mengalami dukacita, di mana dua orang guru ngajinya meninggal akibat penyakit diabetes. Ternyata itu menjadi titik balik dirinya untuk mengubah pola hidup lebih sehat, yang dijalaninya hingga sekarang. Rizki memilih lari sebagai olahraga sekaligus hobi yang dijalaninya dengan konsisten sejak 2024.

Rizki Eriansyah
Foto: dokumentasi pribadi

”Pola hidup saya dulu kurang sehat, makan nggak terkontrol, olahraga juga gitu-gitu aja. Suatu malam, saya melihat anak-anak, lalu berpikir, saya nggak bisa kayak gini terus. Pada November 2024 saya menonton event Bormar (Borobudur Marathon), rasanya seru banget. Itu yang memotivasi saya untuk lari. Saya bilang sama diri saya, suatu saat saya harus mencoba. Lalu pada 2025 cita-cita saya untuk ikut Bormar tercapai. Alhamdulillah saya sudah dua kali ikut marathon, dan selanjutnya saya ingin mencoba ikut ultra maraton di Binloop Ultra,” kisah Rizki.

”Mengikuti maraton itu membentuk saya untuk lebih sabar. Ada proses latihan yang harus dijalani dengan tekun untuk bisa berprogres. Ada sulitnya, sakitnya, capeknya. Kabar baiknya, ternyata nggak semenakutkan yang kita pikirkan. Ada orang-orang yang mendukung, ada rasa bangga ketika mencapai garis finish.

Begitu pula dengan membesarkan anak dengan ADHD. Kondisi tersebut melatih saya untuk semakin sabar, percaya dari setiap proses pasti ada progres, dan itu nggak akan instan. Jadi, filosofi maraton kepake banget di kehidupan saya,” ungkapnya.

Cara Seorang Rizki Eriansyah dalam Menghadapi Tantangan Hidup

Tentunya, perjalanan Rizki sebagai seorang ayah juga diwarnai tantangan. Terkadang ada saat di mana ia ingin menyerah. Namun, justru di situlah rasa syukur, kesabaran, dan komitmen seorang ayah menemukan maknanya.

”Terkadang kalau lagi down, saya bilang sama diri saya bahwa saya akan menjaga amanah ini, hingga tugas saya selesai. Saya yakin anak-anak rejekinya ada. Jadi, saya tinggal jalani dan penuhi saja kebutuhan mereka. Anak-anak jugalah alasan saya suka lari. Supaya sehat dan bisa hadir terus untuk mereka,” imbuhnya.

Membangun Kepekaan dan Pengertian di dalam Rumah Tangga, dan Mewujudkannya Melalui Tindakan

Dalam hal bekerja sama dengan pasangan, tidak ada aturan yang terlalu baku bagi Rizki. Ia menjelaskan, ”bagi tugas aja yang penting, dan naluri masing-masing jalan. Kadang saya melihat kalau istri mulai cemberut, saya tahu, ini pasti lagi kecapean, butuh me time. Langsung saya ajak anak-anak jalan-jalan, makan es krim dan bermain, sekitar 1-1,5 jam. Saat kembali, ibunya juga udah happy lagi, anak-anak juga, semua happy!”

Foto: dokumentasi pribadi

”Saya tahu bahwa ngerawat anak itu capek banget. Jadi ketika istri perlu break, atau ingin pergi bersama teman-temannya, saya nggak apa-apa banget. Saya ambil alih dulu tugas urusin anak-anak. Begitupula dengan istri, dia membiarkan saya untuk tidur lebih awal kalau mau maraton, sementara dia masih sama anak-anak. Dia juga selalu dukung hobi lari saya, itu saya alhamdulillah banget.

Semua ini tentunya nggak terjadi secara instan. Seiring berjalannya waktu pernikahan dan menjadi orang tua, kepekaaan itu timbul. Karena nggak ada yang mengajarkkan kita, jadi kita sendiri yang harus bangun kesadaran,” tambah Rizki.

Manajemen Waktu dan Istirahat adalah Kunci

Untuk menjalankan perannya sebagai pelaku usaha, pelari maraton, ayah dua anak dan suami siaga, Rizki berbagi tips, ”Perlu pandai membagi waktu dan tenaga. Atur waktu sebisanya tanpa ”menyenggol” waktu yang lain. Selain manajemen waktu, manajemen istirahat juga prioritas. Jam 9 saya sudah terbiasa tidur.”

Ingin Menjadi Teladan Buat Anak-anak

Baginya, peran ayah sangat penting di dalam pengasuhan anak, terutama untuk membangun anak bermental sehat.

”Saya mengajarkan anak-anak untuk menghormati orang lain, harus semangat dalam hidup, jangan pantang menyerah, banyak belajar, hafalan. Kayak filosofi maraton tadi, terus berjuang dan selalu punya semangat dan daya juang, dan respek sama kehidupan.

Saya juga berusaha untuk selalu punya quality time buat anak-anak, supaya mereka menyadari kehadiran saya. Ini lho, ada bapak, main sama aku. Jadi, saat dia besar dan punya anak sendiri, saya bisa jadi teladan mereka: ayah dulu kayak gini,” lanjut Rizki.

Rizki Eriansyah Berbagi Tips dengan Para Ayah dan Pelari: Tubuh Kita Aset, Kita Cari Sehat, Nggak Cari Podium Semata

Rizki Eriansyah

Foto: dokumentasi pribadi

“Buat para ayah, yuk, kita sama-sama menjaga amanah Tuhan, untuk terus hadir bagi anak-anak.

Buat para pelari: yang mau maraton, semua pasti bisa, jangan takut sama apa yang kita pikirkan. Kalau dijalani, ternyata nggak semenakutkan apa yang kita pikirkan, lho, yang penting latihan benar dan proper, pasti bisa. Kalau nggak ada dana, bisa latihan mandiri pakai YouTube atau AI. Tetapi kalau nggak pede dan ada dana, lebih baik coaching, dari pada cedera. Karena tubuh kita itu aset, kita nyari sehat nggak nyari podium semata,” tutup Rizki Eriansyah.

Baca juga: Acan: Setiap Hari Kita Punya Kesempatan dan Pilihan untuk Jadi Orangtua yang Lebih Baik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan