banner-detik
PARENTING & KIDS

7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tidak Mandiri

author

Katharina Mengein 5 hours

7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tidak Mandiri

Tanpa sadar, beberapa kebiasaan orang tua justru membuat anak tidak mandiri dan selalu bergantung. Coba cek apakah masih sering dilakukan di rumah.

Pasti banyak dari Mommies yang saat ini berpikir, “Kenapa, ya, anak sekarang apa-apa harus disuruh dulu?”, ketika melihat anak lupa membereskan mainan, malas menaruh piring kotor, atau bahkan masih menunggu dibantu untuk hal-hal kecil yang sebenarnya sudah bisa dilakukan sendiri.

Padahal sering kali, anak bukan tidak mampu mandiri. Mereka hanya belum terbiasa diberi kesempatan untuk mencoba. Setuju?

Sebab tanpa sadar, banyak orang tua justru terlalu sering membantu, melayani, atau mengambil alih semuanya karena berbagai alasan, mulai dari karena terlalu sayang anak, sedang buru-buru, atau nggak tega melihat anak kesulitan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan American Psychological Association (APA), pola parenting yang terlalu overcontrolling atau sering disebut helicopter parenting bisa membuat anak lebih sulit belajar mengatur emosi dan menyelesaikan masalah sendiri.

Padahal, anak sebenarnya perlu diberi kesempatan mencoba, melakukan kesalahan kecil, dan belajar bertanggung jawab sesuai usianya supaya rasa percaya dirinya ikut tumbuh.

BACA JUGA: Tanggung Jawab Anak Sesuai Usia: Daftar Tugas di Rumah dari Balita hingga Remaja

7 Kebiasaan Orang Tua yang Tanpa Sadar Membuat Anak Tidak Mandiri

Foto: Pexels

Nah, coba cek apakah beberapa kebiasaan berikut masih sering dilakukan di rumah, Mommies.

1. Terlalu Sering Membantu Hal yang Sebenarnya Bisa Dilakukan Anak

Karena ingin cepat atau kasihan, orang tua kadang terbiasa:

  • memakaikan sepatu,
  • membereskan tas,
  • mengambilkan minum,
  • atau merapikan tempat tidur anak.

Padahal semakin sering semua kebutuhan anak dibantu, mereka jadi makin terbiasa menunggu bantuan.

Sesekali membantu tentu tidak masalah. Namun kalau semua selalu diambil alih, anak jadi kurang belajar menyelesaikan kebutuhan sederhananya sendiri.

2. Tidak Memberi Anak Tugas Rumah Sama Sekali

Masih banyak orang tua yang berpikir, “Anak kecil nggak usah urusin kerjaan rumah dulu.”

Padahal tugas rumah sederhana justru membantu anak belajar:

  • tanggung jawab,
  • disiplin,
  • dan rasa memiliki terhadap rumah.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology juga menjelaskan bahwa keterlibatan anak dalam aktivitas membantu di rumah berkaitan dengan perkembangan perilaku prososial dan rasa tanggung jawab sejak dini.

Tugasnya pun tidak harus berat. Anak bisa mulai dari:

  • membereskan mainan,
  • membawa piring kotor ke dapur,
  • atau menyiram tanaman.

Justru dari kebiasaan kecil seperti ini, anak belajar bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas orang tua.

3. Takut Anak Berantakan atau Lama Mengerjakan Sesuatu

Ini salah satu hal paling relatable dan banyak dirasakan orang tua lainnya.

Kadang orang tua memilih mengerjakan semuanya sendiri karena merasa:

  • hasil anak kurang rapi,
  • lebih lama mengerjakan tugas,
  • atau malah bikin tambah capek.

Padahal proses belajar memang sering berantakan di awal.

Anak tidak langsung bisa melipat baju dengan rapi atau menyapu bersih dalam sekali coba. Mereka perlu proses dan latihan berulang.

4. Terlalu Perfeksionis saat Anak Membantu

“Aduh, salah lagi.”
“Nyapunya masih kotor.”
“Lipatannya nggak rapi.”

Komentar seperti ini mungkin terdengar biasa. Namun kalau terlalu sering, anak bisa merasa usahanya tidak pernah cukup baik.

Akibatnya, mereka jadi takut mencoba, mudah menyerah, atau memilih berhenti membantu sama sekali.

Menurut psikoterapis Amy Morin, anak perlu belajar menghadapi kesalahan dan tantangan kecil supaya mentalnya lebih kuat dan percaya dirinya berkembang. Dalam artikelnya di CNBC Make It, Amy menjelaskan bahwa anak yang terbiasa mencoba hal sulit dan belajar dari kesalahan akan lebih siap menghadapi tantangan saat besar nanti.

Karena itu, saat anak membantu di rumah, fokus utama sebenarnya bukan hasil yang langsung sempurna, tetapi proses mereka belajar mandiri.

5. Menganggap Nilai Akademis Lebih Penting daripada Life Skill

Jadwal anak sekarang sering penuh dengan berbagai aktivitas, mulai dari sekolah, les, eskul, sampai kursus tambahan.

Namun ironisnya, tidak sedikit anak yang belum terbiasa:

  • menyiapkan kebutuhan sekolah sendiri,
  • mencuci tempat makan,
  • atau merapikan kamar.

Padahal life skill sederhana juga penting untuk membantu anak lebih mandiri saat dewasa nanti.

6. Membiasakan Anak Selalu Dilayani

Tanpa sadar, beberapa orang tua terbiasa melayani semua kebutuhan anak bahkan saat mereka sebenarnya sudah mampu melakukannya sendiri.

Mulai dari:

  • mengambilkan barang,
  • membawakan tas,
  • sampai membereskan semua barang bekas anak.

Kalau terus dibiasakan, nantinya anak jadi sulit memahami bahwa setiap anggota keluarga juga punya tanggung jawab di rumah.

7. Tidak Konsisten dengan Aturan

Hari ini anak diminta membereskan mainan. Besok dibiarkan karena orang tua sedang lelah. Akhirnya anak bingung mana aturan yang benar-benar penting.

Padahal membangun kebiasaan mandiri biasanya membutuhkan pengulangan, konsistensi, dan rutinitas yang dilakukan terus-menerus.

Anak Mandiri Bukan Berarti Harus Bisa Semuanya Sendiri

Foto: Pexels

Jadi, mengajarkan anak mandiri bukan berarti membuat mereka terbebani pekerjaan rumah sejak kecil, ya, Mommies.

Tujuannya justru supaya anak jadi lebih percaya diri, terbiasa bertanggung jawab, dan tahu bahwa semua anggota keluarga punya peran di rumah.

Karena pada akhirnya, anak yang sering diberi kesempatan mencoba biasanya akan tumbuh lebih siap menghadapi kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA: 6 Tugas Sederhana Sepulang Sekolah yang Bantu Anak Lebih Mandiri

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan