
Dengan mengenal jenis alergi pada anak, orang tua jadi dapat mengambil langkah tepat untuk mengatasinya sebelum gejalanya semakin mengganggu.
Anak mengalami alergi mungkin bukan hal baru bagi para orang tua. Apalagi ketika orang tua punya kondisi alergi, maka faktor risiko anak mengalami alergi semakin tinggi.
Seperti saya contohnya. Saya memiliki alergi kulit; eeh, anak saya mewarisinya juga. Merawatnya pun harus ekstra! Selain faktor keturunan, kondisi udara yang semakin kotor akibat polusi juga semakin mempermudah alergi untuk kambuh.
Menurut dr. Cahya Dewi Satria, M.Kes, SpA, Subsp. AI dari Universitas Gajah Mada (UGM), seperti dilansir dari situs UGM, alergi merupakan kondisi yang dapat diwariskan dari anggota keluarga dekat, seperti orang tua, saudara kandung atau kakek dan nenek.
Dr. Cahya menyebutkan alergi terjadi karena sistem imun tubuh yang terlalu sensitif terhadap zat atau protein tertentu, dimana bagi orang lain bisa saja tidak berbahaya. Saat tubuh mengenali protein tersebut dan membentuk antibodi, maka paparan selanjutnya dapat memicu berbagai gejala alergi.
Menurut data World Allergy Organization (WAO), diperkirakan 30%-40% dari total populasi di seluruh dunia setidaknya memiliki satu kondisi alergi. Prevalensi ini meningkat secara signifikan selama 20 tahun terakhir. Sementara, menurut data Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), prevalensi alergi anak di beberapa kota besar di Indonesia telah mencapai lebih dari 20%.
Sebetulnya, alergi umum terjadi pada anak-anak. Namun, reaksi alergi yang ditimbulkan sangat bervariasi, dari reaksi ringan, berat, hingga dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, penting bagi orang tua mengenal jenis-jenis alergi, supaya dapat memberi penanganan yang tepat pada anak.
Secara alami, penyakit alergi pada umumnya berkembang pada anak dari waktu ke waktu sesuai tahapan usianya. Ini disebut dengan allergic march atau perjalanan alergi, yang biasanya dimulai dari usia bayi.
Dilansir dari situs Asthma and Allergy Foundation of America (AAFA), penyakit alergi cenderung dimulai dengan penyakit alergi kulit seperti kondisi kulit kering di usia bayi, kemudian berkembang menjadi dermatitis atopik hingga eksim di usia beberapa bulan, alergi makanan di sekitiar usia beberapa bulan hingga batita, alergi pada hidung (rhinitis) pada anak di atas usia 3 tahun dan asthma di bulan-bulan pertama bayi hingga besar.
Berikut ini beberapa jenis alergi yang sering terjadi pada anak-anak.
Bayi yang memiliki jenis alergi ini awalnya ditandai dengan kulit kering saat lahir, kemudian dalam beberapa minggu atau bulan awal setelahnya, berlanjut menjadi eksim. Alergi kulit disebabkan karena perbedaan dalam cara sistem kekebalan tubuh anak bereaksi terhadap berbagai faktor.
Gejala alergi kulit:
Mungkin mommies sudah sering menjumpai anak yang alergi dengan telur, makanan laut, kacang, susu sapi, gandum atau serealia, dan lain-lain. Ini karena alergi makanan adalah salah satu jenis alergi anak yang paling umum, dan kerap terjadi pada anak mulai usia 6 bulan ke atas. Menurut laporan IDAI, sebanyak 5-7,5 persen bayi yang mendapat susu sapi, mengalami alergi susu sapi.
Beberapa gejala umum alergi makanan:
Alergi yang terjadi pada saluran pernafasan ini biasanya terjadi pada beberapa anak di usia 3 tahun ke atas.
Penyebabnya bisa dari debu, tungau, bulu/air liur/urin hewan peliharaan, serpihan serangga yang sudah mati, serbuk sari tanaman yang kemudian terbawa angin dan menyebar di udara.
Walau jenis alergi ini umum dialami anak-anak, namun tetap perlu diwaspadai karena reaksi yang ditimbulkan bisa saja berat.
Gejala rhinitis alergi:
Baca juga: 10 Rekomendasi Air Purifier Terbaik, Rumah Bebas Alergi dan Polusi
Jenis alergi pada anak selanjutnya yaitu alergi obat. Beberapa obat yang umum memicu reaksi alergi adalah antibiotik, obat penghilang rasa sakit seperti ibuprofen, obat kemoterapi, serta obat antikejang atau antiepilepsi.
Sekadar berbagi, ketika kecil saya alergi obat CTM (Chlorpheniramine Maleate). Ini membuat dokter bingung, karena obat tersebut adalah obat pereda alergi! Reaksi yang ditimbulkan setelah mengonsumsi obat tersebut yaitu kulit bentol-bentol atau biduran. Jadi, reaksi obat apapun dapat berbeda dari satu anak dengan anak lainnya.
Gejala alergi obat pada anak meliputi:
Sayangnya, alergi tidak dapat disembuhkan. Namun, dapat dicegah kekambuhannya, dan diredakan gejalanya.
Apabila anak mengidap alergi, orang tua bisa lakukan hal ini untuk mengatasinya:
Pada umumnya, reaksi alergi pada anak tergolong ringan. Namun, walau jarang terjadi, reaksi alergi berat juga bisa saja timbul. Reaksi alergi berat ini disebut anafilaksis dan bisa menimbulkan gejala berupa tiba-tiba lemas, sesak napas, mengi, hingga hilang kesadaran atau pingsan. Segera bawa anak ke rumah sakit jika mengalami gejala-gejala tersebut.
Baca juga: 20 Rekomendasi Dokter Anak Spesialis Alergi dan Imunologi di Indonesia
Cover: Freepik