
Anak minta tiket konser artis favoritnya? Ini penjelasan psikolog tentang fandom remaja dan cara terbaik untuk menyikapinya.
“Mama, tiket BTS sudah dijual!”
Kalimat itu mungkin mendadak muncul di meja makan, di dalam mobil saat mengantar anak sekolah, atau bahkan di grup chat keluarga beberapa hari terakhir.
Beberapa waktu terakhir, kalimat serupa mungkin terdengar di banyak rumah. Bukan hanya dari penggemar BTS, tetapi juga dari remaja yang mengidolakan berbagai penyanyi dan grup musik lainnya.
Bagi Mommies dan sebagian orang tua lain mungkin kabar tentang penjualan tiket konser BTS terasa biasa saja. Namun bagi remaja yang sudah lama menantikan kedatangan idolanya, momen ini bisa terasa sangat besar. Tidak sedikit yang rela berburu informasi sejak jauh hari, menabung berbulan-bulan, hingga ikut antre virtual demi mendapatkan tiket.
Di beberapa keluarga, diskusinya mungkin berujung pada strategi war tiket. Di keluarga lain, pembahasannya justru soal anggaran dan prioritas keuangan.
Ketika tiket habis terjual dalam waktu singkat, kekecewaan yang muncul pun sering kali tidak main-main. Ada yang menangis, murung seharian, atau terus membicarakan kegagalannya mendapatkan tiket konser.
Melihat reaksi tersebut, sebagian orang tua mungkin bertanya-tanya: “Kenapa sampai sesedih itu?” atau “Bukankah ini hanya konser?”
Padahal, bagi banyak remaja, keinginan menonton BTS bukan sekadar soal musik atau hiburan. Ada kebutuhan emosional, rasa memiliki terhadap komunitas, hingga proses pencarian jati diri yang sering kali tidak disadari oleh orang dewasa.
Lalu, bagaimana sebenarnya orang tua perlu memahami fenomena ini? Dan bagaimana menyikapi saat anak minta tiket konser yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah tanpa mengabaikan perasaan anak maupun kondisi keuangan keluarga?
BACA JUGA: 13 Pelajaran Hidup dari Lirik Lagu BTS dan Alasan Kenapa Mereka Dicintai Berbagai Usia

Saat melihat anak menangis karena gagal mendapatkan tiket konser, Mommies dan sebagian orang tua mungkin sulit memahami alasannya. Namun dari sudut pandang psikologi perkembangan, hal tersebut sebenarnya cukup wajar terjadi.
Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., M.Psi., Psikolog, masa remaja merupakan periode ketika seseorang sedang mencari jati diri sekaligus membutuhkan figur panutan dan kelompok yang membuat mereka merasa diterima.
“Jadi tidak mengherankan jika remaja bisa memiliki keterikatan emosional yang kuat dengan idola tertentu, seperti BTS atau grup lainnya,” jelas Vera kepada Mommies Daily.
Bagi remaja, idola mereka bukan hanya sekadar penyanyi atau selebritas. Mereka sering melihat nilai-nilai yang dikagumi dalam diri idolanya, mulai dari kerja keras, perjuangan meraih mimpi, kreativitas, kedisiplinan, hingga pesan-pesan positif yang disampaikan melalui lagu maupun aktivitas mereka.
Tak jarang pula remaja merasa memiliki kesamaan pengalaman hidup dengan idolanya. Perasaan “relate” inilah yang membuat hubungan emosional tersebut terasa begitu nyata.
Selain mengagumi idolanya, banyak remaja juga menemukan lingkungan pertemanan yang membuat mereka merasa diterima, biasanya disebut fandom. Menurut Vera, pada masa remaja terdapat kebutuhan yang kuat untuk merasa menjadi bagian dari suatu kelompok.
“Fandom memberikan ruang bagi remaja untuk menemukan teman yang memiliki minat yang sama, berbagi pengalaman, berdiskusi, hingga merasa menjadi bagian dari suatu komunitas,” jelasnya.
Di usia ketika penerimaan sosial menjadi hal yang sangat penting, pengalaman ini dapat memberikan rasa nyaman dan meningkatkan rasa percaya diri. Tak hanya itu, melalui komunitas penggemar, remaja juga bisa belajar membangun relasi, mengembangkan kemampuan komunikasi, hingga belajar berorganisasi melalui berbagai kegiatan bersama.
Tak sedikit pula remaja yang belajar mengorganisasi acara komunitas, membuat konten kreatif, atau menggalang dana sosial bersama sesama penggemar.
Bagi orang dewasa, konser mungkin terlihat sebagai hiburan beberapa jam saja. Namun bagi remaja, pengalaman tersebut bisa memiliki makna yang jauh lebih dalam, lho, Mommies.
