banner-detik
EDUCATION

Kisah Siswa Samarinda, Ini Bahaya Memakai Sepatu Kekecilan

author

Mommies Dailyin 5 hours

Kisah Siswa Samarinda, Ini Bahaya Memakai Sepatu Kekecilan

Kasus siswa Samarinda membuka perhatian soal bahaya memakai sepatu kekecilan. Ketahui risiko kesehatan, dampaknya pada kaki, dan cara memilih sepatu yang tepat. 

Berita duka lagi-lagi datang dari dunia pendidikan. Buat Mommies yang belum tahu, beberapa hari ini media sosial ramai dengan berita seorang siswa yang meninggal dunia karena mengalami penurunan kesehatan akibat  sepatu kekecilan.

Setelah ditelusuri, banyak sumber yang mengatakan karena ia memakai sepatu kekecilan untuk waktu yang lama. Apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut bisa menyebabkan kematian?

Kronologi dan Penyebab Kematian: Apakah karena Sepatu Kekecilan?

Dikutip dari detikEdu, seorang siswa SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur bernama Mandala Rizky Saputra meninggal dunia pada 24 April 2026. Berdasarkan keterangan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, siswa tersebut mengalami penurunan kondisi fisik dan kaki yang membengkak. 

Sebelum kepergiannya, Mandala sempat menyampaikan keinginannya untuk dibelikan sepatu baru. Namun, sang ibu tidak bisa memenuhi itu lantaran belum mampu. Berikut kronologinya:

  • 9 Februari–20 Maret: Mandala mengikuti praktik kerja lapangan (PKL) sebagai pramuniaga yang membuatnya harus berdiri lama.
  • 30 Maret: Mandala sudah kembali mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Namun, esok harinya kondisi tubuh Mandala nge-drop dan disarankan sekolah untuk pulang dan istirahat. Sejak itu, Mandala izin tidak masuk sekolah karena sakit.
  • 8 April: Via pesan WhatsApp, pihak keluarga (di sini sang ibu) meminta bantuan ke sekolah melalui kelas untuk meminjam uang. Wali kelas pun mengundang ibu Mandala datang ke sekolah untuk koordinasi lebih lanjut.
  • 10 April: Ibu Mandala memenuhi undangan itu dan datang ke sekolah. Ia menyampaikan bahwa kondisi kesehatan Mandala memburuk. Sekolah pun membantu mengeluarkan biaya sebesar Rp1,1 juta untuk pengobatan Mandala.
  • 21 April: Sekolah mengunjungi rumah Mandala dan menemukan kondisinya yang lemas dan kakinya yang membengkak. Melihat itu, guru SMKN 4 Samarinda menyarankan agar Mandala dibawa ke fasilitas kesehatan. Namun, keluarga Mandala enggan ke sana karena masalah ekonomi dan adanya tunggakan sebesar Rp2,4 juta. Akhirnya, sekolah turun tangan mengurus BPJS Mandala.
  • Dua hari setelahnya, sekolah kembali mengunjungi rumah Mandala untuk memantau kondisinya. Saat itu, orang tua dan siswa bilang bahwa kondisi Mandala sempat membaik dan bengkak pada kakinya mengempes. Pihak sekolah pun hendak membelikan sepatu untuk Mandala yang sesuai ukuran.
  • 24 April: Esoknya, Mandala dikabarkan meninggal dunia oleh keluarga.

Keterbatasan ekonomi keluarga membuat Mandala harus memakai sepatu yang kekecilan. Ia mengenakan sepatu ukuran 40 ketika harusnya ia memakai sepatu ukuran 43–44. Selain itu, masa PKL-nya sebagai pramuniaga perlu stamina fisik yang tinggi. Keluarga Mandala juga dikabarkan bukan penerima bantuan sosial pemerintah.

Sekolah juga sudah memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah, seragam, sembako, hingga bantuan uang sewa kontrakan.

Apakah benar karena sepatu kekecilan? Sejauh ini, belum ada diagnosis medis yang mengiyakan penyebab kematiannya terkait sepatu sempit. Meski begitu, dikutip dari CNN Indonesia, memakai sepatu yang tidak pas memang bisa memicu masalah kesehatan.

Bahaya Memakai Sepatu Kekecilan

Foto: RDNE Stock project/ Pexels

Risiko dan Bahaya Memakai Sepatu Kekecilan

Lantas, kenapa memakai sepatu yang sempit bisa bermasalah pada kesehatan? Menurut artikel di Journal of Foot and Ankle Research, sepatu yang tidak pas berkaitan dengan nyeri kaki dan gangguan atau kelainan pada kaki. Selain bisa bikin lecet dan kapalan, sepatu sempit juga bisa menyebabkan kelainan bentuk kaki dan mata ikan. 

