banner-detik
PARENTING & KIDS

Dokter Anak Ungkap 7 Kesalahan Orang Tua saat Memberikan Vitamin, Nomor 6 Paling Sering Terjadi

author

Rahmasari Muhammadin 6 hours

Dokter Anak Ungkap 7 Kesalahan Orang Tua saat Memberikan Vitamin, Nomor 6 Paling Sering Terjadi

Jangan asal memberikan vitamin kepada anak. Simak penjelasan dokter anak tentang kesalahan yang sering dilakukan orang tua saat memberikan vitamin, sekaligus rekomendasi cara mengonsumsi vitamin yang tepat.

Agar anak tidak mudah sakit, nafsu makan meningkat, hingga tumbuh lebih tinggi, banyak orang tua rutin memberikan vitamin setiap hari. Bahkan, tidak sedikit yang menyiapkan beberapa jenis vitamin sekaligus karena khawatir kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi.

Namun, tahukah Mommies? Menurut dokter anak dr. Citra Raditha, Sp.A(K), memberikan vitamin secara berlebihan atau tanpa indikasi justru bisa menjadi kesalahan yang berdampak pada kesehatan anak. Vitamin dan mineral tambahan merupakan bentuk suplementasi yang hanya perlu diberikan pada bayi dan anak yang kebutuhan mikronutriennya tidak terpenuhi dari asupan makanan sehari-hari.

Apa itu mikronutrien? Mikronutrien adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil. Karena itu, aturan konsumsi vitamin atau suplemen tambahan perlu diperhatikan agar manfaatnya optimal dan aman bagi anak.

Lalu, apa saja kesalahan yang paling sering dilakukan orang tua saat memberikan vitamin? Simak penjelasannya berikut ini.

BACA JUGA: 7 Vitamin dan Mineral Penting untuk Remaja Putri saat Menstruasi dan Masa Pubertas

Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua dalam Memberikan Vitamin

Walaupun bermanfaat untuk kesehatan, vitamin tambahan tidak boleh diberikan secara sembarangan. Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang tua saat memberikan vitamin kepada anak menurut dr. Citra Raditha.

1. Anak Mengonsumsi Semua Jenis Vitamin Tambahan

Banyak orang tua menganggap vitamin tambahan wajib diberikan setiap hari. Padahal, tidak semua anak memerlukan suplemen vitamin karena kebutuhan nutrisi umumnya dapat dipenuhi dari makanan dengan gizi seimbang.

Vitamin tambahan biasanya dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya anak dengan pola makan terbatas, kesulitan makan, alergi makanan tertentu, menjalani diet khusus, memiliki kondisi medis yang memengaruhi penyerapan nutrisi, atau anak yang berisiko maupun terindikasi mengalami kekurangan vitamin dan mineral berdasarkan hasil pemeriksaan dokter.

2. Memberikan Vitamin untuk Menambah Berat atau Tinggi Badan Anak

Jika anak kekurangan vitamin tertentu, suplemen dapat membantu proses pertumbuhan, metabolisme, dan menjaga kesehatan tubuh. Namun, vitamin tidak secara otomatis membuat berat badan atau tinggi badan anak meningkat.

Karena itu, tetap penting memperhatikan kecukupan kalori, pola makan yang teratur dan seimbang, kualitas tidur yang baik, aktivitas fisik sesuai usia, serta kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi pertumbuhan, seperti gangguan pencernaan, alergi berat, atau infeksi kronis.

Jangan asal memberikan vitamin. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak jika berat badan atau tinggi badan anak kurang optimal atau tidak sesuai dengan kurva pertumbuhan.

Dokter Anak Ungkap 7 Kesalahan Orang Tua saat Memberikan Vitamin

Foto: Alex Green/Pexels

3. Anak Mengonsumsi Vitamin agar Pintar

Banyak orang tua berharap vitamin dapat membuat anak menjadi lebih pintar dan berprestasi. Padahal, perkembangan kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh kombinasi nutrisi yang baik dan seimbang, stimulasi yang tepat sesuai usia, interaksi serta koneksi yang kuat dengan orang tua, lingkungan yang mendukung, kualitas tidur yang baik, aktivitas sehari-hari, dan konsistensi latihan yang membantu meningkatkan keterampilan anak.

4. Menganggap Vitamin sebagai Pengganti Pola Hidup Sehat

Memberikan vitamin kepada anak memang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan mencegah kekurangan zat gizi tertentu. Namun, vitamin tambahan bukanlah pengganti pola hidup sehat dan tidak menjamin anak terhindar dari penyakit.

Selain pola makan bergizi seimbang dan tidur yang cukup, aktivitas fisik, imunisasi, kebersihan diri, serta kebersihan lingkungan juga merupakan faktor penting dalam menjaga kesehatan anak.

5. Menganggap Vitamin sebagai “Jalur Pintas” Kesembuhan Anak

Menurut dokter anak, proses pemulihan saat anak sakit bergantung pada kemampuan tubuh melawan infeksi, istirahat yang cukup, asupan cairan dan nutrisi yang baik, serta penanganan medis yang sesuai dengan kondisi penyakit.

Memberikan vitamin memang dapat mendukung fungsi tubuh dan sistem imun anak, tetapi tidak dapat menggantikan pengobatan yang diperlukan atau langsung menyembuhkan penyakit.

6. Memberikan Vitamin Tanpa Memperhatikan Dosis

Saat memberikan vitamin, ikuti aturan konsumsi sesuai anjuran dokter. Kesalahan dapat terjadi akibat perhitungan dosis yang kurang tepat atau karena vitamin berbentuk gummy yang dianggap anak sebagai permen sehingga dikonsumsi melebihi batas harian.

Perlu diingat, mengonsumsi vitamin melebihi dosis yang dianjurkan dapat menyebabkan hipervitaminosis, terutama pada vitamin A, D, E, dan K yang tidak larut dalam air sehingga dapat menumpuk di dalam tubuh.

7. Tidak Memeriksa Zat Tambahan dalam Vitamin

Banyak produk vitamin menggunakan bahan tambahan seperti pewarna, pemanis, atau pengawet. Orang tua perlu memperhatikan kandungan tersebut karena beberapa zat tambahan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara rutin setiap hari.

Foto: Jonathan Borba/Pexels

Rekomendasi Pemberian Vitamin untuk Anak

Lalu, bagaimana anjuran pemberian vitamin tambahan untuk anak? Berikut rekomendasi berdasarkan World Health Organization (WHO), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai suplementasi vitamin dan mineral.

Vitamin A

Orang tua perlu memberikan vitamin A sebanyak 100.000 IU untuk bayi usia 6–11 bulan dan 200.000 IU setiap 4–6 bulan untuk anak usia 12–59 bulan.

Orang tua dapat mengunjungi Posyandu atau Puskesmas setiap bulan Februari dan Agustus yang dikenal sebagai Bulan Vitamin A sesuai program Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mendapatkan suplementasi vitamin A.

Vitamin D

Menurut rekomendasi IDAI, dosis vitamin D untuk anak adalah 400 IU per hari. Pada daerah dengan paparan sinar matahari yang rendah, anak dapat memerlukan 800–1.000 IU vitamin D per hari.

Agar dosis yang diberikan tepat, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak.

Zat Besi

Zat besi merupakan mineral penting untuk mencegah anemia pada bayi dan anak.

Perhatikan aturan konsumsi sesuai rekomendasi IDAI berikut:

  • Bayi usia 4 bulan–2 tahun: 2 mg/kgBB/hari
  • Anak usia 2–12 tahun: 1 mg/kgBB/hari, 2 kali per minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun
  • Remaja usia 12–18 tahun: 60 mg/hari, 2 kali per minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun

BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kekurangan Vitamin dan Butuh Suplemen Tambahan

dr. Citra Raditha, Sp.A(K), mengingatkan bahwa orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter anak sebelum memberikan vitamin tambahan kepada anak. Jangan menentukan dosis sendiri tanpa panduan tenaga medis, dan tidak perlu memaksa anak mengonsumsi vitamin jika memang tidak dibutuhkan agar tidak menimbulkan trauma.

Vitamin dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tertentu, tetapi tetap bukan pengganti pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan pola hidup sehat yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Cover: gpointstudio/Magnific

Share Article

author

Rahmasari Muhammad

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan