
Kasus siswa Samarinda membuka perhatian soal bahaya memakai sepatu kekecilan. Ketahui risiko kesehatan, dampaknya pada kaki, dan cara memilih sepatu yang tepat.
Berita duka lagi-lagi datang dari dunia pendidikan. Buat Mommies yang belum tahu, beberapa hari ini media sosial ramai dengan berita seorang siswa yang meninggal dunia karena mengalami penurunan kesehatan akibat sepatu kekecilan.
Setelah ditelusuri, banyak sumber yang mengatakan karena ia memakai sepatu kekecilan untuk waktu yang lama. Apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut bisa menyebabkan kematian?
Dikutip dari detikEdu, seorang siswa SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur bernama Mandala Rizky Saputra meninggal dunia pada 24 April 2026. Berdasarkan keterangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, siswa tersebut mengalami penurunan kondisi fisik dan kaki yang membengkak.
Sebelum kepergiannya, Mandala sempat menyampaikan keinginannya untuk dibelikan sepatu baru. Namun, sang ibu tidak bisa memenuhi itu lantaran belum mampu. Berikut kronologinya:
Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Mandala harus memakai sepatu yang kekecilan. Ia mengenakan sepatu ukuran 40 ketika harusnya ia memakai sepatu ukuran 43–44. Selain itu, masa PKL-nya sebagai pramuniaga perlu stamina fisik yang tinggi. Keluarga Mandala juga dikabarkan bukan penerima bantuan sosial pemerintah.
Sekolah juga sudah memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah, seragam, sembako, hingga bantuan uang sewa kontrakan.
Apakah benar karena sepatu kekecilan? Sejauh ini, belum ada diagnosis medis yang mengiyakan penyebab kematiannya terkait sepatu sempit. Meski begitu, dikutip dari CNN Indonesia, memakai sepatu yang tidak pas memang bisa memicu masalah kesehatan.

Lantas, kenapa memakai sepatu yang sempit bisa bermasalah pada kesehatan? Menurut artikel di Journal of Foot and Ankle Research, sepatu yang tidak pas berkaitan dengan nyeri kaki dan gangguan atau kelainan pada kaki. Selain bisa bikin lecet dan kapalan, sepatu sempit juga bisa menyebabkan kelainan bentuk kaki dan mata ikan.
Melansir CNN Indonesia dan sumber lainnya, berikut beberapa risiko memakai sepatu kekecilan:
Selain bikin nggak nyaman, dampak memakai sepatu kekecilan bisa terjadi kepada siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.
Supaya hal ini nggak terjadi lagi ke depannya, apa yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh orang tua, sekolah, dan pemerintah?
Melihat adanya kaitan erat dengan sepatu kekecilan, Mommies bisa mulai dari sana, yaitu lebih aware dengan ukuran dan kenyamanan sepatu yang dipakai anak. Apalagi mereka masih proses bertumbuh, mencari sepatu yang nyaman dan pas tentu jadi ideal supaya masalah kesehatan nggak muncul.
Jika ada murid dengan ekonomi yang terbatas, sekolah bisa berupaya mengeluarkan bantuan berupa hal-hal yang dibutuhkan murid tersebut. Dalam kasus ini, pihak sekolah tampak sudah memberikan bantuan yang diperlukan oleh Mandala dan keluarganya.
Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam kasus Mandala, keluarganya tidak terdaftar dalam penerima bansos pemerintah sehingga tidak bisa mengakses bantuan pendidikan.
Menurut Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, negara harus hadir secara nyata dalam memastikan setiap anak berhak mengenyam pendidikan di lingkungan yang memadai dan aman. Dengan kementerian atau lembaga terkait, ia memastikan untuk mengevaluasi sistem dan ketepatan sasaran program bantuan sosial pemerintah.
Setelah mengetahui risiko memakai sepatu yang tidak pas, yuk, ingat-ingat lagi cara memilih bentuk sepatu yang baik untuk kesehatan kaki. Datang langsung dari Dr. Kevin Koo, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat membeli sepatu, seperti dikutip dari HealthXchange:
Mommies pernah nemu sepatu yang panjang dan lebarnya sudah pas, eh, bagian jari-jemarinya sempit? Nah, saat memilih sepatu, Dr. Kevin menyarankan untuk mulai dari bagian depan atau toe box, tempat jari-jemari kaki bersandar. Pilih yang lebarnya sesuai alias bisa menampung semua jari dengan leluasa. Pastikan juga panjangnya cukup.
Bagian sol tengah tidak boleh terlalu lentur dan harus mampu memberikan sanggaan (support) yang memadai bagi lengkungan telapak kaki. Jika sol tengah bisa terlipat dua dengan mudah, berarti sepatu itu terlalu lunak dan kemungkinan besar tidak bisa memberikan dukungan yang cukup untuk berjalan.
Penyangga tumit (heel counter) adalah bagian tempat tumit kaki bersandar. Bagian ini harus kokoh dan tidak menekuk ke dalam saat ditekan, supaya memberikan stabilitas yang cukup saat berjalan.
Banyak orang yang memakai sepatu sneakers untuk sehari-hari. Memang, sepatu yang tertutup atau dengan tali pengikat memberikan dukungan yang lebih baik bagi kaki.
Nah, supaya ketemu sepatu yang ukurannya lebih akurat, Mommies bisa coba dengan sambil menggunakan kaus kaki.
Jika anak Mommies aktif, pilihlah sepatu olahraga atau sneakers untuk aktivitas luas ruangan dibandingkan menggunakan sandal jepit atau sandal biasa.
BACA JUGA: Waspada Burnout Anak Sekolah! Psikolog Ungkap Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan
Semoga duka ini menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih teliti dalam menjamin kelayakan fasilitas pendukung pendidikan, termasuk dalam hal keamanan alas kaki.