
Penyebab bau badan pada remaja ternyata bukan cuma pubertas. Ini 7 kebiasaan sehari-hari yang bikin anak makin bau badan dan sering nggak disadari orang tua.
Siapa Mommies yang pernah tiba-tiba mencium aroma “asem khas anak sekolah” begitu anak pulang les atau olahraga? Tenang, Mommies nggak sendirian.
Saat anak mulai masuk masa pubertas, perubahan hormon memang membuat tubuh jadi lebih mudah berkeringat dan memicu aroma tubuh yang lebih kuat.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Communications Chemistry menemukan bahwa aroma tubuh remaja memang berubah setelah pubertas. Peneliti menemukan adanya senyawa tertentu pada bau badan remaja yang tidak ditemukan pada anak kecil.
Namun, bukan cuma hormon yang jadi penyebabnya, lho. Ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang diam-diam bikin aroma tubuh remaja makin kuat, bahkan ketika anak sudah mandi dua kali sehari.
Masalahnya, banyak remaja merasa dirinya sudah bersih hanya karena mandi, padahal ada kebiasaan kecil yang sering terlewat dan membuat bakteri penyebab bau badan terus berkembang.
Nah, supaya nggak makin bikin anak minder atau nggak percaya diri di sekolah, coba cek beberapa kebiasaan berikut ini, Mommies.
BACA JUGA: 12 Rekomendasi Produk Ampuh Atasi Bau Badan untuk Remaja, Harga Mulai Rp11 Ribu!
Ini dia penyebab bau badan pada remaja yang sering nggak disadar. Mommies bisa cek apakah beberapa kebiasaan berikut masih sering dilakukan anak remaja di rumah.

Ini salah satu penyebab paling sering tapi suka nggak disadari remaja, yaitu jarang ganti pakaian setelah berkeringat.
Setelah olahraga, ekskul, atau aktivitas seharian di sekolah, pakaian lembap jadi tempat favorit bakteri berkembang biak. Akibatnya, meski tubuh sudah mandi, aroma kurang sedap masih akan menempel di baju.
Kadang anak remaja juga suka “mengakali” dengan menyemprot parfum ke seragam yang sebenarnya sudah bau. Padahal kombinasi keringat dan parfum justru bisa bikin aromanya makin aneh.
Kalau anak sudah mulai aktif dan gampang berkeringat, penting banget untuk membiasakan:
Mungkin kelihatannya sepele, tetapi handuk yang jarang dijemur bisa jadi sarang bakteri dan jamur, lho.
Banyak remaja punya kebiasaan menggantung handuk di kamar tanpa benar-benar kering. Akibatnya, setelah mandi tubuh malah terkena bakteri dari handuk lembap tersebut.
Kalau sudah begini, aroma tubuh bisa lebih cepat muncul meski anak merasa tubuhnya sudah bersih.
Idealnya, Mommies ajarkan anak remaja untuk menerapkan kebiasaan ini:

Kebiasaan yang satu ini juga cukup sering terjadi, terutama pada anak yang baru masuk SMP atau SMA.
Sudah capek latihan basket, futsal, dance, atau renang, maunya langsung rebahan di sofa atau kamar. Padahal keringat yang dibiarkan terlalu lama bisa memicu pertumbuhan bakteri penyebab bau badan.
Yang perlu dipahami, sebenarnya keringat itu nggak berbau, ya. Bau muncul saat keringat bercampur dengan bakteri di kulit. Makanya, mandi setelah olahraga penting banget, terutama di area ketiak, lipatan tubuh, kaki, dan punggung.
Kalau kamar anak mulai punya aroma “misterius”, coba Mommies segera cek sepatunya.
Sepatu yang dipakai hampir setiap hari tanpa dijemur bisa menyimpan kelembapan dan bakteri penyebab bau kaki. Apalagi kalau anak sangat aktif seharian di sekolah.
Kadang sumber aroma kurang sedap bukan dari tubuh, tetapi dari:
Biasakan anak untuk:

Tidak sedikit orang tua yang lupa kalau makanan juga bisa memengaruhi aroma tubuh.
Makanan tinggi gula, junk food, gorengan, sampai minuman manis berlebihan bisa membuat produksi keringat meningkat dan memengaruhi bau tubuh.
Beberapa makanan dengan aroma tajam seperti bawang juga bisa memicu bau badan lebih kuat pada sebagian orang.
Bukan berarti anak nggak boleh jajan sama sekali, ya. Namun tetap perlu diimbangi dengan:
Begitu mulai sadar kalau tubuhnya bau, banyak remaja langsung memakai produk apa saja yang viral atau dipakai temannya. Padahal belum tentu semua deodoran cocok untuk kulit remaja yang cenderung masih sensitif.
Ada juga anak yang memakai deodoran terlalu sedikit, lupa re-apply, atau justru memakai terlalu banyak sampai iritasi. Padahal yang paling penting sebenarnya bukan membuat ketiak wangi menyengat, tetapi menjaga area ketiak tetap bersih dan kering.
Kalau anak baru mulai pubertas, pilih deodoran dengan formula ringan dan nyaman dipakai sehari-hari.
Ini mungkin jadi hal yang paling sering dirasakan remaja, tapi jarang dibicarakan.
Banyak dari mereka sebenarnya sadar bahwa dirinya mulai bau badan, tetapi malu membicarakannya, terlebih ke orang tua. Akhirnya mereka memilih diam meski mulai dijauhi teman atau merasa tidak percaya diri di sekolah.
Di fase pubertas seperti ini, cara orang tua menyampaikan juga penting banget. Hindari melakukan beberapa hal ini:
Coba ajak remaja ngobrol santai dan fokus pada kebersihan tubuh, bukan mempermalukan anak. Karena buat remaja, komentar kecil soal bau badan bisa sangat memengaruhi rasa percaya diri mereka.

Saat pubertas, tubuh mulai mengaktifkan kelenjar apokrin yang menghasilkan keringat lebih banyak. Ketika keringat bercampur dengan bakteri di kulit, muncullah aroma tubuh yang lebih kuat dibanding masa anak-anak.
Menurut Cleveland Clinic, bau badan mulai muncul saat masa pubertas karena kelenjar apokrin menjadi lebih aktif akibat perubahan hormon.
Pubertas memang bikin tubuh anak mengalami banyak perubahan, termasuk soal bau badan. Jadi kalau anak mulai lebih gampang berkeringat atau aromanya berubah, itu sebenarnya normal.
Hal yang paling penting adalah membantu anak membangun kebiasaan menjaga kebersihan tubuh sejak dini tanpa membuat mereka merasa malu.
Buat orang dewasa, bau badan mungkin terdengar seperti masalah sepele. Tapi buat remaja yang sedang belajar percaya diri, hal kecil seperti ini bisa sangat memengaruhi perasaan mereka di sekolah maupun lingkungan pertemanan.
Karena itu, selain membantu anak menjaga kebersihan tubuh, penting juga untuk memastikan mereka merasa didukung dan nggak dipermalukan selama menjalani masa pubertasnya.
BACA JUGA: 6 Rekomendasi Penghilang Bau Badan Alami dan Ramah Lingkungan
Cover: Magnific