“Konser dipersepsikan sebagai pengalaman yang sangat penting dan bermakna. Bukan hanya kesempatan melihat idolanya secara langsung, tetapi juga menjadi bagian dari momen spesial yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup mereka,” ujar Vera.
Karena itulah, kegagalan mendapatkan tiket bisa memunculkan rasa sedih yang cukup besar.
Yang hilang bukan hanya kesempatan melihat idolanya tampil di atas panggung, tetapi juga pengalaman yang sudah lama mereka impikan, bahkan mungkin telah dipersiapkan selama berbulan-bulan.
Bagi sebagian remaja, konser juga menjadi kesempatan untuk bertemu teman-teman yang memiliki minat serupa dan merasakan kebersamaan secara langsung. Tak heran jika kegagalan mendapatkan tiket terasa lebih menyedihkan daripada yang dibayangkan orang dewasa.
Meski memiliki banyak sisi positif, bukan berarti orang tua tidak perlu mengawasi keterlibatan anak dalam fandom.
Vera mengingatkan bahwa orang tua perlu mulai waspada ketika aktivitas fandom mulai mengganggu kehidupan sehari-hari anak.
Misalnya, anak mulai mengabaikan tugas sekolah, kehilangan minat pada aktivitas lain, kurang tidur karena terus mengikuti aktivitas idolanya, menghabiskan uang secara berlebihan, atau menunjukkan reaksi emosional yang sangat ekstrem ketika berkaitan dengan idolanya.
“Yang perlu diingat, masalahnya bukan terletak pada idolanya atau fandomnya, melainkan ketika ketertarikan tersebut menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan identitas diri anak,” kata Vera.
Idealnya, remaja tetap memiliki keseimbangan antara dunia fandom, keluarga, sekolah, pertemanan, dan berbagai aktivitas lainnya.
BACA JUGA: Mau Menonton Konser BTS World Tour 2026? Ini Daftar Kotanya!

Bagian inilah yang mungkin paling membuat orang tua dilema.
Di satu sisi, mereka memahami betapa pentingnya konser tersebut bagi anak. Di sisi lain, harga tiket, transportasi, akomodasi, hingga berbagai kebutuhan lain bisa membuat biaya yang harus dikeluarkan tidak sedikit.
Menurut Vera, langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah memahami bahwa bagi anak, tiket konser bukan sekadar tiket.
“Ada nilai emosional yang besar di baliknya. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak langsung meremehkan atau menolak dengan kalimat seperti, ‘Ah, cuma konser saja’,” ujarnya.
Sebelum memberikan jawaban, cobalah mendengarkan alasan anak terlebih dahulu. Mengapa konser itu penting bagi mereka? Apa yang membuat mereka begitu ingin hadir?
Ketika merasa didengarkan, anak biasanya akan lebih terbuka untuk berdiskusi dan lebih kooperatif saat diajak mempertimbangkan berbagai aspek lainnya.
Orang tua tetap dapat menjelaskan kondisi keuangan keluarga secara terbuka sesuai usia anak. Bahkan, momen seperti ini bisa menjadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan literasi finansial dan kemampuan mengelola keinginan.
Jika memungkinkan, orang tua dan anak bisa mencari solusi bersama. Misalnya dengan menabung sejak jauh hari, menggunakan sebagian tabungan pribadi anak, atau membuat target tertentu yang perlu dicapai terlebih dahulu.
“Dengan cara ini, anak belajar bahwa memperoleh sesuatu yang bernilai memerlukan perencanaan dan usaha,” jelas Vera.
Namun jika kondisi keluarga memang belum memungkinkan untuk membeli tiket konser, orang tua tetap dapat menunjukkan empati tanpa harus mengabulkan permintaan tersebut.
“Kalimat seperti, ‘Mama dan Papa tahu kamu sangat ingin menonton konser ini dan pasti kecewa karena tidak bisa pergi, tetapi saat ini kondisi keuangan keluarga belum memungkinkan,’ biasanya jauh lebih membantu dibandingkan penolakan yang terkesan menghakimi,” katanya.
Pada akhirnya, saat anak minta tiket konser, tujuan utama bukan semata-mata apakah tiket tersebut dibelikan atau tidak.
Yang lebih penting adalah bagaimana anak belajar mengelola keinginan, menghadapi kekecewaan, memahami kondisi keluarga, dan tetap merasa bahwa perasaannya dihargai oleh orang tuanya.
Karena ketika anak merasa dipahami, percakapan tentang tiket konser bisa menjadi lebih dari sekadar soal uang. Ia bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih sehat antara orang tua dan anak.
BACA JUGA: Kuis Buat Penggemar BTS, Seberapa Army-kah Kamu?
Cover: Instagram/bts.bighitofficial