7 Perbedaan Ayah Dulu dan Sekarang yang Banyak Dirasakan Keluarga Masa Kini

Dad's Corner

Katharina Menge・in 4 hours

detail-thumb

Peran ayah dalam keluarga terus berubah. Dari hanya pencari nafkah menjadi sosok yang lebih terlibat dalam pengasuhan, ini 7 perbedaan ayah dulu dan sekarang yang paling terasa.

Masih ingat bagaimana sosok ayah di masa kecil Mommies?

Berangkat kerja pagi-pagi, pulang saat hari mulai gelap, lalu lebih banyak diam ketika berkumpul bersama keluarga. Bukan karena tidak sayang, tetapi memang begitulah gambaran ayah pada zamannya.

Kini, pemandangannya mulai berbeda. Banyak ayah yang ikut mengantar anak sekolah, menemani belajar, mengganti popok, bahkan aktif mencari informasi parenting di media sosial. Perubahan ini membuat banyak orang tua menyadari bahwa peran ayah dalam keluarga terus berkembang dari generasi ke generasi.

Tentu tidak semua keluarga mengalami perubahan yang sama. Namun secara umum, keterlibatan ayah dalam pengasuhan memang semakin meningkat dibandingkan beberapa dekade lalu.

Menariknya, perubahan ini bukan sekadar tren parenting modern. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang aktif dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosi, sosial, hingga akademik anak.

Fenomena ini juga semakin terlihat di Indonesia. Banyak ayah kini membagikan pengalaman mengasuh anak melalui media sosial, mengikuti kelas parenting, hingga mengambil peran yang lebih aktif dalam keseharian keluarga.

Lalu, apa saja perbedaan ayah zaman sekarang dan ayah generasi dulu yang paling terasa?

BACA JUGA: 10 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Menjadi Ayah, Plus Persiapan Penting yang Sering Terlewat

Perbedaan Ayah Zaman Sekarang dan Ayah Generasi Dulu

Foto: Pexels

Meski setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda, beberapa perubahan berikut cukup banyak dirasakan oleh para orang tua masa kini.

1. Ayah Tidak Lagi Hanya Dipandang sebagai Pencari Nafkah

Generasi dulu tumbuh dengan gambaran bahwa tugas utama ayah adalah bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Akibatnya, banyak ayah yang menghabiskan sebagian besar waktunya di luar rumah. Kehadiran fisik bersama anak sering kali terbatas karena tuntutan pekerjaan.

Sementara itu, ayah zaman sekarang semakin banyak yang melihat dirinya bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pengasuh yang aktif terlibat dalam kehidupan sehari-hari anak.

Menurut data dari Pew Research Center, ayah modern menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengasuh anak dibandingkan generasi ayah pada tahun 1960-an. Keterlibatan tersebut mencakup aktivitas bermain, membantu belajar, hingga merawat kebutuhan sehari-hari anak.

2. Lebih Terlibat dalam Pengasuhan Sejak Bayi

Kalau dulu mengganti popok atau menidurkan bayi sering dianggap tugas ibu, sekarang pemandangannya jauh berbeda.

Banyak ayah yang ikut begadang saat bayi baru lahir, membantu menenangkan anak yang rewel, hingga terlibat dalam rutinitas harian sejak awal kehidupan anak.

UNICEF menegaskan bahwa ayah merupakan salah satu sumber daya terpenting bagi perkembangan anak. Ketika ayah terlibat sejak awal kehidupan anak melalui perhatian, permainan, perlindungan, dan pengasuhan, anak cenderung memiliki perkembangan yang lebih optimal.

Karena itu, kehadiran ayah bukan hanya membantu ibu, tetapi juga menjadi kebutuhan penting bagi tumbuh kembang anak.

3. Lebih Hadir Secara Emosional

Mungkin inilah perubahan yang paling terasa.

Ayah generasi dulu sering hadir secara fisik, tetapi belum tentu terbiasa hadir secara emosional karena tuntutan budaya dan pola asuh yang mereka alami sejak kecil.

