
Masalah kulit bayi sering terjadi, mulai dari ruam popok, jerawat bayi, milia, hingga eksim. Kenali penyebab dan cara mengatasinya pada bayi berikut ini.
“Kulit sehalus bayi.” Sering kan mendengar kalimat tersebut? Bayi memang dikenal memiliki kulit yang lembut dan halus. Namun, kenyataannya, banyak bayi mengalami berbagai masalah kulit selama tahun pertama kehidupannya.
Mulai dari benjolan kecil alias jerawat di wajah hingga ruam gatal di lipatan kulit. Nah, yang bisa sedikit mengurangi rasa khawatir, kondisi kulit ini sangat umum terjadi dan sering kali merupakan bagian normal dari perkembangan bayi.
Meski begitu, melihat ruam atau perubahan pada kulit bayi tentu bisa membuat orang tua khawatir. Jangan takut dulu! Memahami penyebab dan cara mengatasi masalah kulit bayi dapat membantu Mommies lebih tenang saat menghadapinya.
BACA JUGA: 13 Panduan Stimulai Bayi 0-12 Bulan yang Penting untuk Tumbuh Kembang, Sering Dianggap Sepele
Berikut adalah 10 masalah kulit bayi yang umum terjadi dan cara mengatasinya.

Ruam popok merupakan salah satu masalah kulit bayi yang paling umum terjadi. Kondisi ini ditandai dengan kulit kemerahan dan iritasi di area popok, yang sering kali menyebabkan ketidaknyamanan saat bayi diganti popoknya.
Ruam popok biasanya terjadi ketika kulit bayi terlalu lama bersentuhan dengan urine atau tinja. Selain itu, gesekan akibat popok yang terlalu ketat maupun sensitivitas terhadap bahan popok tertentu juga dapat menjadi pemicunya.
Ganti popok secara teratur, bahkan jika memungkinkan segera setelah kotor. Bersihkan area bokong menggunakan air hangat dan kain lembut. Biarkan kulit bayi mengering secara alami sebelum mengoleskan krim pelindung untuk menjaga kulit tetap terlindungi dari kelembapan.
Ruam panas atau prickly heat terjadi ketika keringat terperangkap di bawah kulit. Kondisi ini biasanya muncul sebagai benjolan merah kecil di leher, dada, punggung, atau lipatan kulit, terutama saat cuaca panas dan lembap.
Bayi lebih rentan mengalami ruam panas karena kelenjar keringatnya masih dalam tahap perkembangan.
Pindahkan bayi ke lingkungan yang lebih sejuk dan kenakan pakaian berbahan yang mudah menyerap keringat. Hindari pakaian yang terlalu tebal atau panas. Sebagian besar ruam panas akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari.
Jerawat bayi atau neonatal acne termasuk masalah kulit pada bayi yang cukup sering muncul pada beberapa minggu pertama setelah kelahiran. Bentuknya berupa benjolan kecil berwarna merah atau putih yang biasanya muncul di pipi, dahi, dan dagu.
Meski terlihat mirip dengan jerawat remaja, jerawat bayi umumnya berkaitan dengan perubahan hormon setelah kelahiran dan biasanya akan sembuh dengan sendirinya.
Cuci wajah bayi dengan lembut satu kali sehari menggunakan air hangat dan pembersih bayi yang lembut. Hindari menggosok kulit maupun menggunakan produk perawatan jerawat untuk orang dewasa.
Selain jerawat, milia juga sering ditemukan pada bayi baru lahir. Milia adalah benjolan putih kecil berukuran sekitar 1–2 mm yang biasanya muncul di hidung, pipi, dan dagu.
Benjolan ini terbentuk ketika sel kulit mati terjebak di bawah permukaan kulit. Meskipun terlihat mengkhawatirkan, milia tidak berbahaya.
Tidak diperlukan pengobatan khusus. Cukup bersihkan wajah bayi dengan lembut dan biarkan benjolan menghilang secara alami. Yang terpenting, hindari memencet milia karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit bayi.

Hah, bayi juga bisa ketombean? Iya, loh, Mommies. Ketombe bayi atau cradle cap merupakan kondisi yang menyebabkan munculnya sisik berwarna kuning pada kulit kepala bayi.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat muncul di area alis, telinga, atau bagian wajah lainnya.
Cuci kulit kepala bayi secara rutin menggunakan sampo bayi yang lembut. Setelah itu, lepaskan sisik secara perlahan menggunakan sikat berbulu lembut.
Pada umumnya, cradle cap akan membaik dengan sendirinya dalam beberapa bulan. Jika menyebar luas atau tampak meradang, segera konsultasikan dengan dokter.
BACA JUGA: Perlengkapan Bayi Baru Lahir: Daftar Barang hingga Rekomendasi Produk
Eksim merupakan kondisi kulit kronis yang menyebabkan bercak kering, kasar, kemerahan, dan terasa gatal. Masalah kulit bayi ini sering muncul di pipi, kulit kepala, lengan, dan kaki.
Penyebabnya dapat bervariasi, tetapi faktor genetik dan lingkungan merupakan pemicu yang paling umum.
Menjaga kelembapan kulit bayi adalah salah satu cara paling efektif untuk mengelola eksim. Gunakan pelembap tanpa pewangi yang memang diformulasikan untuk bayi dan hindari penggunaan sabun dengan kandungan yang terlalu keras.
Banyak bayi mengalami ruam pada lipatan leher, terutama selama beberapa bulan pertama kehidupannya. Kondisi ini biasanya dipicu oleh sisa susu dan air liur yang menumpuk sehingga menyebabkan iritasi.
Ruam umumnya tampak kemerahan dan terkadang disertai benjolan kecil.
Bersihkan dan keringkan lipatan leher bayi secara rutin, terutama setelah menyusu. Pastikan tidak ada sisa susu maupun air liur yang tertinggal di sela-sela lipatan kulit.

Ketika bayi mulai tumbuh gigi, produksi air liur biasanya meningkat. Air liur yang terus-menerus mengenai kulit dapat menyebabkan iritasi di sekitar mulut, dagu, pipi, dan leher.
Kondisi ini sering menimbulkan kemerahan dan rasa gatal ringan.
Sering-seringlah menyeka air liur menggunakan kain lembut tanpa menggosok kulit. Selain itu, penggunaan krim pelindung khusus bayi dapat membantu menjaga kulit tetap terlindungi dari kelembapan berlebih.
Dermatitis kontak terjadi ketika kulit bayi bereaksi terhadap benda atau zat yang menyentuh kulitnya. Pemicu yang paling umum antara lain deterjen, wewangian, losion, sabun, maupun bahan kain tertentu.
Identifikasi dan hindari pemicu yang diduga menyebabkan iritasi. Gunakan produk bayi tanpa pewangi dan pilih deterjen yang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif.
Beberapa penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan dan infeksi virus pada anak, dapat menyebabkan munculnya ruam kulit.
Biasanya, ruam akibat virus muncul bersamaan dengan gejala lain seperti demam, batuk, hidung tersumbat, atau penurunan nafsu makan.
Pastikan bayi mendapatkan cukup cairan dan istirahat. Selain itu, pantau apakah gejalanya memburuk atau ruam semakin meluas.
Segera hubungi dokter jika bayi mengalami demam tinggi atau ruam menyebar dengan cepat.
BACA JUGA: 10 Penyebab Bayi Rewel Terus, Ternyata Bukan Cuma Lapar atau Ngantuk!
Cover: enkuu smile di Unsplash