7 Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Takut Mengambil Keputusan Sendiri

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 4 hours

detail-thumb

Tanpa disadari, beberapa kebiasaan orang tua bisa membuat anak takut mengambil keputusan sendiri. Kenali penyebab dan cara membantu anak lebih percaya diri memilih. 

“Mau pakai baju yang mana?” bingung.

“Mau pesan makanan apa?” lama sekali jawabnya.

“Mau ikut les ini atau itu?” langsung bilang, “Terserah Mama aja.”

Kalau Mommies atau Daddies sering menemukan situasi seperti ini, mungkin pernah bertanya-tanya kenapa ya anak terlihat ragu setiap kali harus memilih sesuatu?

Padahal, kemampuan mengambil keputusan adalah salah satu life skill penting yang akan terus dibutuhkan hingga mereka dewasa. Mulai dari memilih teman, menentukan prioritas, sampai mengambil keputusan besar dalam hidup.

Sayangnya, tanpa sadar ada beberapa kebiasaan orang tua yang justru membuat anak takut salah, takut mengecewakan orang lain, atau merasa dirinya tidak cukup mampu untuk menentukan pilihan sendiri.

BACA JUGA: 12 Kebiasaan Baik yang Dipelajari Anak dari Orang Tua Sejak Dini, Wajib Dicontohkan!

Kesalahan Orang Tua yang Membuat Anak Ragu Mengambil Keputusan Sendiri

Yuk, cek apakah salah satu kebiasaan berikut masih sering Mommies dan Daddies lakukan di rumah yang bisa bikin anak takut mengambil keputusan.

1. Terlalu Sering Memilihkan Semua Hal untuk Anak

Karena ingin praktis, kadang orang tua langsung menentukan semuanya.

“Udah pakai yang ini aja.”

“Pesan menu yang ini ya.”

“Ambil ekstrakurikuler yang itu saja.”

Memang lebih cepat. Namun, jika terus-menerus dilakukan, anak jadi tidak terbiasa mempertimbangkan pilihan dan belajar bertanggung jawab atas keputusannya sendiri.

Dampaknya: Anak menjadi bergantung pada orang lain untuk menentukan pilihan.

Tips mengatasinya:

  • Berikan pilihan sederhana sejak dini.
  • Batasi pilihan menjadi 2-3 opsi agar tidak membuat anak bingung.
  • Biarkan anak merasakan konsekuensi ringan dari pilihannya.

Foto: Jep Gambardella/Pexels

2. Terlalu Cepat Mengoreksi Saat Anak Memilih

Ketika anak memilih sesuatu yang menurut kita kurang tepat, respons spontan sering kali muncul.

“Jangan yang itu.”

“Salah pilih, dong.”

“Itu nggak bagus.”

Padahal, belum tentu pilihan anak benar-benar buruk. Bisa jadi hanya berbeda dari preferensi orang tua.

Dampaknya: Anak mulai merasa pilihannya tidak pernah cukup baik.

Tips mengatasinya:

  • Tanyakan alasan di balik pilihan anak.
  • Hargai proses berpikirnya.
  • Koreksi hanya jika menyangkut keamanan, kesehatan, atau nilai penting.

3. Sering Menakut-nakuti dengan Konsekuensi Terburuk

Niatnya ingin mengingatkan, tetapi kadang cara yang digunakan justru membuat anak cemas.

“Nanti kalau salah pilih, rugi sendiri.”

“Nanti menyesal, lho.”

“Kalau gagal gimana?”

Anak akhirnya lebih fokus pada ketakutan dibandingkan dengan proses membuat keputusan.

Dampaknya: Anak menjadi overthinking dan takut mengambil risiko.

Tips mengatasinya:

  • Jelaskan konsekuensi secara realistis.
  • Bantu anak melihat bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.
  • Ceritakan pengalaman pribadi saat pernah salah memilih dan apa yang dipelajari.

