PCOS Ganti Nama Jadi PMOS, Ini Gejala dan Risiko yang Sering Diremehkan

Parenting & Kids

Mommies Daily・in 5 hours

detail-thumb

PCOS kini berganti nama menjadi PMOS. Apa bedanya dengan PCOS, apa gejalanya, dan siapa yang berisiko mengalaminya? Simak penjelasannya di sini, Mommies! 

PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) kini mulai diperkenalkan dengan istilah baru: PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome). Perubahan nama ini diumumkan lewat konsensus global yang dipublikasikan di jurnal medis The Lancet pada 12 Mei 2026.

Sekilas terdengar seperti sekadar rebranding istilah medis, ya, Mommies? Padahal, perubahan nama ini dianggap penting karena membantu masyarakat memahami kondisi ini dengan lebih tepat.

Lalu sebenarnya kenapa PCOS berganti nama jadi PMOS? Apakah penyakitnya berubah? Dan apa saja tanda-tandanya?

BACA JUGA: Baru Menikah dan Langsung Hamil? Ini 9 Hal Penting yang Wajib Dibahas bareng Suami

Kenapa PCOS Berganti Nama Jadi PMOS?

Mengutip dari Healthline, perubahan nama ini sudah ditunggu selama 14 tahun terakhir oleh kurang lebih 56 organisasi akademis, klinis, dan pasien yang telah berkampanye untuk mengubah nama PCOS.

Selama ini, istilah “polycystic ovary” atau ovarium polikistik dianggap kurang tepat. Pasalnya, tidak semua pasien PCOS memiliki kista di ovarium.

Perubahan nama ini pun bukan sekadar mengganti istilah, tapi supaya diagnosis lebih cepat, pasien nggak diremehkan, dokter bisa melihat kondisi ini sebagai gangguan metabolik seluruh tubuh, dan bukan cuma masalah kista ovarium. Karena itu, nama baru PMOS dinilai lebih mewakili kondisi sebenarnya yang dialami pasien.

Soalnya, efeknya nggak cuma ke ovarium, tapi bisa berpengaruh pada banyak fungsi tubuh, seperti:

  • sistem hormon (endocrine),
  • metabolisme tubuh,
  • fungsi ovarium,
  • kesehatan reproduksi, dan
  • risiko penyakit jangka panjang.

Secara praktik, transisinya masih bertahap dan belum semua guideline atau rumah sakit langsung memakai istilah PMOS.

PCOS Ganti Nama Jadi PMOS: Perbedaan, Gejala, dan Risiko

Foto: Nataliya Vaitkevich/Pexels

Jadi, Apa Bedanya PCOS dan PMOS?

Meski namanya berubah, sampai saat ini kriteria diagnosisnya masih sama seperti PCOS sebelumnya, Mommies. Jadi, bukan berarti pasien lama harus menjalani pemeriksaan ulang dari nol.

Kalau dulu fokusnya lebih ke ovarium dan kista, sekarang perhatian diperluas pada gangguan hormonal dan metabolik yang menyertainya, seperti:

  • resistensi insulin,
  • berat badan yang sulit turun,
  • risiko diabetes tipe 2,
  • kolesterol tinggi,
  • tekanan darah tinggi,
  • hingga gangguan kesehatan mental seperti anxiety dan depresi.

Penting diingat, memiliki satu atau dua gejala di atas belum tentu berarti seseorang mengalami PMOS. Diagnosis tetap perlu dilakukan oleh dokter lewat wawancara medis, pemeriksaan fisik, USG, dan/atau tes hormon tertentu.

Siapa yang Berisiko Mengalami PMOS?

Melansir dari Endocrine, PMOS cukup umum terjadi pada perempuan usia reproduktif. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

1. Riwayat keluarga atau faktor genetik

Kalau ada ibu, kakak, atau saudara perempuan yang mengalami PMOS/PCOS, risikonya bisa lebih tinggi.

2. Resistensi insulin

Tubuh kesulitan menggunakan insulin dengan baik sehingga kadar gula darah meningkat. Kondisi ini cukup sering ditemukan pada pasien PMOS.

3. Berat badan berlebih

Meski PMOS juga bisa dialami perempuan dengan berat badan ideal, obesitas dapat memperparah gejala.

4. Gaya hidup kurang aktif dan tidak sehat

Kurang olahraga dan pola makan tinggi gula serta makanan ultra-proses bisa memperburuk kondisi metabolik.

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Tanda-Tanda Seseorang Mengalami PMOS

Gejalanya bisa berbeda pada tiap orang, sehingga kadang baru terdeteksi setelah bertahun-tahun. Beberapa tanda yang paling umum antara lain:

  • Siklus haid tidak teratur.
  • Jerawat yang sulit hilang.
  • Tumbuh rambut berlebih. Biasanya di wajah, dagu, dada, atau perut.
  • Rambut rontok, polanya mirip kebotakan pada laki-laki.
  • Berat badan mudah naik dan sulit turun meski sudah diet.
  • Sulit hamil karena gangguan ovulasi.
  • Kulit menggelap di area tertentu. Biasanya di leher atau lipatan tubuh, bisa menjadi tanda resistensi insulin.

Selain gejala fisik, banyak pasien juga mengalami mudah cemas, mood swing, depresi, hingga kelelahan kronis. Sayangnya, gejala-gejala ini sering dianggap normal atau cuma efek stres sehari-hari.

Apakah PMOS Bisa Disembuhkan?

Sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan PMOS. Tapi kabar baiknya, gejalanya bisa sangat dikontrol dengan penanganan yang tepat, Mommies.

Biasanya dokter akan menyarankan kombinasi:

  • Perubahan pola makan.
  • Olahraga rutin.
  • Pengelolaan stres.
  • Terapi hormon tertentu.
  • Pengobatan untuk insulin resistance bila diperlukan.

Dan yang paling penting, jangan keburu menyalahkan diri sendiri kalau tubuh terasa nggak normal. Banyak perempuan dengan PMOS baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun dianggap cuma stres, kurang olahraga, atau kebanyakan makan.

BACA JUGA: Perlengkapan Bayi Baru Lahir: Daftar Barang hingga Rekomendasi Produk

Karena sering dianggap cuma hormon atau fase perempuan, banyak kasus PMOS akhirnya terlambat terdeteksi. Jadi, kalau tubuh Mommies terus memberi sinyal yang sama, mungkin memang sudah waktunya diperiksa lebih serius ke dokter.

Cover: Amina Filkins/Pexels