Melansir CNN Indonesia dan sumber lainnya, berikut beberapa risiko memakai sepatu kekecilan:

  • Bunion (benjolan pada sendi ibu jari): Memakai sepatu yang kecil dan ketat membuat jari-jemari kaki saling berhimpitan, tekanan tersebut mengakibatkan munculnya benjolan pada pangkal jempol kaki yang jika semakin besar semakin nyeri.
  • Hammer Toe (jari kaki menekuk tidak normal): Kondisi jari kaki yang menekuk tidak wajar karena memakai sepatu yang terlalu pendek atau sempit.
  • Metatarsalgia: Peradangan dan nyeri pada telapak kaki bagian depan karena aktivitas fisik yang tinggi, sepatu tidak pas, atau faktor fisik tertentu.

Selain bikin nggak nyaman, dampak memakai sepatu kekecilan bisa terjadi kepada siapa saja, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua, Sekolah, dan Pemerintah?

Supaya hal ini nggak terjadi lagi ke depannya, apa yang bisa dipelajari dan dilakukan oleh orang tua, sekolah, dan pemerintah?

Orang Tua

Melihat adanya kaitan erat dengan sepatu kekecilan, Mommies bisa mulai dari sana, yaitu lebih aware dengan ukuran dan kenyamanan sepatu yang dipakai anak. Apalagi mereka masih proses bertumbuh, mencari sepatu yang nyaman dan pas tentu jadi ideal supaya masalah kesehatan nggak muncul.

Sekolah

Jika ada murid dengan ekonomi yang terbatas, sekolah bisa berupaya mengeluarkan bantuan berupa hal-hal yang dibutuhkan murid tersebut. Dalam kasus ini, pihak sekolah tampak sudah memberikan bantuan yang diperlukan oleh Mandala dan keluarganya.

Pemerintah

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam kasus Mandala, keluarganya tidak terdaftar dalam penerima bansos pemerintah sehingga tidak bisa mengakses bantuan pendidikan.

Menurut Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, negara harus hadir secara nyata dalam memastikan setiap anak berhak mengenyam pendidikan di lingkungan yang memadai dan aman. Dengan kementerian atau lembaga terkait, ia memastikan untuk mengevaluasi sistem dan ketepatan sasaran program bantuan sosial pemerintah.

Cara Pilih Bentuk Sepatu yang Ideal untuk Kesehatan Kaki

Setelah mengetahui risiko memakai sepatu yang tidak pas, yuk, ingat-ingat lagi cara memilih bentuk sepatu yang baik untuk kesehatan kaki. Datang langsung dari Dr. Kevin Koo, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan saat membeli sepatu, seperti dikutip dari HealthXchange:

1. Bagian Depan Bisa Menampung Seluruh Jari Kaki

Mommies pernah nemu sepatu yang panjang dan lebarnya sudah pas, eh, bagian jari-jemarinya sempit? Nah, saat memilih sepatu, Dr. Kevin menyarankan untuk mulai dari bagian depan atau toe box, tempat jari-jemari kaki bersandar. Pilih yang lebarnya sesuai alias bisa menampung semua jari dengan leluasa. Pastikan juga panjangnya cukup.

2. Bagian Sol Tengah Harus Bisa Support Lengkungan Kaki

Bagian sol tengah tidak boleh terlalu lentur dan harus mampu memberikan sanggaan (support) yang memadai bagi lengkungan telapak kaki. Jika sol tengah bisa terlipat dua dengan mudah, berarti sepatu itu terlalu lunak dan kemungkinan besar tidak bisa memberikan dukungan yang cukup untuk berjalan.

3. Perhatikan Penyangga Tumit

Penyangga tumit (heel counter) adalah bagian tempat tumit kaki bersandar. Bagian ini harus kokoh dan tidak menekuk ke dalam saat ditekan, supaya memberikan stabilitas yang cukup saat berjalan.

4. Model dan Keamanan

Banyak orang yang memakai sepatu sneakers untuk sehari-hari. Memang, sepatu yang tertutup atau dengan tali pengikat memberikan dukungan yang lebih baik bagi kaki.

5. Kebersihan dan Fitting 

Nah, supaya ketemu sepatu yang ukurannya lebih akurat, Mommies bisa coba dengan sambil menggunakan kaus kaki.

6. Sepatu untuk Anak

Jika anak Mommies aktif, pilihlah sepatu olahraga atau sneakers untuk aktivitas luas ruangan dibandingkan menggunakan sandal jepit atau sandal biasa.

BACA JUGA: Waspada Burnout Anak Sekolah! Psikolog Ungkap Tanda-Tanda yang Sering Diabaikan

Semoga duka ini menjadi momentum bagi kita semua untuk lebih teliti dalam menjamin kelayakan fasilitas pendukung pendidikan, termasuk dalam hal keamanan alas kaki.

Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: Magnific

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan