
Ingin punya anak yang soft spoken tapi tetap tegas dan berani menyampaikan pendapat? Simak cara membesarkan anak yang percaya diri, kritis, dan tetap santun menurut psikolog.
Belakangan ini, nama Fhatimah Azzahra, mahasiswi yang juga pengurus BEM UI, ramai diperbincangkan publik. Bukan hanya karena keberaniannya mengkritik pemerintah secara terbuka, tetapi juga karena cara penyampaiannya yang tenang, terukur, dan tidak meledak-ledak.
Banyak orang kemudian menyadari satu hal menarik: ternyata seseorang bisa berbicara dengan lembut, sopan, bahkan terkesan soft spoken, tetapi tetap tegas, kritis, dan berani menyampaikan pendapat.
Fenomena ini mungkin membuat banyak Mommies dan Daddies bertanya-tanya, “Bagaimana ya cara membesarkan anak yang punya karakter seperti itu?”
Di tengah anggapan bahwa orang yang vokal harus berbicara keras atau dominan, sosok seperti Fhatimah menunjukkan hal yang berbeda. Seseorang bisa saja memiliki gaya bicara yang lembut atau soft spoken, tetapi tetap tegas, kritis, dan mampu menyampaikan gagasannya dengan kuat.
Kabar baiknya, kemampuan ini bukan sekadar bawaan lahir. Menurut psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo, anak-anak yang tumbuh menjadi pribadi tenang namun berani berpendapat biasanya dibesarkan dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk berbicara. Bukan lingkungan yang menuntut mereka selalu diam atau selalu menurut.
BACA JUGA: 7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Takut Mengambil Keputusan Sendiri
Lalu, apa yang bisa dilakukan orang tua untuk menumbuhkan karakter seperti ini? Berikut tips dari psikolog Vera.
Mommies dan Daddies, salah satu fondasi terpenting agar anak berani berpendapat adalah merasa bahwa suaranya didengar.
Saat anak bercerita, mengeluh, atau menyampaikan pendapat, cobalah memberi perhatian penuh. Hindari langsung memotong, menghakimi, atau buru-buru memberi nasihat.
Anak yang terbiasa didengarkan akan belajar bahwa pendapatnya memiliki nilai. Dari situ, ia juga akan memahami bahwa setiap pendapat boleh disampaikan, tetapi perlu dijelaskan dengan alasan yang masuk akal.
Anak boleh marah. Anak boleh kecewa. Anak juga boleh tidak setuju dengan orang lain, bahkan dengan orang tuanya sendiri.
Namun, yang perlu diajarkan adalah bagaimana cara mengekspresikan emosi tersebut dengan tepat.
Misalnya, ketika anak kesal karena keinginannya tidak dituruti, daripada mengatakan, “Nggak boleh marah!”, lebih baik katakan, “Mama tahu kamu kecewa. Tapi kita tetap bicara baik-baik, ya.”
Dengan cara ini, anak belajar bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi cara menyampaikannya tetap perlu dijaga.

Tidak sedikit anak yang akhirnya memilih diam karena takut dianggap tidak sopan saat mengungkapkan pendapat. Padahal, tegas dan kasar adalah dua hal yang berbeda.
Tegas berarti mampu menyampaikan apa yang dipikirkan dengan jelas sambil tetap menghargai orang lain. Sementara kasar cenderung menyerang, merendahkan, atau mempermalukan lawan bicara.
Orang tua bisa mulai melatih keterampilan ini melalui kalimat sederhana seperti:
Semakin sering dilatih, semakin mudah bagi anak untuk menyampaikan pendapat tanpa harus meninggikan suara.
Pernah merasa lelah ketika anak terus bertanya, “kenapa?” berkali-kali?
Meski terkadang menguras energi, kebiasaan bertanya sebenarnya adalah tanda bahwa rasa ingin tahu anak berkembang dengan baik.
Anak yang kritis biasanya tumbuh dari lingkungan yang tidak mematikan rasa penasarannya. Karena itu, usahakan untuk tidak selalu menganggap pertanyaan anak sebagai bentuk pembangkangan.
Sesekali, ajak mereka berdiskusi. Misalnya, dengan bertanya balik: “Kalau menurut kamu, apa akibat baik dan buruknya?”
Cara ini membantu anak belajar berpikir, menganalisis, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil kesimpulan.
Anak-anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar.
Jika di rumah anak terbiasa melihat orang tua menyelesaikan perbedaan pendapat dengan teriakan, saling menyalahkan, atau emosi berlebihan, mereka akan menganggap itulah cara yang normal.
Sebaliknya, ketika anak melihat Mommies dan Daddies mampu berdiskusi dengan tenang meski tidak sepakat, mereka belajar bahwa konflik tidak harus selalu diselesaikan dengan suara keras.
Ini adalah pelajaran penting tentang komunikasi yang sehat.
Keberanian berpendapat juga berkaitan erat dengan kemampuan mengambil keputusan. Karena itu, berikan anak kesempatan untuk memilih sejak dini.
Mulai dari hal sederhana seperti memilih pakaian yang ingin dipakai, buku yang ingin dibaca, atau aktivitas akhir pekan yang ingin dilakukan.
Ketika usia bertambah, keputusan yang diberikan bisa semakin kompleks. Yang penting, ajarkan pula bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi yang perlu dipertanggungjawabkan.
Dengan begitu, anak belajar percaya pada kemampuan berpikirnya sendiri.

Banyak orang mengira anak yang berani berbicara adalah anak yang tidak punya rasa takut. Padahal bukan begitu.
Anak yang berani berpendapat tetap bisa merasa gugup atau khawatir. Bedanya, mereka memiliki pengalaman bahwa ketika berbicara dengan sopan dan dengan alasan yang jelas, mereka tidak akan langsung dimarahi, diejek, atau dipermalukan.
Rasa aman inilah yang menjadi fondasi keberanian.
Sebaliknya, jika setiap pendapat anak selalu dianggap salah atau diremehkan, lama-kelamaan mereka akan memilih diam.
Kemampuan berpikir kritis tidak hanya soal berani berbicara, tetapi juga kemampuan memahami perspektif orang lain. Mommies dan Daddies bisa melatihnya melalui obrolan sehari-hari.
Saat menonton film, membaca buku, atau membahas berita yang sedang ramai, coba ajukan pertanyaan seperti:
Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak mengembangkan empati sekaligus kemampuan berpikir lebih mendalam sebelum mengeluarkan pendapat.
BACA JUGA: 12 Kebiasaan Baik yang Dipelajari Anak dari Orang Tua Sejak Dini, Wajib Dicontohkan!
Pada akhirnya, menjadi soft spoken bukan berarti pemalu, pasif, atau tidak berani menyuarakan pendapat. Justru ketika dibesarkan dalam lingkungan yang aman, penuh dialog, dan menghargai pendapat, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang tenang, percaya diri, kritis, sekaligus tegas.
Dan mungkin yang paling penting untuk diingat adalah bahwa keberanian anak tidak tumbuh dari ketakutan untuk salah. Keberanian tumbuh ketika mereka tahu bahwa suaranya layak didengar.
Jadi, daripada meminta anak selalu diam dan menurut, mungkin sudah saatnya kita lebih sering bertanya, “Kalau menurut kamu bagaimana?”