
Viral video mahasiswa laki-laki PNJ yang kepergok berciuman dengan sesama jenis di area kampus. Cek bagaimana orang tua harus menyikapi dan mencegahnya.
Media sosial kembali diramaikan oleh video yang memperlihatkan seorang mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) berciuman dengan seorang pria di area kampus. Video tersebut memicu beragam reaksi, mulai dari kritik terhadap perilaku yang dilakukan di ruang publik hingga diskusi yang lebih luas mengenai relasi remaja dan peran orang tua dalam mendampingi anak memasuki usia dewasa.
Sebuah video viral memperlihatkan dua laki-laki sedang berciuman di area kampus Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Rekaman tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan menjadi perhatian publik.
Menurut keterangan pihak kampus dan melansir dari detiknews, salah satu pria yang terlihat dalam video merupakan mahasiswa PNJ berinisial ARM atau AZ. Sementara pria lainnya berinisial AW dan diketahui bukan mahasiswa PNJ.
Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa, 2 Juni 2026. Beberapa laporan menyebut lokasi berada di area selasar atau lorong dekat perpustakaan kampus.
Berdasarkan keterangan awal yang beredar, kedua pihak diketahui telah saling mengenal sebelumnya dan bertemu di lingkungan kampus. Namun hingga kini pihak kampus masih melakukan pendalaman terkait kronologi lengkap kejadian tersebut.
Aksi keduanya diketahui setelah direkam oleh mahasiswa lain yang berada di sekitar lokasi. Video tersebut kemudian menyebar di media sosial. Setelah diketahui oleh mahasiswa dan pihak keamanan kampus, keduanya diamankan dan dimintai keterangan oleh pihak kampus.
BACA JUGA: Kesalahan Orang Tua saat Hadapi Anak Pra Remaja, Hindari 3 Hal Ini!
Sebagai orang tua, fokus Mommies dan Daddies mungkin bukan sekadar pada viral atau tidaknya video tersebut. Yang lebih penting adalah memahami bahwa masa remaja hingga awal dewasa merupakan fase ketika anak sedang mencari jati diri, membangun relasi, serta belajar memahami batasan sosial.
Sering kali orang tua baru mengetahui kehidupan pertemanan atau hubungan anak setelah muncul masalah. Padahal, komunikasi yang dibangun sejak dini bisa menjadi benteng penting agar anak merasa aman bercerita tanpa takut dihakimi.

Di tengah ramainya perbincangan, ada baiknya Mommies dan Daddies melihat kasus ini bukan hanya sebagai berita viral, tetapi juga sebagai bahan refleksi tentang bagaimana membangun komunikasi yang sehat dengan anak laki-laki yang sedang bertumbuh. Ini
Saat mengetahui anak terlibat dalam situasi yang membuat keluarga kaget atau malu, reaksi pertama orang tua sangat menentukan. Memarahi, mempermalukan, atau menghakimi biasanya justru membuat anak menutup diri.
Mulailah dengan mencari informasi secara utuh sebelum mengambil kesimpulan.
Berikan kesempatan anak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Gunakan pertanyaan terbuka seperti:
Tujuannya bukan mencari siapa yang salah, tetapi memahami kondisi anak.
Apa pun bentuk relasinya, anak perlu memahami bahwa perilaku di ruang publik memiliki norma dan konsekuensi sosial tertentu.
Orang tua dapat menjelaskan mengenai:
Ketika sebuah kasus menjadi viral, tekanan psikologis yang dialami anak bisa sangat besar.
Anak mungkin mengalami:
Jika diperlukan, jangan ragu mencari bantuan profesional seperti psikolog.
Tidak semua keputusan atau tindakan anak akan sesuai harapan orang tua. Namun rumah tetap perlu menjadi tempat yang aman untuk berdiskusi dan mencari solusi.
Anak yang merasa diterima cenderung lebih terbuka menerima arahan dibanding anak yang merasa terus-menerus dihakimi.

Tidak ada pola asuh yang bisa menjamin anak akan mengambil semua keputusan sesuai harapan orang tua. Namun, Mommies dan Daddies bisa membantu anak memiliki fondasi yang kuat agar lebih bijak dalam membangun relasi.
Anak yang merasa dekat dengan orang tuanya cenderung lebih terbuka saat menghadapi kebingungan, tekanan dari teman sebaya, atau persoalan dalam hubungan.
Kedekatan emosional tidak dibangun lewat nasihat panjang setiap hari, melainkan melalui kebiasaan sederhana seperti mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi dan meluangkan waktu berkualitas bersama.
Setiap keluarga memiliki nilai dan keyakinan masing-masing. Daripada hanya melarang, jelaskan alasan di balik nilai yang dianut keluarga.
Anak biasanya lebih mudah memahami ketika orang tua menjelaskan dengan dialog dibanding sekadar memberikan aturan tanpa penjelasan.
Remaja perlu memahami bahwa hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa hormat, tanggung jawab, kejujuran, dan kemampuan menjaga batasan.
Pendidikan mengenai relasi yang sehat sebaiknya dimulai sebelum anak mulai tertarik secara romantis kepada orang lain.
Media sosial dan internet menjadi salah satu tempat anak belajar tentang hubungan dan identitas diri. Karena itu, orang tua perlu mengetahui platform yang digunakan anak, tanpa harus mengawasi secara berlebihan hingga merusak kepercayaan.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan berdiskusi tentang konten yang mereka konsumsi.
Kegiatan olahraga, organisasi, komunitas, seni, atau aktivitas sosial dapat membantu anak mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan sosial, serta lingkungan pertemanan yang positif.
Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang dilihat setiap hari. Cara orang tua berkomunikasi, menghargai pasangan, dan menyelesaikan konflik akan menjadi pelajaran berharga bagi anak tentang seperti apa hubungan yang sehat.
Pada akhirnya, tujuan utama orang tua bukan mengontrol setiap pilihan anak, melainkan membekali mereka dengan nilai, karakter, dan kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab ketika menghadapi berbagai situasi dalam hidup.
Sering dianggap tabu dan terlalu sensitif untuk dibicarakan dengan anak. Padahal mengajarkan anak soal edukasi seksual sejak dini dan sesuai usianya penting dilakukan. Beberapa manfaatnya seperti:
Di balik ramainya perbincangan publik, kasus mahasiswa PNJ ini mengingatkan orang tua bahwa remaja dan dewasa muda tetap membutuhkan pendampingan orang tua, meski mereka terlihat sudah mandiri.
Mommies dan Daddies mungkin tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam. Namun dengan komunikasi yang hangat, hubungan yang terbuka, dan kepercayaan yang dibangun sejak dini, anak akan lebih nyaman menjadikan orang tua sebagai tempat bercerita saat menghadapi berbagai persoalan hidup.
BACA JUGA: 15 Pertanyaan Terbuka dari Anak untuk Orang Tua Tunggal, Baik untuk Emosi