
Anak mudah marah, menangis, atau frustrasi? Bisa jadi ada kebiasaan orang tua yang tanpa sadar membuat anak sulit mengelola emosi.
Pernah nggak, Mommies, merasa bingung karena anak terlihat mudah marah, gampang frustrasi, atau menangis berlebihan saat menghadapi masalah kecil?
Misalnya saat mainannya rusak, kalah dalam permainan, atau sekadar diminta berhenti bermain gadget. Reaksinya bisa langsung meledak.
Sering kali kita menganggap itu hanya bagian dari fase tumbuh kembang anak. Memang ada benarnya. Namun menurut para ahli, kemampuan anak mengelola emosi ternyata juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya, terutama orang tua.
Tanpa disadari, beberapa kebiasaan yang terlihat sepele justru bisa membuat anak kesulitan memahami, mengekspresikan, dan mengendalikan emosinya dengan sehat.
Kemampuan mengelola emosi atau emotional regulation membantu anak mengenali perasaannya sendiri, mengendalikan impuls, dan menghadapi tantangan dengan lebih baik.
Faktanya, anak tidak otomatis tahu cara mengelola marah, kecewa, sedih, atau frustrasi. Para ahli dari Child Mind Institute menjelaskan bahwa kemampuan mengenali dan memahami emosi perlu dipelajari sejak kecil, dan orang tua punya peran besar dalam proses tersebut. Karena itulah respons kita sehari-hari terhadap perasaan anak bisa memengaruhi cara mereka mengelola emosi saat tumbuh besar.
Artinya, apa yang dilakukan orang tua setiap hari bisa menjadi contoh yang sangat berpengaruh bagi perkembangan emosi anak.
BACA JUGA: 12 Kebiasaan Baik yang Dipelajari Anak dari Orang Tua Sejak Dini, Wajib Dicontohkan!

Mommies, kemampuan mengelola emosi tidak muncul begitu saja. Anak belajar mengenali, memahami, dan mengekspresikan perasaannya dari lingkungan terdekat, terutama dari orang tua. Tanpa disadari, beberapa kebiasaan yang terlihat sepele atau bahkan dilakukan dengan niat baik justru bisa menghambat proses tersebut.
Bukan berarti Mommies atau Daddies harus menjadi orang tua yang sempurna. Namun, mengenali kebiasaan-kebiasaan ini bisa menjadi langkah awal untuk membantu anak tumbuh dengan kemampuan regulasi emosi yang lebih sehat. Kira-kira, ada yang masih sering dilakukan di rumah?
Kalimat seperti:
Mungkin pernah keluar dari mulut kita saat sedang lelah.
Padahal, menurut para ahli, ketika emosi anak langsung ditekan atau dianggap berlebihan, anak bisa belajar bahwa perasaannya tidak penting atau tidak boleh ditunjukkan.
Dalam jangka panjang, mereka mungkin kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosi secara sehat. Sebaliknya, bantu anak memberi nama pada emosinya. Misalnya: “Kakak sedih karena mainannya rusak, ya?”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak memahami apa yang sedang ia rasakan.
Sebagai orang tua, rasanya wajar ingin segera membantu ketika anak kesulitan.
Namun jika setiap masalah langsung diselesaikan oleh orang tua, anak kehilangan kesempatan belajar menghadapi frustrasi.
Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA), anak membutuhkan pengalaman menghadapi tantangan dalam batas yang aman untuk membangun kemampuan mengatasi stres dan mengembangkan ketahanan emosional (resilience).
Sesekali, biarkan anak mencoba mencari solusi dengan pendampingan dari orang tua.
Anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar.
Kalau orang tua mudah meledak, berteriak, atau meluapkan kemarahan tanpa kontrol, anak cenderung meniru pola yang sama.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Development and Psychopathology oleh para peneliti dari University of Cambridge Press, regulasi emosi orang tua memiliki hubungan kuat dengan kemampuan regulasi emosi anak.
Karena itu, mengelola emosi diri sendiri juga merupakan bagian dari mengasuh anak.
Mommies mungkin pernah mengatakan:
Tidak ada yang salah dengan mendorong anak berkembang. Namun jika perhatian orang tua terlalu berpusat pada hasil, anak bisa merasa bahwa dirinya hanya dihargai saat berhasil.
Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap kecemasan, takut gagal, dan sulit menghadapi kekecewaan. Anak juga perlu belajar bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian normal dari proses belajar.

Di banyak keluarga, topik perasaan sering kali jarang dibahas. Padahal kemampuan mengenali emosi berkembang melalui percakapan sehari-hari.
Menurut para ahli dari Harvard Center on the Developing Child, interaksi yang responsif antara orang tua dan anak berperan penting dalam perkembangan kemampuan sosial dan emosional.
Mulailah dari hal sederhana.
Tanyakan: “Hari ini ada hal yang bikin kamu senang?” atau “Apa yang membuat kamu kesal hari ini?”
Kalimat seperti:
Mungkin terdengar sepele. Namun label yang terus-menerus diberikan dapat membentuk cara anak memandang dirinya sendiri.
Alih-alih membantu anak memahami emosinya, label negatif justru membuat mereka merasa ada yang salah dengan dirinya.
Fokuslah pada perilakunya, bukan identitas anak.
Kadang orang tua terlalu cepat ingin membuat anak kembali bahagia.
Saat anak kecewa, sedih, atau marah, kita buru-buru mengalihkan perhatian mereka.
Padahal semua emosi, termasuk emosi yang tidak nyaman, merupakan bagian normal dari kehidupan.
Menurut para ahli dari Yale Center for Emotional Intelligence, anak perlu belajar bahwa marah, sedih, kecewa, atau takut bukanlah emosi yang salah. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana mengekspresikannya dengan cara yang sehat.

Kalau setelah membaca daftar di atas Mommies merasa pernah melakukan satu atau dua hal tersebut, tenang saja. Hampir semua orang tua pernah melakukannya.
Yang terpenting bukan menjadi orang tua yang sempurna, melainkan terus belajar memahami kebutuhan emosional anak seiring pertumbuhannya.
Karena kemampuan mengelola emosi tidak terbentuk dalam semalam. Ia tumbuh dari percakapan sehari-hari, rasa aman yang diberikan orang tua, serta contoh yang dilihat anak setiap hari di rumah.
Dan sering kali, perubahan kecil dari orang tua bisa memberikan dampak besar bagi perkembangan emosi anak di masa depan.
BACA JUGA: 7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tidak Mandiri
Cover: Pexels