
Terlalu sering self reward bisa jadi boros. Berikut penjelasan menurut financial planner, lengkap dengan tips dan contoh mengatur budget-nya.
Apakah Mommies tipikal orang yang setiap mau jajan bilangnya self reward? Pernahkan Mommies merasa boncos padahal baru saja mengeluarkan uang untuk diri sendiri? Padahal, bentuk apresiasi diri ini seharusnya memuaskan hati, bukan bikin stres setelah lihat saldo rekening.
Apa saja bentuk self reward? Misalnya, pergi ke konser artis favorit, liburan ke luar daerah, belanja barang mahal yang sudah diinginkan sejak lama, dan seterusnya. Tentunya, bentuk apresiasi diri setiap orang bisa berbeda-beda. Mommies sendiri suka seperti apa?
Namun, ada kesalahan umum yang bikin banyak orang jadi boros saat mengapresiasi diri. Padahal, ada hal-hal yang perlu diperhatikan supaya apresiasi diri tetap sehat secara finansial. Untuk itu, Mommies Daily berkesempatan bertanya kepada F. D. V. Wulandari, CFP., Financial Planner dari QM Financial.
BACA JUGA: Financial Boudaries: 10 Cara Menolak Keluarga Pinjam Uang Tanpa Merusak Hubungan

Jika diterjemahkan, self reward artinya penghargaan diri. Istilah ini diasosiasikan dengan tindakan mengapresiasi diri untuk mengakui kerja keras, usaha, atau pencapaian pribadi.
Menurut Wulandari, self reward berarti hadiah yang diberikan kepada diri sendiri karena sudah melakukan sesuatu yang spesial atau telah mencapai target tertentu.
Apa manfaatnya? Self reward dilakukan untuk memberi semangat kepada diri sendiri, mengurangi stres, atau menghargai progres dan pencapaian yang telah diraih.
Wulandari mengatakan bahwa mengapresiasi diri itu bersifat positif dan seharusnya dilakukan setelah mencapai target atau hal tertentu sehingga lebih terencana dan mindful. Sedangkan, tindakan impulsif cenderung bersifat emosional karena tidak direncanakan dan dilakukan tanpa alasan tertentu.
Tindakan impulsif sering kali terjadi secara spontan mengikuti keinginan sesaat. Siapa, nih, Mommies yang sering begini?
Sebelum jajan secara impulsif, pertimbangkan lagi apakah itu kebutuhan atau sekadar keinginan. Jangan sampai niatnya apresiasi diri, tetapi malah membebani diri sendiri karena kondisi kantong jadi jebol.
Kapan self reward berubah jadi boros? Menurut Wulandari, ada tiga hal yang perlu diperhatikan jika tidak ingin boncos, yaitu:
Dari hal-hal itu, mana yang paling relate bagi Mommies?
Intinya, mengeluarkan dana untuk apresiasi juga perlu memiliki anggaran khusus supaya dana untuk kebutuhan lain tidak ikut terpakai. Memberikan hadiah untuk diri sendiri boleh saja, tetapi maknanya bisa hilang jika dilakukan terlalu sering, apalagi tanpa alasan yang jelas.

Nah, bagaimana cara mengatur keuangan untuk self reward supaya apresiasi diri tetap terpenuhi tanpa bikin kantong kering?
“Pastinya harus lihat anggaran dan kemampuan diri,” sebut Wulandari. “Misalnya self reward menggunakan sebagian uang bonus atau THR, atau mengambil bagian dari pos biaya pribadi atau lifestyle dengan jumlah sekian persen.”
Wulandari juga memberikan penjelasan lebih lanjut. Idealnya, budget gaya hidup atau lifestyle berjumlah maksimal 20% dari gaji atau pendapatan.
Contohnya, Mommies punya gaji Rp10 juta. Dari nominal tersebut, sebanyak 20% disisihkan untuk lifestyle. Artinya, Mommies punya budget Rp2 juta untuk gaya hidup. Nah, budget untuk apresiasi diri bisa diatur sebanyak 50% dari Rp2 juta tersebut, atau Mommies bisa menyesuaikan persentasenya sesuai kebutuhan dan kondisi finansial pribadi.
Itu dia contoh mengatur budget untuk self reward menurut financial planner.
In this economy, kita memang perlu lebih mindful dalam urusan uang. Namun, jangan terlalu pelit kepada diri sendiri juga. Intinya, keluarkan uang sesuai dengan keadaan finansial pribadi.
Jika memang lagi nggak memungkinkan atau dirasa bakal boncos, tahan-tahan dulu, Mommies. Dengan begitu, bentuk apresiasi diri ini benar-benar bisa menyenangkan hati.
BACA JUGA: Cara Bangun Capsule Wardrobe agar Tidak Impulsif Beli Baju Baru
Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: jcomp/Magnific