
Kekerasan dalam pacaran tidak selalu dimulai dengan bentakan atau pukulan. Kenali 7 tanda kekerasan dalam pacaran pada remaja yang sering tidak disadari orang tua
Banyak orang tua merasa lega ketika anak mulai pacaran dengan seseorang yang terlihat baik, sopan, dan rajin menghubungi. Namun, kekerasan dalam pacaran tidak selalu dimulai dengan bentakan atau pukulan. Sering kali, tanda-tandanya muncul secara halus dan bahkan dianggap sebagai bentuk perhatian atau cinta.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk tetap peka terhadap perubahan perilaku anak saat sedang menjalin hubungan. Bukan untuk ikut campur berlebihan, tetapi agar anak memahami seperti apa hubungan yang sehat dan yang perlu diwaspadai.

Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

Wajar jika orang yang sedang jatuh cinta sering bertukar pesan. Namun, hati-hati jika anak terlihat cemas setiap kali terlambat membalas chat, atau merasa harus selalu memberikan kabar setiap saat.
Kalimat seperti, “Lagi di mana?”, “Sama siapa?”, atau “Kok nggak balas?” yang muncul terus-menerus bisa menjadi tanda pasangan mulai terlalu mengontrol.
Hubungan yang sehat tetap memberikan ruang pribadi bagi masing-masing pihak.
Perhatikan jika anak yang biasanya dekat dengan keluarga atau aktif bersama teman tiba-tiba lebih sering menghilang atau menolak ajakan berkumpul.
Kadang pasangan yang posesif secara perlahan membuat anak merasa harus memilih antara hubungan asmara atau lingkungan terdekatnya.
Padahal, hubungan yang sehat justru mendukung seseorang tetap memiliki kehidupan sosial yang seimbang.
BACA JUGA: 15 Pesan Ayah untuk Anak Perempuan Mereka Sebelum Berpacaran
Apakah anak mulai merasa harus meminta persetujuan pasangan untuk memilih baju, ikut kegiatan sekolah, bertemu teman, atau bahkan menentukan hobi? Jika iya, bisa jadi ada pola kontrol yang mulai terbentuk.
Pasangan boleh memberi masukan, tetapi tidak seharusnya mengambil alih keputusan pribadi seseorang.
Salah satu tanda yang sering luput adalah perubahan emosi. Misalnya, anak menjadi lebih mudah gelisah, takut membuat kesalahan, atau khawatir jika pasangan marah.
Ketika hubungan membuat seseorang merasa tidak nyaman, tidak bebas menjadi dirinya sendiri, atau terus berjalan di atas “kulit telur”, itu bukan pertanda hubungan yang sehat.
BACA JUGA: Bekali Anak Remaja Agar Dapat Saling Menghargai Saat Pacaran
Banyak remaja menganggap rasa cemburu sebagai tanda sayang. Padahal, cemburu berlebihan bisa berkembang menjadi perilaku yang tidak sehat.
Misalnya:
Perilaku posesif dan kontrol berlebihan merupakan salah satu bentuk kekerasan emosional dalam pacaran yang perlu diwaspadai sejak dini.
Ketika terjadi konflik, apakah anak selalu berkata:
“Ini salah aku.”
“Aku yang bikin dia marah.”
“Kalau aku nurut, dia nggak akan kesal.”
Pola pikir seperti ini perlu diwaspadai.
Dalam hubungan yang sehat, kedua pihak bertanggung jawab atas perilaku masing-masing. Tidak ada satu orang yang terus-menerus diposisikan sebagai penyebab semua masalah.
Perhatikan jika anak yang sebelumnya percaya diri mulai sering meragukan dirinya sendiri. Misalnya:
Merasa tidak cukup cantik atau tampan.
Merasa tidak cukup pintar.
Takut ditinggalkan.
Sering membandingkan diri dengan orang lain karena komentar pasangan.
Pasangan yang sehat membantu seseorang bertumbuh dan merasa dihargai, bukan membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Ketika melihat tanda-tanda di atas, hindari langsung menghakimi atau melarang anak berpacaran. Reaksi yang terlalu keras justru bisa membuat anak semakin tertutup.
Sebaliknya:
Sumber dari IG @duniapercil
Cover: Photo by Afif Ramdhasuma on Unsplash