Sementara itu, banyak ayah zaman sekarang yang berusaha memahami kebutuhan emosional anak dengan lebih baik.

Menurut Harvard Center on the Developing Child, hubungan yang responsif dan penuh perhatian dari orang dewasa membantu membangun fondasi kesehatan mental serta perkembangan sosial emosional anak.

Kehadiran emosional ini bisa sesederhana mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi atau meluangkan waktu khusus untuk berinteraksi setiap hari.

4. Lebih Terbuka Menunjukkan Kasih Sayang

Banyak orang dewasa yang masih ingat bagaimana ayah mereka dulu jarang mengucapkan “Ayah sayang kamu” atau memberikan pelukan secara spontan.

Bukan berarti tidak sayang. Hanya saja, generasi sebelumnya dibesarkan dalam budaya yang menganggap ekspresi emosi laki-laki perlu dibatasi.

Saat ini, semakin banyak ayah yang nyaman menunjukkan kasih sayang secara verbal maupun fisik kepada anak.

Pelukan sebelum sekolah, ucapan bangga setelah anak mencoba hal baru, atau sekadar mengobrol sebelum tidur menjadi bagian yang lebih umum ditemukan dalam keluarga modern.

Foto: Pexels

5. Lebih Aktif Menjadi Teman Diskusi Anak

Jika dulu hubungan ayah dan anak cenderung formal dan penuh jarak, kini banyak ayah yang berusaha membangun komunikasi lebih terbuka.

Tidak sedikit anak yang merasa nyaman bercerita tentang sekolah, pertemanan, bahkan masalah pribadinya kepada ayah.

Perubahan ini penting karena komunikasi yang hangat membantu anak merasa didengar dan lebih mudah membangun kepercayaan diri.

6. Lebih Mau Belajar Tentang Parenting

Dulu informasi parenting tidak semudah sekarang.

Sebagian besar orang tua mengandalkan pengalaman keluarga atau nasihat dari generasi sebelumnya.

Sementara itu, ayah zaman sekarang memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap informasi. Banyak yang membaca artikel parenting, mendengarkan podcast, mengikuti seminar, hingga berdiskusi dengan pasangan mengenai pola pengasuhan.

Laporan klinis dari American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan perkembangan anak meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan hasil perkembangan yang lebih baik pada anak.

7. Lebih Terlibat dalam Pengambilan Keputusan Pengasuhan

Dulu keputusan terkait sekolah, jadwal anak, atau urusan sehari-hari sering kali lebih banyak ditangani ibu.

Saat ini, banyak pasangan yang menjalani pola co-parenting, di mana ayah dan ibu sama-sama terlibat dalam mengambil keputusan terkait anak. Mulai dari memilih sekolah, menentukan aturan penggunaan gadget, hingga mendampingi anak menghadapi tantangan belajar.

Pola seperti ini membantu anak melihat bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama.

Bukan Soal Siapa yang Lebih Baik

Membandingkan ayah zaman sekarang dan ayah generasi dulu bukan berarti menentukan siapa yang lebih hebat.

Banyak ayah dari generasi sebelumnya membesarkan keluarga dengan penuh pengorbanan di tengah keterbatasan informasi, tuntutan sosial, dan kondisi ekonomi yang berbeda dengan sekarang.

Namun satu hal yang menarik, definisi menjadi ayah terus berkembang. Jika dulu ayah identik dengan sosok pencari nafkah, kini banyak keluarga yang melihat ayah sebagai figur yang hadir secara fisik, emosional, dan aktif dalam pengasuhan.

Dan mungkin, itulah salah satu perubahan terbesar yang sedang dirasakan banyak keluarga saat ini. Bukan karena ayah zaman dulu kurang sayang, melainkan karena ayah zaman sekarang memiliki lebih banyak ruang untuk menunjukkan rasa sayangnya secara langsung kepada anak.

BACA JUGA: Mengenali Luka Masa Kecil yang Memengaruhi Pria Saat Menjalankan Peran sebagai Suami dan Ayah, Seperti Apa?

Cover: Pexels