
Konsultasi ke dokter anak, siapkan pertanyaan ini supaya setiap kali pulang, selalu dapat informasi yang jelas dan nggak mudah menelan mentah-mentah mitos yang beredar.
Perkara ASI vs Sufor, MPASI dini, vaksin, berat badan dan tinggi badan anak stuck, semua merupakan tantangan yang harus dihadapi begitu resmi jadi orang tua baru. Belum lagi, tantangan lain yang timbul dari “berisiknya” media sosial, yang memaparkan pandangan seputar pengasuhan anak, baik dari sesama netijen, influencer, bahkan sampai pernyataan dari akun para ahli, termasuk dokter anak. Padahal, sebenarnya, nih, kita punya, lho, kesempatan untuk mendapatkan jawaban dan konfirmasi dari segala informasi yang meresahkan. Inilah pertanyaan yang penting untuk kita tanyakan setiap kali konsultasi ke dokter anak.
Umumnya, hal ini PASTI akan dibahas oleh dokter anak Anda, bahkan sejak bayi berusia di bawah satu bulan, tepatnya saat mendapatkan vaksin utama. Orang tua baru juga umumnya akan mendapatkan buku perkembangan anak untuk memantau perkembangannya, dari berat badan, tinggi badan, termasuk saat pertama kali ia demam, tumbuh gigi, dan sebagainya. Di dalam buku tersebut juga ada informasi umum seperti grafik perkembangan anak, kemampuan motorik maupun sensorik anak di setiap tahapan usia. Maka, ketika konsultasi berlangsung, pastikan Anda mendapatkan jawabannya.
Hal ini terkait dengan kejadian yang paling umum dialami anak. Misalnya, apakah perlu menunggu tiga hari dulu saat anak demam, tanda bahaya apa yang perlu diwaspadai untuk segera bawa anak ke dokter. Kemudian, pada saat anak terjatuh, tanda apa yang perlu diwaspadai dan kapan perlu bawa anak ke IGD. Begitu pula saat anak mengalami gejala yang tidak umum pada tubuhnya. Orang tua harus aware karena riwayat penyakit setiap anak pun berbeda.
Biasanya, pada usia bayi baru lahir, frekuensi jadwal kontrol jauh lebih padat dibandingkan saat usianya memasuki 1 tahun. Namun, pada keadaan tertentu, misalnya anak habis dirawat, meski sudah dinyatakan boleh pulang, kita tetap perlu melakukan follow-up maupun observasi untuk memastikan anak aman melanjutkan aktivitasnya ke depan.
Terutama untuk antibiotik, vitamin, obat alergi, atau obat demam. Selain dosisnya, kita juga perlu tahu kapan anak harus mengonsumsinya, apakah hanya sementara, hanya bila gejala tertentu muncul, atau haruskah dihabiskan? Bila obat tidak langsung habis, biasanya dokter juga menyarankan beberapa obat sebaiknya langsung dibuang, tidak disimpan dalam jangka panjang.
Terutama saat mengonsumsi obat-obatan. Pada beberapa anak, ada jenis obat yang tidak cocok, yang mungkin saja menimbulkan efek langsung ketika anak mengonsumsinya. Pastikan Anda sudah menanyakan hal ini agar tidak panik saat muncul reaksi yang sebenarnya masih normal.
Baca juga: Orang Tua Wajib Tahu, 4 Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Anak Indonesia
Pada beberapa kasus, seperti batuk dan pilek, banyak dokter yang memberlakukan RUM (Rational Use of Medicine), ketika anak disarankan untuk lebih dipantau lewat pola makan dan nutrisi, kebutuhan cairannya dipastikan terpenuhi, waktu istirahatnya yang cukup dan penyesuaian aktivitas, daripada diresepkan obat-obatan dalam jumlah yang banyak. Namun, kembali lagi, hal ini tidak dapat diberlakukan secara merata pada semua jenis penyakit.
Walaupun datang bukan untuk imunisasi, kita bisa tetap memastikan anak kita sudah mendapatkan vaksin yang lengkap sesuai usianya. Umumnya, semua vaksin yang anak dapat akan tercatat pada buku perkembangan anak, tetapi tidak ada salahnya meminta dokter untuk memastikan hal ini.
Pertanyaan ini akan memudahkan kita saat menghadapi anak ke depannya, terutama ketika anak menunjukkan gejala yang mirip dengan sebelumnya. Dengan memahami pertolongan pertama yang bisa kita lakukan di rumah, kitapun akan jauh lebih tenang di kemudian hari.
Image by Magnificefe