
Tren quiet vacation makin digemari pekerja urban. Liburan tanpa dokumentasi dan tanpa posting di media sosial ternyata punya sisi positif, tapi juga menyimpan risiko. Simak penjelasannya, Mommies!
Pernah nggak, Mommies atau Daddies, melihat teman yang tiba-tiba sulit dihubungi beberapa hari, tapi status online-nya di aplikasi kantor tetap hijau? Atau malah pernah kepikiran melakukan hal yang sama?
Belakangan ini, ada tren quiet vacation yang sedang banyak dibicarakan, terutama di kalangan pekerja urban. Sekilas terdengar seperti liburan yang tenang dan damai. Padahal, maknanya bukan sekadar memilih liburan tanpa keramaian atau tanpa posting di media sosial.
Quiet vacation justru mengacu pada kondisi ketika seseorang diam-diam mengambil waktu liburan tanpa mengajukan cuti resmi kepada kantor. Mereka tetap terlihat bekerja secara online, padahal sebenarnya sedang menikmati waktu di luar kantor.
Lho, kok bisa?
BACA JUGA: Gaji Nggak Naik? Ini 7 Cara Tetap Bahagia di Tempat Kerja Tanpa Harus Resign
Quiet vacation adalah praktik ketika karyawan mengambil waktu untuk berlibur tanpa memberi tahu perusahaan secara resmi. Berbeda dengan cuti biasa, pekerja tetap berusaha terlihat aktif selama jam kerja.
Caranya pun beragam. Mulai dari menjadwalkan email agar terkirim otomatis, menggunakan perangkat yang membuat mouse terus bergerak supaya status di aplikasi kantor tetap aktif, hingga sesekali membalas pesan kerja dari lokasi liburan.
Sekilas memang terlihat cerdik. Namun, di balik itu, fenomena ini sebenarnya menjadi sinyal bahwa ada sesuatu yang kurang sehat dalam budaya kerja.

Ada beberapa alasan mengapa tren ini semakin banyak dilakukan, terutama oleh pekerja urban dan generasi milenial.
Masih banyak lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa bersalah saat mengambil cuti. Padahal, cuti adalah hak setiap pekerja.
Sebagian orang khawatir akan dianggap tidak produktif, kehilangan kesempatan promosi, atau bahkan dinilai kurang loyal jika terlalu sering berlibur.
Akhirnya, mereka memilih jalan tengah: tetap terlihat bekerja sambil diam-diam menikmati liburan.
Tekanan pekerjaan yang tinggi membuat banyak orang merasa sangat membutuhkan jeda.
Sayangnya, ketika budaya perusahaan kurang mendukung keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mengambil cuti terasa menjadi keputusan yang berat. Quiet vacation pun dianggap sebagai solusi instan.
Di era kerja hybrid dan remote working, berbagai teknologi memungkinkan seseorang tetap terlihat online dari mana saja.
Email bisa dijadwalkan, rapat bisa diikuti dengan virtual background, bahkan status aktif di aplikasi komunikasi kantor bisa dipertahankan menggunakan perangkat tertentu.
Semua itu membuat praktik quiet vacation semakin mudah dilakukan.
Menariknya, di saat yang sama juga muncul tren liburan yang sama-sama mengutamakan ketenangan, yaitu liburan tanpa dokumentasi dan tanpa posting di media sosial.
Kalau quiet vacation berhubungan dengan pekerjaan, tren ini justru lebih fokus pada pengalaman menikmati liburan sepenuhnya.
Alih-alih sibuk membuat konten atau mengejar unggahan Instagram, banyak orang memilih menyimpan ponsel, menikmati suasana, dan benar-benar hadir di momen tersebut.
Kedua tren ini memang sama-sama mengusung kata “quiet”, tetapi tujuannya sangat berbeda.

Jawabannya, belum tentu.
Karena tetap harus memantau email, membalas pesan, atau sesekali mengikuti pekerjaan, otak sebenarnya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa manfaat terbesar dari liburan muncul ketika seseorang benar-benar melepaskan diri dari tekanan pekerjaan.
Jika selama liburan pikiran masih dipenuhi notifikasi kantor, proses pemulihan mental menjadi kurang optimal.
Meski sedang menjadi tren, quiet vacation bukan tanpa konsekuensi.
Beberapa risiko yang mungkin muncul antara lain:
Alih-alih merasa segar setelah pulang, seseorang justru bisa kembali bekerja dengan kondisi yang masih lelah secara mental.
BACA JUGA: 8 Cafe dengan Playground di Bali untuk WFC, Anak Betah Main!
Fenomena ini sebenarnya membuka diskusi yang lebih besar.
Banyak ahli menilai, tren quiet vacation menunjukkan bahwa masih ada perusahaan yang belum berhasil membangun budaya kerja yang sehat. Karyawan seharusnya tidak merasa takut menggunakan hak cuti mereka.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu menyadari bahwa waktu istirahat bukan bentuk kemalasan, melainkan investasi agar karyawan bisa kembali bekerja dengan energi dan produktivitas yang lebih baik.
Kalau Mommies atau Daddies sedang merasa sangat lelah, mungkin yang dibutuhkan bukan liburan diam-diam, melainkan cuti yang benar-benar resmi. Nikmati waktu bersama keluarga, lakukan tren liburan yang membuat hati tenang—kalau memang ingin, boleh juga mencoba liburan tanpa dokumentasi atau tanpa posting di media sosial agar bisa lebih fokus menikmati momen.
Karena pada akhirnya, tujuan liburan bukan sekadar berpindah tempat, tetapi memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar beristirahat.