Curhat Guru: Hal-hal yang Sering Dilupakan oleh Orang Tua Murid tentang Anak

Education

Sisca Christina・in 6 hours

detail-thumb

Mari kita simak dan coba pahami sudut pandang guru tentang anak, yang kadang tidak terlintas di benak kita sebagai orang tua murid.

Sebagai orang tua, mungkin kita pernah merasa tidak puas atau bahkan kecewa kepada guru atau sekolah ketika ada masalah dengan anak kita. Nilai anak turun, protes kepada guru. Anak mendapat teguran karena ada masalah perilaku di sekolah, tidak terima. Ketimbang mencoba mendengar duduk perkaranya, langsung buru-buru pasang badan untuk membela anak. Seolah tak percaya anak bakal berulah di sekolah, karena yang kita tahu, anak terbilang tertib jika di rumah. Banyak tugas dibilang membebani, kurang tugas dibilang terlalu santai; dan segudang kekurangan sekolah atau guru di mata orang tua.

Namun, pernah nggak, sih, kita membayangkan, bagaimana repotnya setiap hari guru menghadapi anak-anak kita yang jumlahnya belasan hingga puluhan? Bagaimana mereka mencoba mengobservasi anak per anak, dan memberikan update kepada orang tua? Bagaimana tanggung jawab guru yang sebetulnya tidak hanya mendidik anak secara akademis, namun juga moral?

Setelah mendengarkan cerita beberapa guru, ternyata mereka menemui berbagai tipe orang tua dan dinamika siswa-siswi di sekolah. ”Ada orang tua yang sangat terbuka dan mau belajar, tetapi ada juga yang masih merasa urusan mendidik sepenuhnya tugas sekolah. Padahal tantangan anak zaman sekarang justru makin kompleks. Jadi, kita perlu berpartner dengan orang tua untuk mendidik anak” ujar salah satu guru SMP di salah satu kota di Jawa Tengah.

Yuk, simak selengkapnya sudut pandang guru seputar orang tua murid dan anak didiknya.

Hal-hal yang Sering Dilupakan oleh Orang Tua Murid tentang Anak

1. Orang tua murid dan guru adalah mitra dalam mendidik anak

Saya ingat betul ketika dulu mau mendaftarkan anak pertama ke sekolah dasar. Saat wawancara, saya ditanya begini oleh pihak sekolah: “Bapak dan ibu yakin, mau menyekolahkan anak di sini? Karena kami adalah sekolah yang bermitra dengan orang tua dalam mendidik anak. Kita perlu bekerja sama untuk mendidik anak, dan akan sangat sulit apabila orang tua berharap mengirim anak ke sini, lantas beres.” Bukannya jiper, malah kalimat tersebut membuat saya semakin yakin untuk menyekolahkan anak di sana.

Sayangnya, seorang guru memaparkan, bahwa ia masih kerap menemui orang tua yang lupa bahwa orang tua murid dan guru adalah mitra. Padahal, apabila sekolah dan orang tua bisa jalan bareng dalam mendidik anak, di mana guru mendampingi di sekolah, orang tua mengawal di rumah, jalannya akan lebih indah. Keberhasilan anak biasanya jauh lebih terasa waktu orang tua mau peduli dan terlibat langsung di dalam prosesnya. Karena realitasnya, waktu anak lebih banyak di rumah dibanding di sekolah.

2. Nilai akademis bukan segalanya

Beberapa orang tua juga suka lupa; kalau di sekolah, selain belajar akademis, anak juga belajar bertumbuh secara karakter, mental dan spiritual. Bahkan, ketika terjadi penurunan prestasi belajar, sebetulnya anak juga sedang belajar menerima realitas akan hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi dalam hidupnya. Sejatinya, orang tua dapat merangkul anak dan mengajak diskusi apa yang menjadi kendala anak, dan juga memberi penguatan untuk anak lebih semangat dan terpacu lagi di masa mendatang, ketimbang hanya memarahi anak atau protes terhadap guru.