4. Terlalu Perfeksionis terhadap Hasil

Beberapa anak tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap keputusan harus menghasilkan hasil sempurna. Padahal tidak ada keputusan yang selalu 100% benar.

Ketika orang tua terlalu fokus pada hasil, anak akan takut membuat pilihan karena khawatir gagal.

Dampaknya: Anak cenderung menunda atau menghindari pengambilan keputusan.

Tips mengatasinya:

  • Beri apresiasi pada proses, bukan hanya hasil.
  • Gunakan kalimat seperti, “Mama bangga kamu sudah berani memutuskan.”
  • Tunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.

5. Sering Membandingkan dengan Anak Lain

“Teman kamu aja berani.”

“Kakakmu dulu nggak kayak gini.”

“Anak si A lebih cepat memutuskan.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi bisa mengikis rasa percaya diri anak.

Dampaknya: Anak semakin ragu terhadap kemampuan dirinya sendiri.

Tips mengatasinya:

  • Fokus pada perkembangan anak dibandingkan dengan orang lain.
  • Rayakan kemajuan sekecil apa pun.
  • Gunakan perbandingan dengan dirinya di masa lalu, bukan dengan orang lain.

Kebiasaan Orang Tua yang Membuat Anak Takut Mengambil Keputusan

Foto: Yan Krukau/Pexels

6. Tidak Memberi Kesempatan Anak Mengungkapkan Pendapat

Kadang orang tua sudah punya keputusan sebelum diskusi dimulai. Akibatnya, anak merasa pendapatnya tidak terlalu penting. Lama-kelamaan mereka berhenti mencoba menyampaikan pandangan atau menentukan pilihan.

Dampaknya: Anak pasif dan kurang percaya diri dalam mengambil keputusan.

Tips mengatasinya:

  • Libatkan anak dalam keputusan keluarga yang sesuai usianya.
  • Dengarkan tanpa langsung menyela.
  • Tunjukkan bahwa pendapat anak dihargai meski tidak selalu diikuti.

7. Terlalu Sering Menyelamatkan Anak dari Kesalahan

Sebagai orang tua, wajar jika ingin membantu. Namun, ketika setiap kesalahan langsung diperbaiki atau diselesaikan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan belajar.

Misalnya saat anak lupa membawa perlengkapan sekolah, lupa mengatur jadwal, atau salah memilih aktivitas.

Dampaknya: Anak tidak belajar menghadapi konsekuensi dan kurang yakin pada kemampuannya sendiri.

Tips mengatasinya:

  • Biarkan anak menghadapi konsekuensi yang aman dan wajar.
  • Dampingi tanpa mengambil alih.
  • Ajak anak mengevaluasi apa yang bisa dilakukan lebih baik lain kali.

Cara Menumbuhkan Keberanian Anak dalam Mengambil Keputusan

Membangun kemampuan mengambil keputusan bukan berarti membiarkan anak menentukan semuanya sendiri. Peran orang tua tetap penting sebagai pendamping dan pemberi arahan.

Yang perlu dilakukan adalah memberi ruang bagi anak untuk berpikir, mempertimbangkan pilihan, mencoba, bahkan sesekali melakukan kesalahan.

Mommies dan Daddies bisa mulai dari hal-hal sederhana, seperti memilih pakaian, menentukan menu makan siang, mengatur jadwal belajar, atau memutuskan kegiatan akhir pekan.

Semakin sering anak diberi kesempatan mengambil keputusan sesuai usianya, semakin kuat pula rasa percaya diri dan tanggung jawab yang terbentuk.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan membesarkan anak yang selalu membuat keputusan sempurna. Melainkan anak yang berani memilih, siap belajar dari kesalahan, dan percaya bahwa dirinya mampu menghadapi konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

BACA JUGA: 7 Kebiasaan Orang Tua yang Ternyata Membuat Anak Sulit Mengelola Emosi

Cover: Dany Castrejon/Pexels