
Paternal postpartum depression bisa dialami ayah baru setelah kelahiran bayi. Kenali penyebab, gejala, dan dampaknya agar dukungan bisa diberikan sejak dini.
Mommies mungkin sudah tahu apa itu postpartum depression pada ibu yang baru melahirkan, ternyata kondisi ini juga bisa dialami sang ayah alias paternal postpartum depression. Di balik kebahagiaan menyambut buah hati, sebagian ayah juga dapat mengalami tekanan emosional yang cukup berat.
Nah, kondisi ini dikenal sebagai paternal postpartum depression, yaitu depresi yang dialami ayah setelah kelahiran anak. Meski cukup umum terjadi, kondisi ini jarang dibicarakan dibandingkan depresi pascapersalinan pada Mommies.
Menurut Dr. Brett Biller, seorang psikolog di Audrey Hepburn Children’s House Amerika, meskipun data mengenai depresi pascapersalinan pada ayah masih terbatas, kondisi ini sangat nyata.
“Ini adalah depresi yang kita lihat pada masa setelah kelahiran, dan gejalanya sedikit berbeda antara pria dan wanita,” kata Dr. Biller.
“Pria juga mengalami perubahan hormonal menjelang kelahiran, dan setelah kelahiran anak, kita melihat penurunan kadar testosteron pada pria. Kita melihat peningkatan kadar estrogen dan kortisol. Kortisol membantu meningkatkan peran ayah, yaitu peran pria dalam merawat dan mendukung,” tambahnya lagi, seperti dikutip dari CBS News.
Jika dibiarkan, hal ini tidak baik untuk ayah dan juga bayi yang baru lahir. Dr. Biller menjelaskan bahwa banyak anak yang ayahnya menderita kondisi ini mengalami perkembangan bicara dan emosional yang lebih lambat.
Jadi, yuk, kita bahas sekarang secara tuntas mengenai paternal postpartum depression!
Paternal postpartum depression adalah kondisi depresi yang dialami ayah selama masa kehamilan pasangan atau setelah kelahiran bayi. Kondisi ini dapat memengaruhi suasana hati, hubungan dengan pasangan, kemampuan menjalin ikatan dengan bayi, hingga kualitas hidup sehari-hari.
Meski lebih jarang dibahas dibanding postpartum depression pada ibu, kondisi ini merupakan masalah kesehatan mental yang nyata dan membutuhkan perhatian. Sayangnya, banyak ayah yang tidak menyadari bahwa apa yang mereka alami merupakan gejala depresi karena fokus keluarga biasanya tertuju pada kondisi ibu dan bayi.

Pada perempuan, gejala depresi pascapersalinan umumnya mulai muncul dalam empat hingga enam minggu setelah melahirkan. Namun, pada sebagian kasus, gejala tersebut juga dapat muncul lebih lambat, bahkan hingga tiga bulan setelah kelahiran bayi.
Sementara itu, penelitian menunjukkan bahwa ayah juga memiliki risiko mengalami depresi selama masa transisi menjadi orang tua. Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 2019 menemukan bahwa risiko depresi tertinggi pada calon ayah selama kehamilan terjadi pada trimester pertama.
Periode ini sering kali diwarnai dengan berbagai perubahan emosional, kekhawatiran tentang tanggung jawab sebagai orang tua, kondisi finansial, serta penyesuaian terhadap perubahan kehidupan keluarga yang akan datang.
Transisi menjadi orang tua jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan banyak orang. Para ayah baru sering kali menghadapi perubahan besar dalam hidup dalam waktu singkat.
Misalnya, waktu tidur menjadi terbatas dan tentunya tanggung jawab rumah tangga bertambah. Dan yang paling nyata, yaitu tekanan finansial yang meningkat. Di saat yang sama, hubungan dengan pasangan bisa berubah seiring kedua orang tua menyesuaikan diri dalam merawat bayi yang baru lahir.
Bagi sebagian pria, guncangan emosional akibat perubahan-perubahan ini dapat memicu kecemasan dan depresi. Perasaan ketidakpastian tentang kemampuan menjadi orang tua yang baik juga mungkin muncul.
Banyak ayah tiba-tiba merasa bertanggung jawab untuk mendukung pasangan dan anak mereka sambil tetap berusaha mengelola pekerjaan dan kewajiban lainnya.
Risiko paternal postpartum depression juga diketahui lebih tinggi pada ayah yang memiliki riwayat gangguan kecemasan atau depresi, mengalami masalah hubungan dengan pasangan, menghadapi tekanan ekonomi yang berat, atau memiliki bayi dengan kebutuhan medis khusus.

Meskipun beberapa gejalanya mungkin tampak mirip dengan depresi pada ibu, pria mungkin mengalaminya dengan cara yang agak berbeda. Berikut tanda-tandanya:
Mereka mungkin kesulitan menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan saat momen-momen spesial bersama bayi mereka yang baru lahir. Beberapa ayah menggambarkan perasaan seolah-olah mereka hanya “melakukan rutinitas” tanpa merasakan kebahagiaan.
Banyak ayah merasa tekanan untuk menafkahi dan melindungi keluarga yang terus berkembang. Namun, ketika kekhawatiran ini menjadi terlalu berat, hal itu dapat berubah menjadi kecemasan berlebihan.
Berbeda dengan citra stereotip depresi yang identik dengan kesedihan, banyak pria mengalami depresi berupa peningkatan kecenderungan mudah marah.
Seorang ayah yang mengalami depresi pascapersalinan mungkin secara bertahap kehilangan minat pada hobi mereka.
Hal ini dapat menimbulkan perasaan bersalah atau malu, terutama ketika mereka membandingkan diri mereka dengan orang tua lain yang tampaknya lebih mudah menjalin ikatan.
Kurang tidur adalah hal yang umum dialami oleh semua orang tua baru, tetapi depresi pascapersalinan pada ayah dapat menimbulkan masalah tidur tambahan.
Bahkan saat menghabiskan waktu bersama, mereka mungkin merasa mati rasa secara emosional atau terisolasi. Keterpisahan ini dapat mempersulit komunikasi, loh, Mommies.
Beberapa ayah mungkin kehilangan nafsu makan dan secara tidak sengaja kehilangan berat badan, sementara yang lain mungkin mencari kenyamanan melalui makanan dan makan lebih banyak dari biasanya.
Seorang ayah yang bergumul dengan depresi pascapersalinan mungkin mulai menghindari interaksi atau menjauhkan diri dari teman dan keluarga. Ia mungkin merasa bahwa orang lain tidak memahami apa yang ia alami.
Kabar baiknya, paternal postpartum depression dapat ditangani. Semakin cepat gejalanya dikenali, semakin besar peluang ayah untuk mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Jika gejala-gejala ini berlangsung selama beberapa minggu dan malah tambah parah, sangat disarankan untuk mencari dukungan profesional dari psikolog atau tenaga kesehatan mental.
Selama ini perhatian sering tertuju pada kesehatan mental ibu setelah melahirkan. Padahal, ayah juga mengalami perubahan besar yang tidak kalah menantang. Karena itu, penting bagi keluarga untuk menyadari bahwa paternal postpartum depression bukan tanda kelemahan, melainkan kondisi kesehatan mental yang nyata. Dengan dukungan yang tepat, ayah dapat melewati masa transisi menjadi orang tua dengan lebih sehat dan siap mendampingi tumbuh kembang si kecil.
BACA JUGA: 10 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Menjadi Ayah, Plus Persiapan Penting yang Sering Terlewat
Ditulis oleh: Imelda Rahma
Cover: Magnific