
Sebisa mungkin, kondisi dolar menguat jangan sampai membuat ekonomi keluarga berantakan. Kendalikan pengeluaran rumah tangga dan stop beli barang yang nggak perlu.
Belakangan, isu dolar menguat semakin meresahkan masyarakat. Walau sekilas, mungkin kehidupan kita sehari-hari masih terasa aman terkendali. Transaksi untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan, bahan pokok, transportasi, uang sekolah anak, masih cukup lancar. Namun realitasnya, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar berdampak pada ekonomi rumah tangga.
Coba mommies perhatikan. Beberapa bahan kebutuhan pokok mulai naik. Ini salah satu dampak dari dolar menguat. Mungkin naiknya dikit-dikit aja, nggak langsung melonjak. Tetapi, jika diakumulasi, berasa juga. BBM non subsidi sudah naik sejak beberapa minggu lalu. Diprediksi, elektronik dan barang impor juga akan mengalami lonjakan harga. Skincare pun bukan tak mungkin akan kena dampak, mengingat biaya layanan toko online di e-commerce juga ikut naik yang salah satunya sebagai dampak dari menguatnya dolar. Bagi mommies yang menjalankan usaha, juga bisa ikut kena dampak akibat biaya produksi yang naik.
Lalu, bagaimana cara kita mengamankan ekonomi keluarga di tengah kondisi ekonomi global dan nasional yang tidak pasti?
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah, melalui situs Universitas Muhammadiyah Malang mengimbau kepada masyarakat untuk mendunda konsumsi yang tidak mendesak, mengamankan dana darurat dan fokus pada kebutuhan primer. Sebab, kita tidak tahu sampai kapan kondisi ini berlangsung. Jangan sampai ekonomi keluarga yang tadinya hanya terdampak, menjadi terancam akibat pengelolaan keuangan yang salah di situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang ini.
Ini beberapa cara yang bisa mommies lakukan untuk mengamankan ekonomi keluarga di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit.
1. Fokus pada kebutuhan primer
Utamakan kebutuhan pangan, transportasi, sekolah anak-anak dan kebutuhan primer lainnya. Artinya, tahan untuk membeli makanan dan pakaian yang sifatnya tidak mendesak, seperti menyetok camilan banyak-banyak dan membeli pakaian baru demi memenuhi dress code acara.
Baca juga: Dana Pendidikan Anak, Kapan Harus Siapkan? Ini Kata Pakar Keuangan
2. Kendalikan pengeluaran untuk lifestyle
Kalau mommies punya keanggotaan di tiga klub olahraga, bolehlah dipertahankan satu, yang dua lagi ditutup sementara hingga kondisi ekonomi kembali aman. Cobalah beralih ke olahraga yang tidak memerlukan banyak biaya seperti jalan pagi/jogging/lari. Tapi, jangan juga jadi latah beli sepatu dan baju buat lari, ya!
Begitu juga dengan liburan. Jika liburan harus mengocek dana yang belum dipersiapkan sebelumnya, tahan dulu. Coba pilih alternatif liburan yang lebih terjangkau, seperti city tour, mengunjungi perpustakaan nasional, atau wisata alam di Sentul.
3. Belanja di pasar tradisional
Semurah-murahnya belanja sayur di toko online, belanja di pasar tradisional masih lebih murah. Saya udah membuktikan. Beli daun bawang Rp5.000 di pasar tradisional atau tukang sayur bisa dapat seabrek-abrek, sementara di supermarket atau toko online paling dapat setengahnya saja. Dengan belanja di pasar tradisional, kita juga membantu perputaran uang di toko-toko yang belum tersentuh dengan platform digital.
4. Kalau bisa, usahakan lebih sering memasak, ketimbang beli makanan jadi
Paham banget, masak itu butuh waktu dan energi. Buat ibu bekerja, ini terkadang menantang untuk dieksekusi. Sebagai orang yang suka memasak namun sering juga terdesak beli makanan jadi, saya akui, memasak itu jauh lebih hemat dari membeli makanan jadi. Masak yang gampang-gampang aja, bund. Selain hemat, gizi dan kebersihannya pun lebih terjaga.
5. Siapkan dana darurat
”Mau nambah tabungan dari mana, buat sehari-hari aja udah pas-pasan?” Lagi-lagi, pahaaammm banget! Ketika kita sudah berhasil menahan pengeluaran untuk kebutuhan sekunder dan tersier, maka pasti akan ada lebihannya, tho? Maka simpanlah lebihan uang tersebut untuk menambah dana darurat mommies, berapapun besarnya! Ibaratnya, kalau mommies setiap hari nyelengin Rp10.000, sebulan sudah Rp300.000, setahun sudah terkumpul Rp3.600.000. Apa nggak lumayan?
6. Normalisasi makan di tempat makan sederhana
Sekarang banyak warteg, rumah masakan padang, bakmi dan warung makan kecil lainnya yang tempatnya nyaman. Harga tentu jauh lebih murah ketimbang makan di mal atau resto mewah. Apalagi untuk makan siang sehari-hari, tetapkan anggaran maksimum agar pengeluaran terkendali.
7. Beli produk lokal
Beli produk lokal untuk kebutuhan pangan seperti sayur mayur, buah-buahan, pakaian, elektronik dan sebagainya, selain harganya lebih terjangkau karena tidak terkena biaya impor, juga lebih ramah lingkungan (karena jejak karbon lebih sedikit), dan turut mendukung pengusaha kecil.
8. Coba mencari tambahan pemasukan
Punya keterampilan berbahasa, coba jadi penerjemah. Bisa musik? Coba kasih les ke anak-anak. Jago admin? Coba daftar ke situs kerja freelance dan cari pekerjaan administrasi. Sekarang ini, banyak dibutuhkan pekerjaan sebagai data annotator untuk menyediakan jawaban bagi berbagai platform AI juga, lho. Hal yang perlu kita lakukan hanyalah aktif mencari, bertanya dan berjejaring.
9. Bay bay paylater
Buat yang belum pakai paylater, jangan pakai. Buat yang sudah, stop paylater. Prinsipnya, berbelanja ketika uangnya sudah ada. Jika uang belum ada, tunda sampai gajian atau menabung dulu. Hindari kebiasaan berutang. Kalau terbiasa paylater, bisa-bisa gaji bulanan habis buat bayar cicilan paylater. Ini bisa memicu perilaku keuangan yang nggak sehat karena bisa mendorong kebiasaan belanja impulsif.
Selain cara di atas, mungkin mommies punya cara lain untuk menyiasati pengeluaran keluarga di kala dolar menguat? Yuk, berbagi!
Baca juga: 6 Pekerjaan Freelance yang Cocok untuk Para Ibu, Apa Saja?