Baca juga: Anak Pintar Akademik Belum Tentu Berkarakter, Ini Tanda yang Sering Diabaikan Orang Tua

3. Ekspektasi orang tua murid yang terlalu tinggi membuat orang tua terlalu fokus pada hasil, dan gagal melihat dan menghargai usaha anak

Seorang guru bercerita, ”Di sekolah ada seorang anak yang pintar, selalu meraih peringkat pertama. Rupanya, ini adalah tuntutan orang tuanya. Suatu ketika, saat pembagian rapor, sang anak mengalami penurunan satu peringkat. Lalu sang ibu memarahi sang anak di depan wali kelasnya.

Ekspektasi yang tinggi dari sang ibu membuat ia melupakan bahwa anaknya selama ini sudah berusaha melakukan yang terbaik. Keinginan orang tua agar anak selalu mendapat hasil yang sempurna ini juga malah membatasi anak dalam berpendapat.  Sebab, sang anak terkadang merasa tidak percaya diri ketika akan menjawab pertanyaan atau memberikan pendapat, karena khawatir pendapat atau jawabannya akan salah dan nilainya jelek.

Baca juga: Anak Terlihat Berprestasi, Tapi Diam-Diam Stres? Ini Tanda Ekspektasi Orang Tua Berlebihan

4. Anak sedang belajar tanggung jawab, disiplin dan konsekuensi di sekolah, beri ruang kepada guru untuk mengajarkannya kepada anak

Beberapa guru mendapati ketika seorang anak menyakiti temannya, lalu sang teman membalas (memukul), atau anak melanggar peraturan, orang tua tidak terima anak ditegur oleh pihak sekolah. Antara tidak percaya bahwa sang anak akan berperilaku seperti itu, juga tidak terima sang anak dibalas (pukul) oleh temannya.

Terkadang, ego orang tua menghambat orang tua untuk melihat kejadian yang sesungguhnya, dan mengintervensi pihak sekolah dalam menerapkan disiplin di sekolah. Orang tua lupa bahwa melalui kejadian-kejadian tadi, sekolah ingin mengajak anak belajar berempati, cara berelasi dengan orang lain, tanggung jawab, disiplin dan konsekuensi.

”Harapan kami, orang tua bisa memanfaatkan kejadian-kejadian seperti ini untuk mengajak anak berefleksi, alih-alih hanya bersikap reaktif,” papar seorang guru BK di sebuah sekolah swasta di Tangerang Selatan.

5. Anak perlu pendampingan di rumah

Terkadang, orang tua mengira anak di rumah anteng di kamar pegang ponsel, aman. Padahal, dunia digital bisa sangat mengancam bagi anak. Ada anak yang terlalu bebas mengakses ponsel tanpa pendampingan orang tua, lalu terpapar konten yang tidak sesuai usianya, ikut drama media sosial lalu saling sindir (lalu sang guru malah ikut kena sindir oleh orang tua murid), bahkan cyberbullying.

Pendampingan anak di rumah itu sangat penting, apalagi terkait media sosial. Ini bukan perkara membatasi saja, namun sebuah kerja sama antara sekolah dan orang tua. Ketika orang tua dapat melihat teguran bukan sebagai hukuman tapi sebagai bentuk pendampingan, anak justru lebih terbantu bertumbuh.

Gimana, mommies dan daddies, setelah membaca sudut pandang guru tentang orang tua murid, apakah kita makin tersadar bahwa sebetulnya kita ketika kita bergandengan tangan bersama guru dan orang tua lain dalam mendidik anak, kita sedang menjalankan peribahasa it takes a village to raise a child?

Yuk, kelola ego pribadi, perbesar kesadaran, mari bekerja sama dengan guru dan sekolah untuk mencapai tujuan akhir mendidik anak, yaitu agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang utuh, mulia dan mampu bermanfaat bagi dirinya dan berdampak bagi orang lain.

Baca juga: Kapan Orang Tua Harus Berhenti Membantu Tugas Sekolah Anak? Ini Panduannya!

Cover: Image by pressfoto on Magnific